Penghargaan Kota Hijau: Lebih dari Sekadar Piala
Penghargaan kota hijau adalah bentuk pengakuan terhadap kota-kota yang mampu mengintegrasikan perlindungan lingkungan, efisiensi sumber daya, dan kualitas hidup warganya ke dalam kebijakan, infrastruktur, serta praktik pembangunan sehari-hari, bukan hanya lewat proyek simbolik atau penghijauan kosmetik belaka.
Dalam ajang IMT-GT Green City Award 2026, Alor Setar meraih penghargaan kategori Carbon and Climate Governance melalui program unggulan Alor Setar Car Free Saturday, yang diadakan sebagai bagian dari Pertemuan Menteri ke-32 IMT-GT di Medan pada 9 September. Pada saat yang sama, Medan mengukuhkan diri dengan penghargaan kategori Gold Circular Economy and Resource Efficiency untuk upaya pengelolaan efisiensi sumber daya dan sampah. Dua kemenangan ini bukan kebetulan; keduanya adalah indikator bahwa pembangunan berkelanjutan IMT-GT bergerak dari retorika ke praktik. Penghargaan kota hijau di sini bekerja sebagai “tes laboratorium” regional: siapa yang berani mengubah cara kota dikelola, dialah yang naik ke panggung.
Alor Setar: Jalan Bebas Kendaraan sebagai Laboratorium Kota Rendah Karbon
Alor Setar menunjukkan bahwa tata kelola iklim tidak harus berawal dari proyek mahal; keputusan menutup jalan untuk kendaraan bisa lebih politis sekaligus transformasional. Melalui program Alor Setar Car Free Saturday (ASCFS), kota ini menutup sejumlah ruas jalan utama di pusat kota setiap Sabtu pertama awal bulan, menciptakan kawasan bebas kendaraan sepanjang 5,3 kilometer. Langkah ini mengurangi emisi, polusi udara, dan kebisingan, serta mengembalikan ruang kota kepada pejalan kaki dan pesepeda.
Program ini dirancang sebagai ruang interaksi publik yang menyatukan agenda lingkungan, kesehatan, ekonomi lokal, dan pendidikan. Pemerintah kota mengisi jalur 5,3 kilometer itu dengan kampanye kesehatan, promosi kendaraan listrik, pameran teknologi hijau, bahkan penguatan gerakan wakaf. Kutipan yang patut digarisbawahi: “Program Car Free Saturday kami laksanakan secara konsisten di jalur sepanjang 5,3 kilometer setiap Sabtu pertama awal bulan,” ujar Datuk Bandar Abdul Gafar. Pelibatan masyarakat akar rumput hingga keluarga kerajaan Kedah menegaskan satu hal: kota rendah karbon lahir ketika kebijakan bertemu legitimasi sosial, bukan ketika wali kota bekerja sendirian.
Medan: Ekonomi Sirkular Regional sebagai Strategi Tahan Iklim
Jika Alor Setar menonjol pada tata kelola iklim, Medan memposisikan diri sebagai pionir ekonomi sirkular regional. Kota ini meraih IMT-GT Green City Award kategori Gold Circular Economy and Resource Efficiency, sebuah pengakuan atas keberhasilan mendorong pembangunan kota yang inklusif, hijau, dan tangguh terhadap perubahan iklim melalui pengelolaan efisiensi sumber daya dan sampah. Di sini, ekonomi sirkular bukan slogan; ia menjadi kriteria utama penghargaan dan parameter baru keberhasilan kota.
Penghargaan ini diterima Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Gala Dinner IMT-GT ke-32 di Medan. Menurut Tito, kerja sama IMT-GT tidak boleh berhenti pada forum dialog, tetapi harus melahirkan program konkret yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Artinya, keberhasilan Medan adalah bukti bahwa ekonomi sirkular dan efisiensi sumber daya dapat diterjemahkan ke proyek nyata—dari sistem pengelolaan sampah hingga desain kota yang lebih hemat energi. Penghargaan kota hijau di kategori ini menggiring kota-kota lain untuk mengadopsi standar serupa, memaksa mereka mengukur kemajuan bukan dari beton yang dituangkan, tetapi dari sumber daya yang dihemat.
IMT-GT: Kolaborasi Lingkungan Antarnegara sebagai Platform Bagi Kota
Pertemuan Menteri IMT-GT ke-32 di Medan, yang berlangsung 7–10 September, menjadi panggung tempat ekonomi, lingkungan, dan diplomasi kota bertemu. Forum ini bukan sekadar pertemuan pejabat senior dan menteri; ia juga memuat forum bisnis dan pertukaran pengalaman antarkota. Di sinilah kolaborasi lingkungan antarnegara menemukan bentuknya: bukan cuma perjanjian antaribukota, tetapi jaringan kota-kota yang saling belajar dan saling mengisi.
Abdul Gafar mengakui bahwa Alor Setar memanfaatkan forum ini untuk mempelajari pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular dari Pekanbaru serta teknik pengembangan kawasan perkotaan dari Medan. Sementara itu, Tito mengingatkan kembali semangat pembentukan IMT-GT sejak 1993 dan keterlibatan ADB sejak 2007, menegaskan bahwa kerja sama ini harus menghasilkan proyek terukur, bukan daftar keinginan. Bobby Nasution menambahkan harapan agar forum ini menurunkan hambatan lintas batas, merealisasikan proyek dan investasi, dan menaikkan nilai tambah ekonomi demi kesejahteraan masyarakat. Dalam kerangka visi 2036, IMT-GT diarahkan untuk membangun subkawasan yang lebih terintegrasi, kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan. Singkatnya, kolaborasi hijau antarnegara adalah strategi, bukan bonus.
Dari Penghargaan ke Agenda: Saatnya Kota-Kota Lain Menyusul
Penghargaan kota hijau yang diraih Alor Setar dan Medan memancarkan pesan yang lebih luas: pembangunan berkelanjutan IMT-GT mulai bertumpu pada kota, bukan hanya negara. Ekonomi sirkular regional kini menjadi medan kompetisi sekaligus kolaborasi; siapa yang terlambat beradaptasi dengan standar efisiensi sumber daya akan tertinggal dalam jaringan proyek dan investasi lintas batas.
Ke depan, kolaborasi hijau antarnegara akan dimenangkan bukan oleh kota yang paling kaya, melainkan oleh kota yang paling siap berbagi, belajar, dan bereksperimen. Abdul Gafar berharap forum IMT-GT bisa mendorong kerja sama lebih konkret antara pemerintah daerah, masyarakat, sektor swasta, dan media massa. Bobby menyatakan kesiapan Sumatera Utara memperkuat peran dalam IMT-GT melalui penyelarasan prioritas, penyiapan proyek siap investasi, dan kolaborasi lintas sektor. Pertanyaannya sekarang: apakah kota-kota lain mau menjadikan penghargaan ini sebagai titik awal perubahan, atau sekadar foto di dinding kantor wali kota? Pilihan itu akan menentukan peta baru ekonomi sirkular dan keberlanjutan di kawasan dalam dua dekade ke depan.






