Penghargaan Kota Hijau IMT-GT: Simbol Pergeseran Kebijakan
Penghargaan kota hijau IMT-GT Green City Award adalah skema apresiasi subregional yang menilai komitmen dan praktik pembangunan berkelanjutan di berbagai kota, mencakup pendidikan, pengelolaan keanekaragaman hayati, ekonomi sirkular, pengelolaan sampah, serta transportasi rendah karbon sebagai fondasi tata kelola perkotaan yang tahan iklim dan inklusif. Penghargaan ini bukan sekadar seremoni; ia mencerminkan pergeseran politik lokal: lingkungan tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai inti perencanaan infrastruktur dan ekonomi. Fakta bahwa ajang pertama IMT-GT green city digelar dalam rangkaian Pertemuan Menteri ke-32 menunjukkan bahwa agenda hijau kini mendapat ruang setara dengan agenda pertumbuhan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kota perlu berkelanjutan, tetapi seberapa cepat pemerintah daerah berani mengintegrasikan standar hijau ke dalam semua kebijakan.
Pekanbaru: Empat Trofi, Sinyal Kepemimpinan Kota Hijau
Pekanbaru muncul sebagai salah satu wajah baru kepemimpinan kota hijau setelah memborong empat penghargaan dalam IMT-GT Green City Award ke-1 yang digelar di Medan pada 9 September. Pemerintah kota meraih emas untuk kategori Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, perak untuk pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem perkotaan, perunggu untuk pengelolaan sampah padat, serta sertifikat pengakuan untuk transportasi berkelanjutan dan mobilitas rendah karbon. Kombinasi kategori ini penting: kota tidak hanya dihargai karena teknis pengelolaan lingkungan, tetapi juga karena investasi pada literasi publik dan perubahan perilaku. Direktur pusat kerja sama subregional IMT-GT, Amri Bukhairi Bakhtiar, secara terbuka memuji “komitmen, inovasi, dan upaya berkelanjutan” Pekanbaru dalam memajukan kota yang lebih hijau dan tahan iklim, menempatkan kota ini sebagai rujukan praktik baik di kawasan. Jika konsisten, Pekanbaru berpotensi menggeser narasi bahwa kota besar identik dengan polusi dan ketidakrapian tata ruang.

Medan: Emas Ekonomi Sirkular dan Tantangan Kota Besar
Di sisi lain, Medan mengirim pesan berbeda: kota besar pun dapat menata ulang model ekonomi dan pengelolaan sumber daya. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas dan wakilnya, Medan meraih IMT-GT Green City Award kategori Gold untuk Circular Economy and Resource Efficiency. Penghargaan yang diterima langsung dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian itu menegaskan bahwa ekonomi sirkular bukan konsep abstrak, melainkan arah kebijakan yang mulai diinstitusikan di level kota. Pengakuan ini mendorong pemerintah kota untuk meningkatkan pengelolaan lingkungan, persampahan, dan penerapan prinsip ekonomi sirkular sebagai bagian dari strategi pembangunan, bukan program sampingan. Perlu diakui, kota besar menghadapi tekanan konsumsi dan urbanisasi yang jauh lebih tinggi; karena itu raihan kategori Gold menjadi tolok ukur penting bagi kota lain yang ingin keluar dari jebakan pembangunan linear yang boros sumber daya.
Dari Forum Regional ke Kebijakan Nyata: Mengapa Momentum Ini Penting
Rangkaian penghargaan kota hijau ini berlangsung bukan dalam ruang kosong, melainkan di tengah forum kerja sama IMT-GT yang sejak awal dibentuk untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lintas batas dan kemudian diperkuat dengan dukungan Asian Development Bank. Tito Karnavian menegaskan bahwa IMT-GT tidak boleh berhenti sebagai forum dialog, tetapi harus menjadi “platform yang menghasilkan program dan proyek yang konkret, terukur, serta memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.” Di level subregional, Kerangka Kerja Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan (SUDF) IMT-GT menjadi panduan agar kota tidak hanya mengejar skor penghargaan, tetapi memanfaatkan IMT-GT green city sebagai ruang berbagi praktik terbaik dan mempercepat integrasi agenda hijau ke dalam proyek siap investasi. Ketika Sumatera Utara menyatakan kesiapan menyelaraskan prioritas dan menyiapkan proyek pengelolaan sampah, mobilitas rendah karbon, efisiensi energi, dan ketahanan banjir, terlihat bahwa penghargaan mulai diterjemahkan menjadi daftar kerja yang konkret.
Implikasi Regional: Dari Papan Penghargaan ke Standar Baru Kota Asia Tenggara
Secara politis, gelombang penghargaan kota hijau di kawasan IMT-GT adalah tekanan halus namun kuat bagi kota lain untuk memperbaiki rekam jejak pembangunan berkelanjutan. Pekanbaru dan Medan menunjukkan bahwa pengakuan regional tidak diberikan hanya karena retorika, melainkan karena kesiapan memasukkan isu lingkungan ke dalam desain ekonomi kota dan perencanaan infrastruktur. IMT-GT Green City Award pun berfungsi sebagai cermin bersama: kota dapat saling belajar, membandingkan, dan memperbaiki kelemahan masing-masing melalui praktik yang sudah terbukti di kota lain dalam subwilayah. Ke depan, jika penghargaan ini terus mengikat kota pada target konkret dan mendorong proyek lintas batas yang menurunkan hambatan, memperkuat konektivitas, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi hijau, kawasan IMT-GT berpotensi menjadi laboratorium kebijakan lingkungan regional. Kesimpulannya, papan penghargaan hanyalah permulaan; standar baru bagi kota pintar Asia Tenggara akan ditentukan oleh keberanian menjadikan keberlanjutan sebagai norma, bukan pengecualian.






