Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Penerima Bantuan ke Pelaku Usaha Pangan Mandiri

Dari Penerima Bantuan ke Pelaku Usaha Pangan Mandiri
Minat|Asia Tenggara

GSMP: Gerakan Kemandirian Pangan Lokal, Bukan Sekadar Program Bantuan

Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) adalah inisiatif pemerintah daerah yang bertujuan mengubah rumah tangga penerima bantuan menjadi pelaku aktif pengelolaan pangan lokal, dengan fokus pada kemandirian pangan, peningkatan produktivitas, dan penciptaan nilai ekonomi berkelanjutan bagi keluarga, bukan sekadar menyalurkan bantuan sesaat. Dari awal, GSMP dirancang sebagai gerakan kemandirian pangan lokal, bukan proyek karitatif musiman. Pesan yang digaungkan jelas: warga harus naik kelas dari penerima manfaat menjadi pelaku bisnis pangan mandiri, yang memanfaatkan potensi pertanian sekitar rumah untuk menambah pendapatan dan memperbaiki kualitas konsumsi. Dengan orientasi ini, GSMP menempatkan pemberdayaan masyarakat pertanian sebagai pusat strategi, sehingga setiap intervensi diukur dari seberapa jauh keluarga mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dan menghasilkan surplus bernilai ekonomi.

Dari Penerima Bantuan ke Pelaku Usaha Pangan Mandiri

Ngopi Bareng GSMP: Mengubah Pola Pikir dari Penerima Bantuan ke Pelaku

Momentum penting transformasi GSMP terlihat dalam forum Ngopi Bareng GSMP di Aula Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan pada Senin, 14 September 2026, ketika Wakil Gubernur Cik Ujang menegaskan arah baru program ini. Dalam suasana santai, ia mengingatkan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti sebagai penyaluran bantuan; GSMP harus membuat masyarakat lebih produktif dan mandiri memenuhi kebutuhan pangan. "GSMP bertujuan lebih memproduktifkan masyarakat. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi pelaku," ujarnya. Pernyataan ini penting: bantuan hanya titik awal, bukan identitas permanen. Kemandirian pangan lokal yang dimaksud bukan sekadar menanam untuk konsumsi, tetapi mengelola potensi pangan hingga menjadi sumber pendapatan yang stabil. Diskusi informal seperti Ngopi Bareng menjadi ruang strategis untuk menantang mentalitas ketergantungan dan menanamkan etos usaha di sektor pangan keluarga.

Dari Ketahanan Pangan ke Program Ekonomi Berkelanjutan

Sejak berjalan pada 2021, GSMP diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Namun orientasi hari ini lebih tegas: GSMP harus naik kelas menjadi program ekonomi berkelanjutan. Artinya, setiap kebun pangan keluarga, kolam, atau kandang tidak hanya dinilai dari kecukupan konsumsi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan aliran pendapatan berulang. Pemerintah daerah menyadari bahwa komponen makanan menyumbang 75,26 persen terhadap garis kemiskinan, sehingga penguatan pangan lokal memiliki dampak langsung terhadap kemiskinan. Menurut laporan Sekretaris Daerah, angka kemiskinan turun dari 9,85 persen pada September 2025 menjadi 9,50 persen pada Maret 2026, dan GSMP disebut sebagai salah satu faktor yang berkontribusi. Ini menunjukkan bahwa ketika pangan dikelola sebagai usaha, bukan sekadar bantuan, efeknya terasa pada statistik kemiskinan dan daya tahan ekonomi rumah tangga.

Pemberdayaan, Sinergi, dan Tantangan Menaikkan Kelas GSMP

Cik Ujang menegaskan bahwa semangat pengembangan GSMP ke depan harus berpijak pada pemberdayaan masyarakat, bukan penambahan bantuan semata. Dalam kegiatan Ngopi Bareng GSMP itu, ia mengukuhkan Forum Kemitraan Sinergi GSMP dan Pandu GSMP, sebagai upaya membangun ekosistem pendampingan dan koordinasi antara pemerintah, warga, dan mitra lain. Di sisi lain, Sekda Edward Candra mengakui masih ada tantangan: koordinasi, pendampingan, data sasaran, pemantauan, kemitraan, hingga hilirisasi hasil pangan. Karena itu, penguatan GSMP ke depan tidak cukup hanya dilakukan dengan menambah bantuan, tetapi membutuhkan pembenahan sistem tata kelola, penguatan Pandu GSMP, sinergi lintas pihak, dan pembangunan basis data sasaran GSMP yang lebih akurat. Pemberdayaan masyarakat pertanian pada titik ini berarti memastikan akses pengetahuan, pasar, dan jaringan kerja sehingga kemandirian pangan lokal menjadi praktik sehari-hari, bukan slogan.

Dampak Nyata dan Masa Depan: Dari Ketergantungan Menuju Kesejahteraan Jangka Panjang

Dampak awal GSMP sudah tercermin dalam penurunan kemiskinan dan peningkatan Skor Pola Pangan Harapan (PPH), yang menunjukkan perbaikan kualitas konsumsi pangan masyarakat. Namun nilai strategis GSMP terletak pada perubahan kultur ekonomi di tingkat keluarga. Gerakan ini mendorong warga melihat lahan, waktu, dan pengetahuan sebagai modal bisnis pangan mandiri, bukan sekadar aset pasif. Jika pembenahan sistem dan pendampingan berjalan konsisten, GSMP berpotensi mengubah desa-desa menjadi pusat kemandirian pangan lokal yang memasok pasar sekitar dan mengurangi ketergantungan pada bantuan pemerintah. Di sinilah program ekonomi berkelanjutan menemukan bentuk: warga memproduksi, mengolah, dan menjual pangan, sementara pemerintah memastikan ekosistem yang adil dan mendukung. Masa depan GSMP seharusnya bukan lagi tentang berapa banyak bantuan disalurkan, melainkan berapa banyak keluarga yang keluar dari kemiskinan melalui usaha pangan yang mereka bangun sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!