Kebutuhan jemaah adalah pasar yang nyata
Ekonomi haji dan umrah adalah rangkaian kegiatan usaha yang menyediakan barang dan layanan bagi jemaah, sekaligus membuka peluang agar manfaat ekonomi menjangkau masyarakat lebih luas. Karena itu, kebutuhan perjalanan ibadah patut dilihat sebagai pasar yang dapat dimasuki UMKM, bukan semata urusan penyelenggara perjalanan. Di DIY, produk yang berpotensi memasok kebutuhan jemaah meliputi kain ihram, perlengkapan ibadah, batik, cendera mata, serta pangan dan kuliner lokal yang memenuhi standar kualitas[Gus Irfan menyebut produk UMKM Yogyakarta berpotensi memasok berbagai kebutuhan jemaah haji dan umrah, seperti kain ihram, perlengkapan ibadah, batik, dan cendera mata. Produk pangan dan kuliner lokal juga dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah di Tanah Suci dengan tetap memperhatikan kualitas dan standar produk.]. Ragam ini memberi ruang bagi usaha dengan skala dan keahlian berbeda. Namun, peluang usaha umrah tidak otomatis menjadi pesanan: produk harus sesuai kebutuhan, konsisten mutunya, dan mampu memenuhi permintaan.
Peluang tersebut menjadi alasan kuat bagi UMKM Yogyakarta untuk menilai kembali produk dan kapasitasnya. Kain, fesyen, kerajinan, serta makanan dapat memiliki pembeli di luar pasar lokal, tetapi kebutuhan jemaah menuntut ketepatan fungsi dan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi pelaku UMKM haji umrah, pasar ini bukan hanya soal menambah jenis barang; kemasan, ketahanan, dan keteraturan pasokan juga menentukan apakah calon mitra bersedia bekerja sama. Dengan demikian, jalan menuju pasar yang lebih luas dimulai dari kesiapan usaha, bukan dari klaim bahwa produk lokal sudah pasti laku.
Expo membuka pintu, kemitraan menentukan kelanjutannya
Jogja Expo 2026 berlangsung di Jogja Expo Center pada Jumat, 23 Oktober 2026. Dalam acara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah yang inklusif, inovatif, serta berorientasi pada kemaslahatan masyarakat[Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah yang inklusif, inovatif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Hal itu disampaikan dalam Jogja Expo 2026 di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).]. Sebanyak 121 UMKM dijadwalkan mengisi tenant dengan perlengkapan ibadah, fesyen muslim, produk unggulan daerah, makanan dan minuman, serta kebutuhan jemaah lainnya; penyelenggara menargetkan 15 ribu pengunjung[Sebanyak 121 UMKM dijadwalkan mengisi tenant yang menawarkan perlengkapan haji dan umrah, fesyen muslim, produk unggulan daerah, makanan dan minuman, serta kebutuhan jemaah lainnya, dengan target 15 ribu pengunjung.]. Skala ini memberi visibilitas, tetapi jumlah peserta saja belum membuktikan bahwa transaksi akan berlanjut.
Bagian yang lebih strategis adalah temu bisnis. Kegiatan tersebut melibatkan 130 pelaku usaha atau UMKM, sementara kurasi dan pencocokan bisnis mempertemukan peserta dengan calon mitra untuk menjajaki kerja sama dan akses pasar baru[Kegiatan ini juga menggelar temu bisnis yang melibatkan 130 pelaku usaha atau UMKM. Melalui kurasi dan pencocokan bisnis, para peserta dipertemukan dengan calon mitra untuk menjajaki kerja sama dan memperluas akses ke pasar baru.]. Expo ini merupakan penyelenggaraan keempat setelah kegiatan sebelumnya di Madiun, Bali, dan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan[Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah ini merupakan penyelenggaraan keempat setelah sebelumnya berlangsung di Madiun, Bali, dan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.]. Agar pertemuan berbuah hasil, UMKM perlu menindaklanjuti calon mitra dengan penawaran yang jelas, kapasitas pasokan yang realistis, dan standar mutu yang konsisten.
Ekosistem inklusif perlu ditopang kesiapan usaha
Sri Sultan menempatkan kemaslahatan sebagai ukuran penting pertumbuhan: haji dan umrah, menurutnya, tidak hanya berdimensi ibadah, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi yang dapat memberi manfaat luas[Sri Sultan menilai haji dan umrah tidak hanya memiliki dimensi ibadah, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi yang berpotensi memberikan manfaat luas bagi masyarakat.]. Pandangan ini tepat, sebab pasar tidak akan inklusif bila peluang hanya dinikmati usaha yang sudah memiliki akses dan skala besar. Kreativitas serta tradisi kewirausahaan Yogyakarta dapat menjadi modal bagi UMKM untuk masuk ke rantai pasok, asalkan perluasan kemitraan disertai peningkatan kapasitas produksi, inovasi produk, integritas, dan standar mutu. Orientasi pada manusia juga berarti kualitas dan tanggung jawab terhadap jemaah tidak boleh dikorbankan demi mengejar penjualan.
Langkah berikutnya harus melampaui keramaian pameran. Sri Sultan berharap Jogja Expo membangun kemitraan berkelanjutan antara pelaku usaha, pemerintah, dan mitra strategis, memperluas akses UMKM Yogyakarta ke pasar global sekaligus memperkuat tata kelola layanan haji dan umrah[Melalui Jogja Expo 2026, Sri Sultan berharap terbangun kemitraan berkelanjutan antara pelaku usaha, pemerintah, dan mitra strategis. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas akses UMKM Yogyakarta ke pasar global sekaligus memperkuat tata kelola layanan haji dan umrah.]. Harapan itu menuntut tindak lanjut berupa pendampingan, proses kurasi yang jelas, dan hubungan dagang yang terus dipelihara setelah acara selesai. Kesimpulannya, kebutuhan jemaah membuka peluang usaha umrah yang menjanjikan bagi UMKM DIY, tetapi expo hanyalah pintu masuk. Kemitraan yang konsisten, produk bermutu, dan manfaat yang dirasakan masyarakat akan menentukan apakah ekonomi haji benar-benar tumbuh secara inklusif.






