Pengasuhan Era Digital: Lebih dari Sekadar Mengawasi Layar
Pengasuhan era digital adalah proses mendampingi tumbuh kembang anak dengan mempertimbangkan pengaruh teknologi, informasi online, dan media sosial, sekaligus menyeimbangkan kebutuhan fisik, mental, emosional, dan spiritual anak melalui keterlibatan aktif orang tua di rumah dan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, gadget dan internet bukan sekadar alat hiburan, tetapi ruang baru pembentukan karakter dan kebiasaan anak. Karena itu, orang tua yang hanya fokus pada larangan screen time akan tertinggal; tantangan orang tua online menuntut kemampuan memahami bagaimana teknologi membentuk cara anak belajar, berinteraksi, dan memaknai dunia. Inilah alasan pengasuhan tradisional yang kaku perlu digeser menuju parenting positif digital yang sadar risiko, namun tetap melihat peluang pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari proses belajar dan penguatan hubungan keluarga.
Mengapa DWP Ambon Memilih Pendekatan Holistik
Ketika Dharma Wanita Persatuan Bagian Umum Sekretariat Daerah Kota Ambon menggelar edukasi parenting di Ruang Vlissingen, Balai Kota Ambon, yang diikuti sekitar 100 peserta dari unsur ASN dan pengurus DWP, pesan yang diusung jelas: pengasuhan era digital tidak bisa dijawab dengan solusi parsial. Program ini dirancang sebagai respons terhadap semakin kompleksnya tantangan pengasuhan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Alih-alih hanya membahas bahaya internet, DWP menekankan edukasi parenting holistik yang menggabungkan pemenuhan gizi, kesehatan fisik, pendidikan, perlindungan, dan kesehatan mental anak. Pendekatan ini patut diapresiasi karena menyadari bahwa tekanan digital — dari arus informasi hingga standar sosial di media — berkelindan dengan kondisi emosional dan spiritual anak. Tanpa fondasi karakter dan mental yang kuat, segala aturan tentang penggunaan teknologi akan rapuh dan mudah runtuh begitu anak berhadapan dengan dunia online.

Mengintegrasikan Teknologi dengan Nilai Keluarga
Pidato Ketua DWP Kota Ambon, Saartje Sapulette, menegaskan arah program: pola pengasuhan yang tepat adalah kuncinya, yaitu melalui pendekatan pengasuhan yang holistik. Dalam pengasuhan era digital, teknologi tidak bisa ditempatkan sebagai musuh, tetapi perlu diintegrasikan dengan nilai-nilai keluarga. Melalui edukasi ini, DWP mendorong pola pengasuhan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kesehatan mental, serta nilai-nilai spiritual anak sejak usia dini. Tantangan orang tua online muncul ketika anak mendapatkan akses informasi tanpa filter, sementara di rumah kurang hadir keteladanan, disiplin, dan empati. Menanamkan kejujuran, empati, disiplin, dan rasa syukur sejak dini menjadi bentuk benteng nilai yang membuat anak lebih kritis terhadap konten digital. Di sinilah letak parenting positif digital: bukan menghapus teknologi dari kehidupan anak, tetapi menyambungkannya dengan kultur keluarga yang sehat, penuh kasih, dan sekaligus tegas.
Peran Aktif Orang Tua dan Komitmen Pemerintah Daerah
Kegiatan bertema “Melalui Pola Pengasuhan Holistik dan Penuh Kasih dari Rumah, Kita Membangun Karakter, Mental, serta Spiritual Anak yang Tangguh untuk Mempertahankan Masa Depan” diikuti 100 peserta, terdiri atas Ketua DWP berbagai OPD, ASN, serta pengurus dan anggota DWP unit Bagian Umum. Ini bukan acara seremonial; kehadiran unsur aparatur menunjukkan komitmen pemerintah daerah mendukung parenting positif digital di tengah transformasi teknologi. Ketua DWP Bagian Umum, Chatarina Aulele, menyebut kegiatan ini sebagai wadah belajar bersama agar orang tua menjadi lebih bijak, responsif, dan adaptif dalam pengasuhan. Pernyataan tersebut penting: di era informasi yang deras, orang tua tidak boleh anti-belajar. Komunikasi terbuka dengan anak, memahami kebutuhan mereka, dan mengarahkan penggunaan teknologi untuk mendukung proses belajar dan perkembangan anak adalah bentuk peran aktif yang jauh lebih efektif dibanding sekadar mengontrol atau mengawasi dari kejauhan.
Rumah Sebagai Sekolah Digital Pertama Anak
Inisiatif lokal ini mengingatkan bahwa rumah adalah sekolah pertama yang penuh cinta, dan orang tua adalah guru pertama yang menginspirasi. Di tengah tantangan orang tua online, kalimat tersebut bukan slogan manis, tetapi kritik halus bagi keluarga yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada sekolah dan layar. Penguatan peran orang tua diharapkan dapat membantu anak tumbuh dengan kecerdasan intelektual, mental yang tangguh, serta nilai moral dan spiritual yang kuat di tengah perubahan zaman. Artinya, pengasuhan era digital menuntut lebih dari aturan jam bermain gadget; ia menuntut kehadiran, keteladanan, dan dialog sehari-hari tentang apa yang anak lihat dan rasakan di dunia online. Jika program edukasi parenting holistik seperti yang digelar DWP terus dijalankan dan diperluas, kota-kota lain selayaknya menjadikannya contoh bahwa transformasi digital hanya akan sehat bila dimulai dari ruang paling sederhana: obrolan di ruang keluarga.






