Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Di Assisi, Diplomasi Agama Menuntut Aksi Nyata

Di Assisi, Diplomasi Agama Menuntut Aksi Nyata
Minat|Destinasi Luar Negeri

Diplomasi agama harus terasa manfaatnya

Diplomasi agama adalah upaya memakai nilai dan dialog lintas iman untuk membangun kerja sama, meredakan konflik, serta menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Di Assisi, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ukuran keberhasilannya bukan banyaknya deklarasi, melainkan tindakan yang meringankan beban manusia. Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal itu menyampaikan gagasan tersebut pada 27 Oktober 2026, dalam sidang pembukaan Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio bertajuk “Unarmed and Disarming Peace”. Sikap ini memberi isi yang lebih kuat bagi diplomasi agama Indonesia: bahasa moral perlu diterjemahkan menjadi bantuan kemanusiaan dan kerja sama lintas negara, bukan berhenti di ruang konferensi. Seruan itu relevan ketika konflik dan krisis kemanusiaan menuntut solidaritas yang dapat dirasakan warga biasa, terutama mereka yang paling membutuhkan dukungan. Tanpa tindak lanjut, dialog berisiko menjadi simbol yang terdengar baik tetapi tak mengubah keadaan.

Di Assisi, Diplomasi Agama Menuntut Aksi Nyata

Menghormati perbedaan, merawat alam

Dalam forum Assisi Italia, Nasaruddin tampil sebagai pembicara kunci di Forum 16, “Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi”. Ia menawarkan pluralisme progresif dan ekoteologi Nusantara sebagai dua pijakan yang saling terkait: masyarakat perlu menghormati perbedaan secara aktif, sementara hubungan dengan alam harus dibangun atas kepedulian, bukan dominasi. Prinsipnya, kerukunan bukan sekadar membiarkan kelompok lain hidup berdampingan, apalagi memaksakan keseragaman. Pesannya—“Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama”—menuntut penghormatan terhadap keberagaman dalam praktik sehari-hari. Gagasan ekoteologi juga penting karena krisis iklim tidak hanya menyangkut teknologi dan kebijakan, tetapi cara manusia memandang alam. Rumah ibadah dapat menjadi tempat pendidikan lingkungan, solidaritas sosial, dan aksi kemanusiaan. Dengan begitu, perdamaian dunia tidak dipisahkan dari keadilan sosial maupun tanggung jawab ekologis.

Nasaruddin turut mengangkat pengalaman Masjid Istiqlal sebagai contoh bahwa nilai spiritual dapat diterjemahkan menjadi langkah yang terukur. Peremajaan ramah lingkungan, termasuk pemanfaatan panel surya dan pengelolaan air wudu, disebut menghasilkan penghematan energi sebesar 23 persen dan air hingga 36 persen. Angka tersebut memberi bobot praktis pada seruan ekoteologi: kepedulian terhadap alam dapat diwujudkan melalui pengelolaan rumah ibadah, bukan hanya nasihat. Tantangannya ialah memperluas praktik semacam ini agar menjadi kebiasaan lembaga keagamaan dan memberi dampak langsung bagi komunitas.

Di Assisi, Diplomasi Agama Menuntut Aksi Nyata

Teladan Madinah dan seruan MUI

Seruan perdamaian di Assisi juga datang dari Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud. Dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian ke-40, yang berlangsung pada 25–27 Oktober 2026, ia mengajak pemimpin agama berperan mengakhiri konflik bersenjata melalui dialog, diplomasi, dan penghormatan terhadap keberagaman. Marsudi menyoroti konflik di Gaza, Myanmar, Ukraina, Iran, dan Yaman, lalu mengajukan pengalaman masyarakat Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW sebagai rujukan hidup bersama di tengah kemajemukan. Pelajarannya jelas: perbedaan agama dan identitas tidak harus menjadi sumber pertikaian; kesepakatan bersama dapat menjadi dasar bagi kehidupan yang damai. Rujukan sejarah ini akan bermakna jika tidak dipakai sebatas simbol, melainkan mendorong keberanian menolak kekerasan dan membuka ruang perlindungan bagi warga terdampak. Agama semestinya menjadi kekuatan moral untuk menghentikan permusuhan, bukan pembenaran bagi perang.

Di Assisi, Diplomasi Agama Menuntut Aksi Nyata

Dukungan harus berujung pada kerja bersama

Gagasan Nasaruddin memperoleh dukungan dari pemimpin agama dunia yang menekankan pentingnya dialog lintas iman dengan dampak langsung bagi masyarakat. Dukungan itu memberi ruang bagi diplomasi agama Indonesia untuk membangun jejaring, tetapi pengakuan internasional bukan hasil akhir. Ukurannya adalah apakah kerja sama tersebut membantu warga, menjaga alam, dan memperkuat perlindungan bagi kelompok yang terancam konflik. Usai agenda di Assisi, Nasaruddin dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Vatikan untuk bertemu Menteri Luar Negeri Takhta Suci dan menjajaki kerja sama kajian keagamaan dengan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica. Pertemuan lanjutan ini berpotensi memperluas pertukaran gagasan; manfaatnya tetap bergantung pada tindak lanjut yang konkret. Seruan MUI dan Menag bertemu pada satu tuntutan: perdamaian harus dibangun melalui penghormatan, solidaritas, dan tindakan.

Di Assisi, Diplomasi Agama Menuntut Aksi Nyata

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!