Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Industri Haji-Umrah Diminta Hentikan Komoditisasi Agama

Industri Haji-Umrah Diminta Hentikan Komoditisasi Agama
Minat|Destinasi Luar Negeri

Haji-Umrah Bukan Komoditas: Inti Persoalan Industri Perjalanan Suci

Industri haji-umrah adalah ekosistem layanan perjalanan ibadah yang melibatkan biro perjalanan, perbankan, asuransi, dan penyedia jasa lain, yang seharusnya mendukung pengalaman spiritual jemaah secara aman, adil, dan berkelanjutan, bukan menjadikan kesalehan dan kerinduan beribadah sebagai komoditas untuk memaksimalkan keuntungan semata. Di titik inilah pemerintah mulai menarik garis tegas. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengingatkan bahwa semangat menghidupkan ekonomi syariah tidak boleh berubah menjadi praktik mengeksploitasi spiritualitas jemaah sebagai objek dagang. Pernyataan keras ini memperlihatkan kegelisahan: bisnis perjalanan suci kian menggiurkan, namun jika dibiarkan liar, ia berpotensi mencemari makna ibadah dan merusak kepercayaan publik terhadap operator umrah terpercaya yang berusaha bekerja dengan etis.

Industri Haji-Umrah Diminta Hentikan Komoditisasi Agama

Peringatan Wamenhaj: Stop Jadikan Agama Ladang Profit Berlebihan

Dalam Anugerah Perjalanan Suci Indonesia, Dahnil Anzar menyampaikan peringatan langsung kepada pelaku industri haji, umrah, dan juga lembaga perbankan agar menghentikan segala bentuk komoditisasi agama. Kutipannya tegas dan layak dicatat: "Kami di Kementerian Haji dan Umrah menghimbau semua pihak untuk stop menjadikan agama sebagai komoditas". Di balik sikap ini, ada kegundahan terhadap bisnis yang lebih sibuk berburu paket eksklusif ketimbang memastikan kejujuran dan keadaban. Dahnil mengingatkan, perputaran uang jemaah mencapai Rp150 triliun per tahun, dengan 70 persen mengalir keluar negeri. Angka ini menjelaskan mengapa sektor perjalanan suci menggoda banyak pelaku usaha. Namun, ketika ibadah dikemas seperti produk konsumsi biasa, jemaah berisiko kehilangan esensi haji-umrah sebagai perjalanan penyucian diri, bukan wisata religius berbiaya tinggi. Dorongan menuju social entrepreneurship menjadi koreksi penting terhadap mentalitas profit-first.

Asphirasi Connect: Konsolidasi Bisnis yang Mengaku Berorientasi Nilai

Sementara pemerintah menabuh alarm etika, pelaku usaha berhimpun dalam forum Asphirasi Connect 2026 yang diselenggarakan Aliansi Pengusaha Haramain melalui DPD Asphirasi DIY–Solo di sebuah hotel di Jogja. Ketua DPD, Bayu Wicaksono, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi ruang untuk menyamakan visi, menyerap aspirasi, memperkuat komunikasi, dan membangun kolaborasi antara pengurus pusat, daerah, dan mitra. Agenda yang diusung cukup ambisius: serapan aspirasi, sharing strategi bisnis haji-umrah, networking, hingga business matching. Di atas kertas, ini adalah upaya menciptakan ekosistem industri haji-umrah berkelanjutan yang profesional dan sehat. Namun pertanyaannya: apakah business matching tersebut diarahkan mengurangi praktik komersial berlebihan, atau justru mengokohkan pola penjualan paket yang mendorong jemaah sebagai target pasar, bukan subjek ibadah?

Perbankan dan Travel Haji: Antara Cash Outflow dan Tanggung Jawab Moral

Dahnil memaparkan fakta bahwa uang jemaah yang berputar di sektor perjalanan suci mencapai Rp150 triliun per tahun, dengan 70 persen di antaranya mengalir keluar negeri sebagai cash outflow. Instruksi Presiden Prabowo yang dikutip Dahnil—"keluar kantong kanan, masuk kantong kiri"—jelas mengisyaratkan keinginan agar manfaat ekonomi lebih tinggal di dalam negeri. Di sini, perbankan dan biro travel haji berada di posisi kunci: mereka bisa memilih jalan spekulatif berorientasi margin tinggi, atau mengembangkan ekosistem haji-umrah berkelanjutan yang adil bagi jemaah. Wamenhaj menekankan, bisnis perjalanan suci harus menjadi wadah syariat ekonomi Islam yang murni, adil, dan berorientasi pada kemaslahatan jemaah. Artinya, produk pembiayaan dan paket perjalanan tidak sepatutnya memerangkap jemaah dalam beban biaya berlebihan demi mengejar profit, melainkan memudahkan ibadah tanpa mengorbankan integritas spiritual.

Menata Ekosistem: Mengutamakan Nilai Spiritual di Atas Laba

Baik pemerintah maupun asosiasi pengusaha tampaknya sepakat pada satu hal: ekosistem haji-umrah harus dibangun secara profesional, sehat, dan berkelanjutan. Asphirasi sendiri menyatakan komitmen mendorong kolaborasi antarpelaku usaha untuk menghadirkan manfaat nyata bagi anggota dan kemajuan ekosistem perjalanan suci. Di sisi lain, Wamenhaj menegaskan bahwa kehadiran nilai spiritual lebih penting daripada sekadar profit. Dua arus ini perlu disambungkan secara jujur. Tanpa regulasi industri haji yang menekan komoditisasi agama, forum konsolidasi mudah tergelincir menjadi ruang memperkuat kartel paket ibadah. Kesimpulannya, masa depan sektor ini ditentukan bukan hanya oleh kemampuan memilih biro perjalanan haji yang tampak profesional, tetapi oleh keberanian seluruh pelaku—bank, travel, asosiasi, dan pemerintah—menjadikan ibadah sebagai pusat, dan laba sebagai konsekuensi wajar, bukan tujuan utama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!