Data Center AI Air: Infrastruktur Digital yang Mengguncang Siklus Air
Pusat data AI adalah fasilitas berisi ribuan server berdaya tinggi yang menjalankan pelatihan dan inferensi model kecerdasan buatan non-stop, membutuhkan listrik besar, sistem pendingin intensif, dan konsumsi air signifikan yang kerap bersaing dengan kebutuhan air minum, irigasi, serta ekosistem lokal. Pembangunan AI Campus 2 (CGK4) berkapasitas 640 MW oleh BDx di Jatiluhur, yang diresmikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada 22 September, adalah simbol ambisi digital yang langsung menabrak realitas ekologis. Kawasan ini telah dikunci dengan pasokan listrik 845 MVA dari PLN, menjadi bagian dari lebih dari 1,2 GVA jaringan pusat data siap-AI. Namun onderdil paling mahal dari infrastruktur AI bukan hanya kabel dan chip, melainkan air yang tidak pernah dihitung secara jujur dalam narasi “ekonomi digital”.

Jatiluhur Pusat Data: Saat Air Minum dan Irigasi Tersisih
Jatiluhur bukan sekadar lokasi strategis; waduk ini menyumbang 81% penyediaan air minum Jakarta dan sekitarnya, sekaligus mengairi 242.000 hektare sawah dua kali tanam per tahun. Di tempat yang sama, proyek pusat data AI BDx direncanakan menyedot air hingga 384 liter per detik pada tahap pengembangan berikutnya—setara 33 ribu meter kubik per hari, atau lebih dari 12 juta meter kubik per tahun. “Investasi data center tidak boleh menciptakan persaingan baru antara industri digital, petani, dan kebutuhan rumah tangga,” demikian salah satu peringatan yang patut dicatat. Pertanyaannya sederhana: apakah konsumsi air infrastruktur AI akan dibiarkan menggerus hak air warga dan petani demi ambisi menjadi “kawasan siap-AI”?

Konsumsi Air Infrastruktur AI: Dari Server hingga Waduk
Data center AI air bukan metafora, melainkan deskripsi literal: air adalah bahan bakar tak kasatmata untuk pendinginan mesin. Satu fasilitas pusat data berukuran besar dapat menggunakan hingga sekitar 19 juta liter air per hari untuk pendinginan. Untuk menggambarkan skala konsumsi, sebuah data center 40 MW dengan sistem pendinginan evaporatif yang memakai rata-rata 1,8 liter per kilowatt-jam bisa menguapkan sekitar 27 juta liter air per hari. Pada skala AI, pelatihan model GPT-3 saja diperkirakan menghabiskan sekitar 5,4 juta liter air di pusat data tertentu. Konsumsi ini berlanjut saat inferensi, ketika model memproses permintaan pengguna setiap detik. Di Jatiluhur, air yang seharusnya mengalir ke kran rumah dan saluran irigasi berpotensi menghilang lewat menara pendingin demi menjaga suhu chip tetap stabil.

Dampak Lingkungan Pusat Data: Lebih dari Sekadar Kebisingan
Dampak lingkungan pusat data sering direduksi menjadi isu kebisingan dan genset, padahal jejak ekologinya jauh lebih panjang. Selain kebutuhan air dan energi, produksi perangkat keras—server, kabel, baterai cadangan—mengandalkan mineral seperti tembaga, litium, dan kobalt, dengan dampak di wilayah pertambangan. Kebutuhan lahan tak berhenti pada gedung server; gardu listrik, jaringan transmisi, dan fasilitas pembangkit energi memperluas tekanan terhadap ruang hidup sekitar. Di sisi lain, warga yang tinggal dekat pusat data menghadapi dengungan mesin 24 jam, potensi polusi dari genset diesel, cahaya malam berlebih, dan beban terhadap sumber daya lokal. Istilah “aman tinggal dekat data center” karenanya harus diartikan ulang: menyangkut kualitas tidur, ketersediaan air, biaya listrik, hingga keberlanjutan ekonomi lokal, bukan sekadar absennya asap dari cerobong.
Regulasi Data Center Indonesia: Jatiluhur sebagai Alarm Kebijakan
Polemik Jatiluhur pusat data adalah alarm keras tentang lemahnya regulasi data center Indonesia. Pembangunan AI Campus 2 (CGK4) dilanjutkan hingga peletakan batu pertama, sebelum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) diterbitkan, hingga akhirnya Pemerintah Provinsi menghentikan sementara setelah inspeksi Gubernur pada 28 September. Institute for Essential Services Reform mendukung penghentian ini dan meminta kajian lingkungan dan dampak penggunaan sumber daya diselesaikan dulu, dengan melibatkan masyarakat dan petani yang bergantung pada irigasi Jatiluhur. Mereka mengusulkan standar: pendingin tanpa air (waterless) atau sistem closed-loop, batas efisiensi energi PUE di bawah 1,3, serta standar efisiensi perangkat TI. Rekomendasi lain mencakup transparansi water usage effectiveness, perizinan bertahap, pemanfaatan air daur ulang, dan kewajiban kajian kumulatif beban industri.
Menata Masa Depan: Standar Air Sebelum Ekspansi AI
Jika ekspansi data center AI terus dikejar tanpa standar lingkungan, Jatiluhur hanya akan menjadi kasus pertama dari banyak konflik air. Proyek BDx ini direncanakan berkembang dalam tiga tahun, dengan gedung-gedung beroperasi bertahap dan fase pertama 120 MW ditarget beroperasi awal 2027. Tanpa regulasi ketat, kapasitas listrik lebih dari 1,2 GVA yang diamankan untuk kawasan siap-AI bisa berubah menjadi beban air dan energi yang meminggirkan publik. Pemerintah perlu menjadikan AMDAL, standar manajemen air, dan konsultasi pemangku kepentingan sebagai gerbang utama, bukan formalitas belakangan. Masa depan AI tidak boleh ditebus dengan air minum, panen padi, dan kualitas hidup warga. Jika data adalah “minyak baru”, maka air adalah darah yang mengalirkan hidup; keduanya tidak boleh dipertukarkan begitu saja.






