GSMP: Gerakan Ketahanan Pangan yang Menolak Ketergantungan
Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) adalah sebuah gerakan ketahanan pangan yang dirancang pemerintah daerah untuk mengubah rumah tangga rentan dari penerima bantuan menjadi keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri sambil menciptakan nilai ekonomi lewat usaha pangan mandiri di tingkat akar rumput.
Kunci GSMP bukan pada jumlah bantuan, tetapi pada pergeseran pola pikir: dari menunggu distribusi sembako menjadi mengelola lahan, ternak, dan pangan rumah tangga sebagai sumber pendapatan. Sejak berjalan pada 2021, program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Ini menjadikan GSMP lebih tepat dibaca sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat pertanian, bukan sekadar program karitatif. Saat Ngopi Bareng GSMP di kantor perwakilan bank sentral daerah pada 14 September 2026, Wakil Gubernur menegaskan bahwa GSMP harus “naik kelas” agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi pelaku yang memanfaatkan kemandirian pangan lokal untuk menambah penghasilan.
Dari Program Bantuan ke Gerakan Pemberdayaan
Transformasi GSMP dari program bantuan ke gerakan pemberdayaan bukan slogan manis, melainkan tuntutan desain kebijakan. Wakil Gubernur menegaskan, GSMP tidak boleh berhenti sebagai program bantuan semata dan harus berkembang dari program bantuan menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang mampu menciptakan kemandirian pangan sekaligus nilai ekonomi. Artinya, hibah bibit, ternak, atau sarana produksi hanyalah pintu masuk; yang menentukan hasil adalah pendampingan, koordinasi, dan ruang bagi warga untuk menjadi pengusaha kecil di sektor pangan.
Di forum Ngopi Bareng GSMP yang dikemas santai, Cik Ujang menempatkan masyarakat bukan sebagai “objek proyek”, tetapi mitra dialog pembangunan yang setara. Ia menekankan bahwa GSMP bertujuan memproduktifkan masyarakat, agar mereka memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dan menjadi pelaku ekonomi. Dalam kesempatan itu, ia juga mengukuhkan Forum Kemitraan Sinergi GSMP dan Pandu GSMP sebagai struktur yang diharapkan memperkuat kerja bersama antara pemerintah, komunitas, dan berbagai pihak lain. Ini langkah penting karena gerakan ketahanan pangan hanya akan berumur panjang bila dimiliki bersama, bukan dikendalikan sepihak oleh birokrasi.
Kemandirian Pangan Lokal sebagai Jalan Mengurangi Kemiskinan
GSMP menjadi contoh bagaimana kemandirian pangan lokal bisa digunakan sebagai strategi pengurangan kemiskinan yang konkret, bukan sekadar jargon. Sekretaris Daerah melaporkan bahwa angka kemiskinan turun dari 9,85 persen pada September 2025 menjadi 9,50 persen pada Maret 2026, dan menyebut kontribusi komponen makanan terhadap garis kemiskinan mencapai 75,26 persen. Kutipan angka ini menunjukkan satu hal: mengendalikan pangan berarti mengendalikan salah satu faktor terbesar kemiskinan.
Di sinilah logika GSMP menjadi masuk akal: ketika keluarga mampu memproduksi sebagian kebutuhan pangan sendiri, mereka tidak hanya mengurangi pengeluaran, tetapi juga membuka peluang usaha pangan mandiri. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat, dan terus meningkatkan Skor Pola Pangan Harapan yang menunjukkan perbaikan kualitas konsumsi. GSMP, bila konsisten, berpotensi menggeser rumah tangga miskin dari sekadar mengakses bantuan menjadi menjual produk pangan, dari konsumen pasif menjadi produsen di gerakan ketahanan pangan.
Tantangan di Akar Rumput: Dari Data hingga Hilirisasi
Namun, menjadikan GSMP sebagai mesin lahirnya pengusaha pangan bukan perkara ringan. Pemerintah sendiri mengakui masih ada tantangan besar: koordinasi, pendampingan, data sasaran, pemantauan, kemitraan, hingga hilirisasi. Tanpa data yang presisi dan pendampingan nyata, program rentan kembali menjadi pola “tebar bantuan”, di mana benih, ternak, atau sarana produksi berhenti sebagai laporan, bukan usaha berkelanjutan.
Pernyataan Sekda bahwa penguatan GSMP ke depan tidak cukup dengan menambah bantuan, tetapi memerlukan pembenahan sistem mulai dari tata kelola, penguatan Pandu GSMP, Sinergi GSMP, dan pembangunan data sasaran berbasis DTSEN, adalah salah satu langkah paling jujur dalam evaluasi program publik. Tantangan hilirisasi juga krusial: tanpa akses pasar, pelatihan pengolahan, dan jejaring usaha, kemandirian pangan lokal berisiko berhenti di pekarangan rumah. Pemberdayaan masyarakat pertanian harus menyentuh rantai nilai, bukan hanya produksi. Di sinilah forum seperti Ngopi Bareng GSMP menjadi penting untuk menyambungkan suara petani kecil, pelaku usaha rumahan, dan pengambil kebijakan.
Menjadikan GSMP Sekolah Pengusaha Pangan Keluarga
Jika GSMP ingin meninggalkan warisan, ia harus lebih mirip sekolah kewirausahaan pangan keluarga dibanding sekadar program bantuan sosial. Gerakan ini sudah didorong untuk berkembang menjadi gerakan bersama yang mampu meningkatkan produktivitas masyarakat, menciptakan nilai ekonomi, dan mewujudkan kemandirian pangan setiap keluarga. Pertanyaannya bukan lagi apakah bantuan dibutuhkan, melainkan apakah setiap bantuan diikuti pengetahuan, pendampingan, dan akses pasar yang membuat keluarga berani menyebut diri mereka pengusaha pangan.
Masyarakat sudah ditempatkan sebagai pelaku, bukan penerima pasif, dan GSMP diproyeksikan memberikan nilai ekonomi bagi mereka. Itu langkah awal yang tepat. Namun konsistensi akan menentukan apakah angka kemiskinan terus menurun atau berhenti di sekitar 9 persen. Gerakan ketahanan pangan yang hidup di tingkat kampung akan menjadi penentu. Bila GSMP berhasil, model ini bisa menginspirasi desain program lain: bantuan sebagai awal, pemberdayaan sebagai inti, dan usaha pangan mandiri sebagai tujuan.






