Pendampingan Anak Era Digital: Bukan Melarang Gawai, Tapi Menguatkan Keluarga
Pendampingan anak era digital adalah upaya sadar dan terencana dari orang tua, guru, dan komunitas untuk membantu anak memahami, menggunakan, dan menyaring teknologi digital secara sehat, aman, dan bertanggung jawab, agar manfaat informasi yang luas dapat dirasakan tanpa mengorbankan perkembangan karakter, emosi, dan sosial mereka. Di tengah banjir gadget dan akses internet, pilihan orang tua tidak lagi sesederhana mengizinkan atau melarang. Tantangannya adalah: apakah keluarga siap menjadi filter utama sebelum algoritma dan konten acak di layar mengambil alih peran pengasuh? Inisiatif komunitas lokal menunjukkan arah yang jelas: penguatan kualitas interaksi di rumah, edukasi orang tua teknologi, dan kolaborasi sekolah keluarga lebih mendesak daripada sekadar aturan jam layar.
Forum PAUD Lamongan: Parenting Dimulai dari Orang Tua yang Melek Digital
Langkah konkret pendampingan anak era digital terlihat ketika Forum PAUD bersama TP PKK dan Dinas Pendidikan Lamongan menggelar seminar parenting bertema “Pengasuhan Anak di Era Digital” di Pendopo Lokatantra pada Selasa (22/9). Acara ini dibuka Wakil Bupati Dirham Akbar Aksara yang menegaskan bahwa teknologi hadir untuk memudahkan akses informasi, tetapi anak belum mampu memfilter konten yang masuk ke gawai mereka sehingga butuh pendampingan orang tua. Data yang disampaikan menggugah: 24,9 persen anak di Jawa Timur merasakan fatherless, sementara ayah dianjurkan minimal menyediakan satu jam quality time tanpa gadget setiap hari. “Survei di Jawa Timur 24,9 persen anak-anak kita merasakan fatherless,” tegas Dirham Akbar Aksara. Dengan 215 peserta dari 27 kecamatan, seminar parenting komunitas ini jelas bukan seremonial; ini sinyal bahwa pengasuhan era digital harus menjadi agenda publik, bukan urusan domestik yang sunyi.

Seminar Komunitas sebagai Sekolah Orang Tua: Mengubah Ego Menjadi Edukasi
Seminar parenting komunitas di Lamongan tidak hanya menambah wawasan, tetapi menantang pola asuh yang reaktif dan berbasis ego. Ketua TP PKK yang sekaligus Bunda PAUD menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah memberi tambahan wawasan kepada ayah-bunda anak PAUD tentang pola pengasuhan positif, sekaligus menekan ego orang tua yang cenderung memenuhi setiap permintaan anak di era digital. Pendekatan ini penting: ketika gawai dijadikan pengganti kehendak dan komunikasi, anak belajar bahwa menangis dan merengek cukup “dibayar” dengan layar, bukan dialog. Dengan dasar 7 kebiasaan anak hebat dan program wajib belajar 13 tahun, seminar ini mendorong orang tua melihat teknologi sebagai alat, bukan reward instan. Edukasi orang tua teknologi di ruang komunitas membuat pesan lebih membumi: berbicara soal filter konten dan batas waktu layar selalu dikaitkan dengan nilai teladan, kedekatan emosional, dan kebiasaan baik di rumah.
Tangsel: Guru Diajak Menjadi Garda Depan Keamanan Digital Anak
Di kota lain, perhatian serupa muncul lewat Seminar Edukasi Dampak Digital terhadap Anak dan Remaja yang digelar di Puspemkot Tangerang Selatan pada Rabu (23/9), diinisiasi oleh lembaga perempuan di lingkungan sekretariat daerah. Sekretaris Daerah Bambang Noertjahjo menekankan bahwa anak SD hingga SMP mudah menyerap informasi, sehingga mereka membutuhkan pendampingan dalam memilah informasi digital. Ia mengingatkan bahwa membatasi gawai saja tidak cukup; anak perlu dibekali kemampuan menggunakan teknologi secara sehat, aman, bijak, dan bertanggung jawab. Pandangan ini tepat: larangan tanpa literasi hanya menunda masalah. Guru didorong bukan sekadar mengajar materi, tetapi membentuk karakter dan menjadi rujukan ketika siswa menghadapi persoalan digital. Di sini, sekolah menjadi ruang latihan nyata bagi anak untuk menguji nilai yang diajarkan di rumah saat berhadapan dengan dunia maya.

Kolaborasi Sekolah–Keluarga: Strategi Terstruktur Menghadapi Risiko dan Manfaat Teknologi
Baik di Lamongan maupun Tangsel, pola yang tampak adalah kolaborasi sekolah keluarga yang semakin terstruktur. Pemerintah daerah mengajak pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat bekerja bersama karena peran mereka saling melengkapi dalam pendampingan anak. Pemerintah merancang kebijakan dan program; sekolah memberi pendidikan dan pendampingan; guru menjadi teladan; orang tua menyediakan pengawasan dan penguatan di rumah. Di Tangsel, keamanan digital dimasukkan ke program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, bahkan dikoordinasikan dengan kementerian terkait untuk menyasar sedikitnya 1.000 peserta didik dari PAUD hingga SMA. Namun tantangan tetap ada: kekurangan sekitar 900 guru dan minimnya guru pendamping khusus—hanya 5 dari 99 guru bersertifikat yang berfungsi sebagai GPK, sementara kebutuhan diperkirakan lebih dari 80 orang. Artinya, strategi pendampingan anak era digital harus disertai investasi serius pada tenaga pendidik, jika tidak ingin ketimpangan literasi digital memperlebar jarak antar anak.
Penutup: Dari Seminar ke Aksi Sehari-hari di Rumah dan Sekolah
Benang merah dari dua inisiatif komunitas ini jelas: pendampingan anak era digital adalah kerja kolektif yang berangkat dari kesadaran lokal. Manfaat teknologi dan risiko paparan informasi pada masa pembentukan karakter tidak bisa ditangani dengan larangan sporadis. Pendekatan yang muncul—seminar parenting komunitas, edukasi orang tua teknologi, penguatan peran guru, hingga program keamanan digital di sekolah—adalah fondasi awal yang menjanjikan. Kuncinya sekarang adalah konsistensi. Materi seminar harus diterjemahkan menjadi kebiasaan harian: ayah yang pulang kerja menyempatkan quality time tanpa gawai, guru yang memasukkan literasi digital ke diskusi kelas, dan sekolah yang terus menjalin kolaborasi sekolah keluarga. Jika komunitas lokal bisa menjaga ritme ini, teknologi tidak lagi menjadi ancaman utama, melainkan ruang belajar luas yang tetap berpijak pada kedekatan manusiawi di rumah dan sekolah.






