Dari Nelayan Tradisional ke Pengusaha Mandiri di Pesisir

Dari Nelayan Tradisional ke Pengusaha Mandiri di Pesisir
Minat|Asia Tenggara

Pendampingan Terstruktur yang Mengubah Wajah Ekonomi Pesisir

Program CID Pertamina di Kampung Bahari Si Pelaut adalah inisiatif pemberdayaan nelayan pesisir yang mengubah komunitas penangkap ikan tradisional menjadi pelaku UMKM hasil laut yang mandiri, melalui pendampingan pengolahan seafood tradisional, pengembangan budidaya, dan penguatan kapasitas usaha berbasis potensi lokal agar ekonomi masyarakat pesisir tumbuh berkelanjutan. Fokus utama program CID Pertamina di Kampung Tua Terih bukan sekadar bantuan bibit atau pelatihan teknis, tetapi menggeser cara pandang nelayan dan kelompok perempuan: dari “menjual ikan mentah” menjadi “mengelola bisnis seafood”. Melalui Kampung Bahari Si Pelaut, nelayan dan kelompok perempuan didorong mengolah hasil laut menjadi sumber pangan, produk usaha, dan tambahan penghasilan keluarga. Transformasi ini penting, karena selama bertahun-tahun pesisir hanya diposisikan sebagai pemasok bahan mentah, bukan pusat produksi bernilai tambah. Pertamina memilih membuktikan bahwa dengan pendampingan terstruktur, garis kemiskinan di pesisir bisa digoyang dari akar.

Dari Penangkap Ikan ke Pebisnis Seafood: Bukti Nyata Kenaikan Pendapatan

Keberhasilan utama program CID Pertamina di Kampung Bahari Si Pelaut adalah kenaikan pendapatan yang terukur, bukan jargon kesejahteraan di atas kertas. Pendapatan kelompok nelayan dan UMKM perempuan naik dari Rp27,56 juta menjadi Rp68,45 juta, atau rata-rata sekitar 40 persen per anggota. Angka ini menunjukkan bahwa pemberdayaan nelayan pesisir yang serius memang bisa mengubah kualitas hidup, bukan sekadar menambah aktivitas proyek. Kenaikan ini lahir dari diversifikasi usaha: budidaya ikan kakap, bawal, kerapu, budidaya ikan air tawar dan sayuran melalui aquaponik, serta pengolahan hasil perikanan menjadi berbagai produk usaha. Model pendampingan menjadikan nelayan tidak lagi bergantung pada harga pasar harian, sementara kelompok perempuan keluar dari bayang-bayang ekonomi rumah tangga dan menjadi motor UMKM hasil laut. Program seperti ini layak disebut investasi sosial, bukan charity sesaat.

Pengolahan Seafood Tradisional yang Naik Kelas Jadi Produk Ekspor

Salah satu sisi paling menarik dari Kampung Bahari Si Pelaut adalah bagaimana pengolahan seafood tradisional diangkat menjadi bisnis modern tanpa memutus akar budaya. Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Sukses Bersama memanfaatkan seluruh bagian ikan: kulit, tulang, hingga kepala udang yang sebelumnya dianggap limbah. Dari situ lahir keripik kulit ikan tenggiri original dan pedas manis, kerupuk kulit ikan kakap, swiss roll abon ikan, abon ikan, dan penyedap rasa dari tulang ikan serta kepala udang. Produk-produk ini tidak berhenti di meja dapur lokal; kini telah dipasarkan hingga Malaysia dan Singapura. Pernyataan ketua Poklahsar bahwa pendampingan membuat anggota lebih percaya diri mengembangkan usaha menegaskan satu hal: ketika pengetahuan bisnis dibawa masuk ke dapur pesisir, tradisi olahan laut tidak hilang—ia naik kelas menjadi komoditas bernilai tinggi.

Komitmen Strategis: Dari Potensi Lokal ke Model Ekonomi Berkelanjutan

Transformasi di Kampung Tua Terih tidak terjadi spontan; ia ditopang oleh komitmen strategis Pertamina Patra Niaga. Komisaris Utama Sabar Yudo Suroso turun langsung, menegaskan bahwa Kampung Bahari Si Pelaut punya potensi besar karena mampu mengolah sumber daya pesisir menjadi kegiatan ekonomi yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam kunjungan 5 Agustus, manajemen menyerahkan 1.000 bibit ikan kakap dan 500 bibit ikan nila kepada KUB Terihindo Jaya Lestari dan Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari—bukan sebagai simbol, melainkan modal awal bagi budidaya terintegrasi. Menurut VP Corporate Communication Kitty Andhora, Kampung Bahari Si Pelaut adalah contoh program pemberdayaan yang dikembangkan bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi dengan memanfaatkan potensi lokal setiap daerah. Pendekatan berangkat dari potensi lokal ini jelas lebih sehat dibanding model seragam yang sering mengabaikan karakter pesisir.

Lingkungan yang Terjaga, Kemandirian Ekonomi yang Tumbuh

Kekuatan lain program CID Pertamina adalah menolak dilema palsu antara ekonomi masyarakat pesisir dan kelestarian lingkungan. Program Kampung Bahari Si Pelaut mengelola 35,24 ton sampah per tahun, mengurangi emisi sekitar 113,5 ton CO₂-ekivalen per tahun, serta merehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman 1.000 bibit mangrove. Kegiatan ini berjalan seiring dengan pengembangan Budidaya Ikan Terintegrasi (BUDITA/Eco-Dita) yang memangkas masa pemeliharaan ikan dari 240 hari menjadi sekitar 120 hari sehingga panen lebih cepat dan perputaran modal dua kali lebih cepat. Ini bukan sekadar program CSR; ini model ekonomi sirkular di pesisir yang mendukung tujuan SDGs 14 tentang ekosistem lautan melalui pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Jika konsisten diperluas, pendekatan seperti ini bisa menjadi template nasional untuk keluar dari ketergantungan jangka panjang pada eksploitasi laut tanpa nilai tambah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!