AI Datang ke Jatiluhur: Lompatan Digital yang Mengguncang Keseimbangan Air
Pusat data AI Jatiluhur adalah kompleks data center berskala besar milik BDx yang dibangun sekitar 5 kilometer dari Waduk Jatiluhur, memanfaatkan kedekatan dengan sumber daya air dan listrik untuk mengoperasikan beban kerja kecerdasan buatan berkapasitas hingga ratusan megawatt, sehingga memicu kekhawatiran serius tentang dampaknya terhadap pasokan air bersih bagi warga dan pertanian di wilayah hilir. Pembangunan data center AI Jatiluhur bukan sekadar proyek teknologi; ia adalah eksperimen politik dan ekologis tentang seberapa jauh ambisi infrastruktur AI lingkungan boleh menekan sumber daya air lokal. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah meresmikan pusat data ini, menandai komitmen daerah terhadap agenda digital. Namun sejak awal, krisis air pendingin menjadi bayangan yang tidak bisa diabaikan. Kritikus menilai proyek yang 75 persen keuntungannya mengalir ke entitas asing meninggalkan masyarakat lokal menanggung risiko degradasi ekologi dan potensi gangguan pasokan air bersih Jakarta dan sekitarnya. Ini bukan penolakan terhadap teknologi AI, melainkan penolakan terhadap cara pembangunan yang menganggap air sebagai sumber daya yang tak terbatas.
Skala Masif dan Sistem Pendingin Cair: Mengapa Kebutuhan Air Jadi Bom Waktu
Jika ingin memahami ketegangan di sekitar data center AI Jatiluhur, angka-angka operasionalnya tidak bisa diabaikan. AI Campus 2 atau CGK4 dirancang mencapai kapasitas hingga 640 megawatt, dimulai dengan gedung pertama berkapasitas 120 MW yang ditargetkan beroperasi awal 2027. Untuk beban kerja AI berkepadatan tinggi, fasilitas ini memakai teknologi direct-to-chip liquid cooling dengan target kepadatan hingga 500 kW per rak. Di sini krisis air pendingin mulai terasa: pada tahap awal, kebutuhan air sekitar 6.000 meter kubik per hari, dan dalam pengembangan penuh diperkirakan melonjak menjadi sekitar 384 liter per detik atau 33.000 meter kubik per hari, setara 33 juta liter air. Mengambil air sebanyak itu dari sistem Jatiluhur yang menanggung kebutuhan masyarakat, industri, pembangkit listrik, dan irigasi jelas bukan urusan teknis kecil. Di negara lain, persoalan serupa telah memaksa industri beralih ke desain pendingin yang meminimalkan konsumsi air. Di Jatiluhur, pertanyaannya lebih tajam: apakah kebutuhan infrastruktur AI nasional pantas dibayar dengan menyusutnya ruang aman pasokan air bersih bagi jutaan warga hilir, termasuk Jakarta dan sekitarnya.
Respons Pemkab Purwakarta: Jeda Politik di Tengah Euforia Investasi AI
Di tengah euforia investasi digital, Pemerintah Kabupaten Purwakarta mengambil langkah yang patut dicatat: mereka tidak langsung menggelar karpet merah, tetapi menggelar rapat evaluasi. Pada 5 Oktober 2026, bupati Saepul Bahri Binzein memimpin pertemuan di Aula Janaka bersama akademisi dan peneliti untuk membahas pembangunan data center AI Jatiluhur. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), dan kebutuhan air untuk sistem pendingin menjadi materi utama. Bupati Zein menegaskan bahwa pasokan air bersih warga dan pertanian tidak akan terganggu. Menurut dia, Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu memiliki izin pengambilan 120 liter per detik, baru menggunakan 70 L/detik, sehingga masih ada sekitar 50 L/detik yang belum terpakai; rencana pasokan ke BDx 27 L/detik diklaim masih menyisakan 23 L/detik untuk masyarakat dan pertanian. Pernyataan ini terdengar menenangkan, tetapi pemerintah daerah sendiri mengakui hitungan tersebut harus diuji lebih lanjut, dan pembahasan akan berlangsung selama 10 hari. Di sinilah publik perlu waspada: jika diskusi AMDAL hanya menjadi ritual administratif, ruang kritis terhadap infrastruktur AI lingkungan akan hilang, meninggalkan warga menghadapi konsekuensi jangka panjang.
Mitigasi Teknis dan Pertanyaan yang Belum Dijawab soal Krisis Air Pendingin
Selama ini perdebatan di seputar data center AI Jatiluhur cenderung terjebak pada satu pertanyaan dangkal: apakah debit air hari ini cukup. Padahal, sebagaimana diingatkan para peneliti yang hadir di Purwakarta, yang jauh lebih penting adalah menghitung kebutuhan air dalam kondisi operasi penuh, musim kering, pertumbuhan kebutuhan domestik, kebutuhan pertanian, dan kemungkinan ekspansi kapasitas data center itu sendiri. Risikonya sederhana: ketika kebutuhan air meningkat, ruang aman yang hari ini terlihat longgar bisa menyempit drastis. Periset AI BRIN, Dini Fronitasari, menilai fasilitas komputasi AI memang dibutuhkan, tetapi mengusulkan sistem pendingin tertutup yang dapat memangkas penggunaan air hingga 80 persen. Di tingkat global, desain data center generasi baru untuk beban kerja AI sudah mengadopsi direct-to-chip liquid cooling dengan sirkulasi tertutup yang menghilangkan penggunaan air kota untuk pendinginan. Artinya, pilihan teknologi ada. Pertanyaannya: apakah sistem pendingin tertutup dijadikan syarat wajib dalam AMDAL dan PBG, atau dibiarkan sebagai opsi sukarela yang mudah dikalahkan oleh pertimbangan biaya? Tanpa kewajiban tegas, krisis air pendingin hanya ditunda, bukan dicegah.
Antara Ambisi Infrastruktur AI dan Hak atas Air Bersih
Pada akhirnya, sengketa data center AI Jatiluhur adalah benturan dua kepentingan sah: kebutuhan infrastruktur AI nasional dan hak masyarakat lokal atas pasokan air bersih yang aman. Waduk Jatiluhur bukan sekadar latar belakang estetik bagi kampus AI; ia adalah nadi pasokan air bagi warga, industri, irigasi, dan pembangkit di kawasan luas. Menganggapnya sebagai bonus murah untuk mendukung data center adalah kesalahan kebijakan. “Kebutuhan infrastruktur AI memang nyata, tetapi teknologi tidak boleh membuat sumber daya alam diperlakukan seolah-olah tidak terbatas,” ujar Dini Fronitasari. Pemerintah lokal sudah memulai dengan forum evaluasi AMDAL dan PBG, tetapi itu baru langkah awal. Ke depan, kita membutuhkan standar nasional yang mengikat: batas konsumsi air, kewajiban sistem pendingin tertutup, serta transparansi publik atas debit yang diambil dan dilepas kembali ke lingkungan. Tanpa itu, setiap proyek data center AI Jatiluhur akan menjadi preseden buruk, di mana investasi digital dibayar dengan risiko ekologis yang diwariskan ke generasi mendatang. Pilihannya jelas: menempatkan air sebagai batas keras bagi ambisi AI, atau membiarkan AI tumbuh dengan mengorbankan sumber daya yang paling dasar bagi kehidupan.






