Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Bantuan ke Bisnis Mandiri: GSMP Membangun Ekosistem Pangan Terintegrasi

Dari Bantuan ke Bisnis Mandiri: GSMP Membangun Ekosistem Pangan Terintegrasi
Minat|Asia Tenggara

Gerakan pangan mandiri: dari konsumen ke pelaku bisnis

Gerakan pangan mandiri adalah pendekatan pembangunan yang mengubah rumah tangga dan komunitas lokal dari posisi sebagai konsumen bantuan menjadi produsen pangan dan pelaku bisnis pertanian berkelanjutan yang terhubung dalam ekosistem pertanian terintegrasi, sehingga mampu menciptakan kemandirian pangan daerah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari hulu hingga hilir.

Transformasi Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan (GSMP) menunjukkan pergeseran penting: dari program yang identik dengan bantuan produksi menjadi gerakan yang mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Ini bukan sekadar perubahan teknis, tetapi perubahan paradigma. Wakil Gubernur H. Cik Ujang menegaskan bahwa GSMP adalah gerakan bersama untuk membuat masyarakat lebih mandiri, produktif, dan sejahtera. Artinya, skemanya tidak lagi berhenti pada pembagian bibit atau alat, melainkan membangun ekosistem pangan yang menyentuh pembiayaan, pendampingan, produksi hingga akses pasar. Di titik ini, petani lokal dan komunitas bukan penerima pasif, tetapi subjek utama yang diharapkan mampu berdiri sebagai pelaku bisnis mandiri.

Dari Bantuan ke Bisnis Mandiri: GSMP Membangun Ekosistem Pangan Terintegrasi

Ekosistem pertanian terintegrasi: membangun rantai pasok, bukan proyek sesaat

Kekuatan baru GSMP terletak pada keberaniannya membangun ekosistem pertanian terintegrasi dari hulu hingga hilir, bukan menambah daftar proyek bantuan jangka pendek. Rantai GSMP dirancang utuh: dari data sasaran, pendampingan melalui PANDU-GSMP, pembiayaan, produksi, hilirisasi hingga pasar. Sekretaris Daerah H. Edward Candra menekankan bahwa yang menentukan keberlanjutan gerakan ini adalah hilirisasi dan kepastian pasar, bukan besarnya bantuan yang digelontorkan. "Hal yang paling menentukan keberlanjutan GSMP adalah hilirisasi dan pasar. Rantai GSMP harus kita bangun secara utuh, mulai dari data, pendampingan, produksi, hilirisasi hingga pasar," tegasnya.

Pendekatan ini menggeser fokus ke bisnis pertanian berkelanjutan. Hasil produksi masyarakat tidak boleh berhenti di lumbung; harus ada jaminan penyerapan dan nilai tambah ekonomi. Di sinilah integrasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pengendalian inflasi, digitalisasi pembayaran, dan akses keuangan memainkan peran. GSMP menjadi inovasi pengembangan ekosistem rantai pasok pangan yang menyeluruh, terintegrasi, dan sistematis, yang dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal dan mendukung pengentasan kemiskinan.

Pemberdayaan petani lokal dan pesantren sebagai produsen, bukan penerima

Jika dulu program pangan sering berhenti pada penyaluran subsidi, GSMP versi terbaru menempatkan kelompok tani, komunitas lokal, dan pesantren sebagai produsen utama dalam ekosistem. Melalui PANDU-GSMP, masyarakat yang menjalankan gerakan pangan mandiri mendapatkan pendampingan nyata, terarah, dan berkelanjutan—bukan sekadar pelatihan satu kali. Para produsen ini juga diperkuat dengan pendampingan teknis, peningkatan kapasitas digital, serta perluasan akses layanan keuangan.

Program GSMP Goes to Pesantren adalah langkah strategis yang memperluas definisi pemberdayaan petani lokal. Pesantren didorong memakai sumber daya manusia dan lahan yang dimiliki untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sendiri dan memasok komoditas ke SPPG maupun offtaker lain. Dengan dukungan pembiayaan, sarana, pelatihan, dan digitalisasi pembayaran, pesantren menjadi simpul baru gerakan pangan mandiri yang menghubungkan produksi lokal dengan program Makan Bergizi Gratis. Ini memperkuat kemandirian pangan daerah sekaligus membuka peluang bisnis pertanian berkelanjutan bagi komunitas sekitar.

Optimalisasi lahan rawa: dari ancaman kebakaran menjadi lumbung pangan

Transformasi gerakan pangan mandiri di Sumsel tidak bisa dilepaskan dari cara daerah mengelola sumber daya lahannya. Wakil Gubernur H. Cik Ujang mendorong pemanfaatan lahan rawa menjadi lahan pertanian, khususnya persawahan, untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat. Di musim kemarau, lahan rawa yang tidak termanfaatkan rentan kering dan terbakar. Mengubahnya menjadi sawah berarti mengubah risiko ekologis menjadi aset ekonomi.

Optimalisasi lahan rawa sebagai bagian ekosistem pertanian terintegrasi memberi tiga keuntungan sekaligus: menjaga produktivitas lahan, mengurangi potensi kebakaran, dan menambah basis produksi pangan lokal. Ini sejalan dengan agenda penataan lahan lain, seperti evaluasi HGU sawit seluas sekitar 1,3 juta hektare yang banyak memasuki atau mengakhiri masa izin sejak 2023. Jika dikelola dengan koordinasi kuat antara pusat dan daerah, sebagaimana diharapkan Cik Ujang, penataan lahan ini dapat menjadi landasan ekspansi gerakan pangan mandiri—dari program terfragmentasi menjadi tata ruang produksi pangan yang terencana.

Mengurangi kemiskinan lewat kemandirian pangan dan nilai tambah ekonomi

Inti paling penting dari transformasi GSMP adalah klaim bahwa gerakan pangan mandiri bisa menjadi strategi pengurangan kemiskinan, bukan hanya ketahanan pangan. Dengan membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir, GSMP diharapkan menciptakan nilai tambah, menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar SPPG, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi serta pengentasan kemiskinan. Kuncinya: petani dan komunitas harus memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari produk yang mereka hasilkan, bukan sekadar swasembada konsumsi.

Pertemuan tata kelola GSMP 2026 menjadi momentum memfinalisasi arah ini—memperkuat tata kelola, pendampingan, kemitraan melalui SINERGI GSMP, serta basis data sasaran. Program ini juga dirancang mendukung pengendalian inflasi, digitalisasi pembayaran, perluasan akses keuangan, dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Pada akhirnya, bila seluruh komponen berjalan, GSMP berpotensi naik kelas: dari sekumpulan program bantuan menjadi ekosistem bisnis pertanian berkelanjutan yang membuat kemandirian pangan daerah sejalan dengan peningkatan pendapatan petani dan komunitas paling rentan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!