Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Peran Orang Tua di Era Digital dan Ketahanan Keluarga

Peran Orang Tua di Era Digital dan Ketahanan Keluarga
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Ketahanan Keluarga di Era Digital: Mengapa Orang Tua Harus Berubah

Peran orang tua di era digital adalah kemampuan mengasuh, mengarahkan, dan melindungi anak melalui pola asuh era digital yang dialogis, sadar teknologi, dan berorientasi pada ketahanan keluarga anak agar mereka mampu menghadapi tantangan generasi digital tanpa kehilangan jati diri dan nilai moral yang menjadi pegangan hidup.

Ancaman terhadap tumbuh kembang anak di era digital tidak lagi bersifat abstrak: arus informasi tanpa saring, perubahan perilaku sosial, dan akses konten tanpa batas membuat anak mudah kehilangan arah jika keluarga rapuh. Di titik inilah ketahanan keluarga bukan jargon, melainkan kebutuhan mendesak. Wakil Ketua DPRD Sumbar, Iqra Chissa, mengingatkan bahwa keluarga adalah benteng pertama pembentukan karakter anak dan penopang masyarakat sejahtera. Ajakan ini ia sampaikan saat sosialisasi Perda Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga di Gedung Pertemuan DPD Golkar Kota Padang pada Minggu, 18 Oktober 2026.

Poin terpenting: pola asuh otoriter yang hanya mengandalkan perintah dan hukuman tidak lagi memadai. Anak generasi gawai membutuhkan alasan, dialog, dan teladan, bukan sekadar larangan. Jika orang tua tetap bertahan pada pola lama, mereka bukan hanya tertinggal, tetapi berisiko kehilangan kepercayaan anak. Ketahanan keluarga anak lahir dari rumah yang hangat, komunikatif, dan melek teknologi, bukan dari rumah yang penuh teriakan namun miskin kehadiran emosional.

Pola Asuh Era Digital: Dari Larangan Kaku ke Kesepakatan Dewasa

Membentuk karakter anak di era digital memerlukan strategi khusus; pola pengasuhan masa kini tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama yang terkesan otoriter dan satu arah, melainkan menuntut komunikasi interaktif, kesepakatan bersama, dan sinergi erat antara orang tua dan pendidik untuk menghadapi tantangan generasi digital secara lebih manusiawi dan efektif.

Diskusi keilmuan bertema “Merajut Sinergi, Menguatkan Generasi” menegaskan empat hal penting: orang tua adalah sekolah pertama, gawai dibatasi dengan kesepakatan, adab di atas ilmu, dan guru serta orang tua wajib mawas diri. Di sini terlihat jelas: pola asuh era digital bukan tentang memusuhi teknologi, tetapi mengelolanya. Penggunaan gawai tidak bisa dilarang secara kaku; orang tua disarankan membuat aturan dan kesepakatan bersama anak terkait durasi dan batasan usia konten agar anak tidak merasa terkekang namun tetap terlindungi.

Pengawasan gawai pun tidak cukup dengan larangan semata; orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, memahami aktivitas digital anak, dan mendampingi sesuai tahap perkembangan mereka. Ini menuntut kedewasaan emosional orang tua: berani mendengar, siap berdiskusi, dan konsisten memberi teladan. Tanpa itu, aturan hanya menjadi daftar larangan yang mudah dilanggar begitu anak memegang gawai di luar jangkauan rumah.

Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua: Kelas Karakter Dimulai di Rumah

Pembentukan karakter anak tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Menurut berbagai narasumber dalam diskusi pendidikan, karakter adalah pembiasaan; apa yang dilihat dan dicontohkan secara konsisten di rumah dan sekolah, itulah yang membentuk kebiasaan anak. Artinya, kolaborasi sekolah orang tua bukan pelengkap, melainkan inti dari pendidikan karakter di era digital.

Pola pengasuhan masa kini menuntut komunikasi interaktif dan sinergi erat antara orang tua dan pendidik. Sesi diskusi dan tanya jawab dua arah antara sekolah dan orang tua dinilai jauh lebih efektif dibandingkan seminar satu arah yang hanya memindahkan materi tanpa mengubah perilaku. Di ruang-ruang dialog seperti ini, orang tua dapat mengakui kekhawatiran mereka terhadap tantangan generasi digital, sementara guru dapat menjelaskan batasan dan harapan sekolah, terutama terkait disiplin, kejujuran akademis, dan etika bermedia sosial.

Ketika anak mengalami penurunan disiplin atau masalah perilaku, ajakan untuk mawas diri ditujukan kepada kedua pihak: orang tua dan guru diminta mengoreksi metode pengasuhan dan pembelajaran mereka sebelum menyalahkan anak. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan ketahanan keluarga anak: anak yang tumbuh di dua ekosistem selaras—rumah dan sekolah—akan lebih siap menghadapi tekanan digital, pergaulan bebas, dan godaan konten destruktif.

Perda Ketahanan Keluarga: Regulasi Tanpa Perubahan Pola Asuh Hanya Simbolik

Sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga menjadi contoh bagaimana negara mencoba merespons tantangan generasi digital melalui pendekatan sistemik. Dalam kegiatan yang digelar di Gedung Pertemuan DPD Golkar Kota Padang pada 18 Oktober 2026, Iqra Chissa menegaskan bahwa ketahanan keluarga adalah fondasi membangun generasi muda berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Menurut Iqra, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak, menjaga keharmonisan rumah tangga, dan membangun masyarakat sejahtera. Ia menekankan bahwa ketahanan keluarga harus dimulai dari rumah: komunikasi yang baik, teladan, dan pendampingan anak menghadapi perkembangan zaman. Ia juga mengingatkan bahwa ketahanan keluarga tidak bisa diukur hanya dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi; kedekatan emosional, waktu berkualitas, dan penanaman nilai moral sejak dini memegang peran besar.

Namun, regulasi tanpa perubahan pola asuh hanya akan berhenti sebagai dokumen. Iqra menilai Perda ini harus menjadi landasan untuk memperkuat peran keluarga, bukan sekadar aturan di atas kertas; pelaksanaannya membutuhkan sinergi pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat agar program ketahanan keluarga benar-benar menjawab kebutuhan warga. Edukasi pengasuhan, dukungan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan pendampingan keluarga perlu berjalan seiring untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Ketahanan Keluarga sebagai Agenda Bersama: Dari Rumah ke Kebijakan Publik

Ketahanan keluarga anak bukan hanya urusan dapur dan ruang tamu; ia adalah agenda publik. Sosialisasi Perda Ketahanan Keluarga menegaskan bahwa penguatan keluarga adalah bagian penting dari pembangunan sosial yang membutuhkan perhatian bersama. Iqra mengajak masyarakat memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi tantangan sosial dan perkembangan teknologi digital.

Di sisi lain, ia mendorong masyarakat memanfaatkan program pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi keluarga, agar kebutuhan dasar dapat terpenuhi dan kesejahteraan meningkat. Perhatian khusus juga diberikan kepada perempuan kepala keluarga melalui akses pelatihan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi, sebagai upaya membuka peluang kemandirian dan memperkuat kemampuan keluarga menghadapi tekanan kehidupan. Di tingkat pendidikan, diskusi keilmuan tentang sinergi orang tua dan lembaga pendidikan ditutup dengan rekomendasi perlunya aksi nyata dan komitmen berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi generasi muda.

Kesimpulannya tegas: pola asuh era digital yang dialogis, kolaborasi sekolah orang tua yang aktif, dan regulasi yang berpihak pada keluarga adalah tiga pilar yang tidak boleh dipisahkan. Tanpa ketiganya, tantangan generasi digital akan terus menggerus karakter dan kepercayaan diri anak. Dengan ketiganya, keluarga dapat kembali menjadi benteng pertama dan utama yang menyelamatkan generasi muda dari arus digital yang tak kenal ampun.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!