IMT-GT Green City Award: Lebih dari Sekadar Piala
IMT-GT Green City Award adalah ajang penghargaan subregional yang menilai dan mengapresiasi komitmen kota-kota anggota terhadap pembangunan perkotaan berkelanjutan, dengan fokus pada efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular, ketahanan iklim, dan integrasi sosial ekonomi lintas batas dalam kerangka kerja kawasan yang terukur dan dapat direplikasi. Di era krisis iklim dan tekanan urbanisasi, penghargaan kota hijau internasional seperti ini bukan sekadar seremoni; ia menjadi barometer arah pembangunan berkelanjutan Asia Tenggara dan kompas politik bagi para wali kota. Kabar bahwa Pekanbaru dan Medan meraih IMT-GT Green City Award ke-1 pada 9 September 2026 di Medan menunjukkan bahwa persaingan antar kota kini bergeser dari sekadar pertumbuhan ekonomi ke kualitas lingkungan dan ketahanan jangka panjang.
Pekanbaru: Empat Penghargaan dan Sinyal Serius Kota Hijau
Pekanbaru tidak hanya ikut, tetapi memborong empat penghargaan dalam IMT-GT Green City Award ke-1 yang digelar di Medan pada 9 September 2026, dengan penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Ini bukan kemenangan kebetulan, melainkan sinyal bahwa kota ini sedang memposisikan diri sebagai laboratorium kebijakan kota hijau di kawasan. Pekanbaru meraih Emas untuk Kategori Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, Perak untuk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem Perkotaan, Perunggu untuk Pengelolaan Sampah Padat, serta Sertifikat Pengakuan untuk Transportasi Berkelanjutan dan Mobilitas Rendah Karbon. Jika kota lain masih berkutat pada proyek hijau simbolik, Pekanbaru menunjukkan pola yang lebih menyeluruh: dari kelas, taman kota, tempat pembuangan sampah, hingga sistem transportasi. Menurut Direktur CIMT Amri Bukhairi Bakhtiar, penilaian dilakukan secara menyeluruh sebelum kota ini dinilai layak menerima penghargaan tersebut.
Medan: Ekonomi Sirkular Kota sebagai Arena Kompetisi Baru
Jika Pekanbaru menonjol lewat spektrum kebijakan hijau yang luas, Medan menyabet kategori yang paling strategis: Gold Circular Economy and Resource Efficiency dalam IMT-GT Green City Award. Ini kategori yang pantas disebut ‘liga utamanya’ karena menyentuh inti ekonomi sirkular kota—bagaimana sampah menjadi sumber daya, bukan sekadar beban. Apresiasi tingkat regional ini diberikan atas keberhasilan Medan mendorong pembangunan kota inklusif, hijau, dan tangguh iklim melalui pengelolaan efisiensi sumber daya dan sampah. Artinya, Medan tidak hanya mengurangi limbah, tetapi mulai membangun model ekonomi berkelanjutan yang memutus keterkaitan lama antara pertumbuhan dan eksploitasi sumber daya. Ketika Wali Kota Medan menyebut capaian ini sebagai dorongan moral untuk memperbaiki tata kelola lingkungan hidup, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi kota, tapi juga peluang menarik investasi hijau dan proyek lintas batas di bawah kerangka IMT-GT.
Koordinasi Kawasan: Dari Forum IMT-GT ke Proyek Nyata
Penghargaan kota hijau internasional ini lahir dalam konteks politik kawasan yang jelas: IMT-GT didorong untuk berhenti menjadi forum wacana dan berubah menjadi platform proyek konkret. Tito Karnavian menegaskan bahwa kerja sama IMT-GT harus menghasilkan program terukur dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. Di sisi lain, Kerangka Kerja Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan (SUDF) IMT-GT menjadi payung yang menyelaraskan upaya kota-kota seperti Pekanbaru dengan agenda pembangunan berkelanjutan Asia Tenggara. Visi 2036 menargetkan subkawasan yang terintegrasi, kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan. Di sini, penghargaan untuk Pekanbaru dan Medan bukan titik akhir, melainkan batu loncatan untuk penurunan hambatan lintas batas, realisasi proyek siap investasi, dan penguatan konektivitas pelabuhan dan kawasan ekonomi yang ditekankan oleh Bobby Nasution.
Dari Prestige ke Agenda Wajib Kota-kota Asia Tenggara
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang menang IMT-GT Green City Award, tetapi kota mana yang berani menjadikan standar penghargaan ini sebagai agenda wajib pembangunan. Pekanbaru telah menunjukkan bahwa investasi di pendidikan, keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, dan transportasi rendah karbon bisa dirangkai menjadi strategi kota hijau yang utuh. Medan membuktikan bahwa ekonomi sirkular kota dan efisiensi sumber daya dapat menjadi keunggulan kompetitif sekaligus menjawab krisis iklim. CIMT bahkan menyatakan bahwa tonggak ini diharapkan menjadi awal kepemimpinan berkelanjutan kota dalam memajukan pembangunan perkotaan di seluruh subwilayah IMT-GT. Jika kota-kota lain di Asia Tenggara menganggap penghargaan ini hanya seremoni, mereka akan tertinggal. Pembangunan berwawasan lingkungan dan efisiensi sumber daya sudah naik kelas: dari pilihan progresif menjadi parameter baru kredibilitas pemerintahan kota di kawasan.






