BATIC sebagai Laboratorium Hidup Keberlanjutan Telin
Telin menjadikan Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) sebagai laboratorium hidup untuk menguji inisiatif keberlanjutan Telin yang menghubungkan aksi lingkungan, pemberdayaan sosial, dan akuntabilitas karbon dengan strategi transformasi digital dan pengembangan ekosistem bisnis yang lebih inklusif dan tangguh. Di Nusa Dua, Telin tidak hanya menggelar forum digital skala internasional, tetapi menenun nilai hijau ke dalam detail acara: dari cara peserta bepergian, menginap, hingga bagaimana sampah diproses. Pendekatan ini layak dibaca sebagai pernyataan politik korporasi: telekomunikasi tidak lagi bisa bersembunyi di balik narasi “enabler ekonomi digital” tanpa mengukur jejak ekologisnya sendiri. Komitmen yang disampaikan CEO Telin, Abdul Rahman Ansyori, menegaskan bahwa keberlanjutan adalah cara menjalankan bisnis, bukan program sampingan—dan BATIC dipilih sebagai panggung untuk membuktikannya di depan mitra global.
Green Journey Digital: Mengurangi Jejak, Bukan Sekadar Mengompensasi
Pilar pertama, BATIC Green Journey, adalah inti dari green journey digital Telin: mengurangi dampak sebelum bicara kompensasi. Program ini dibangun di atas tiga komponen konkret—Green Travel, Green Stay, dan Waste Management—yang menarget titik paling ‘boros’ karbon dari sebuah konferensi: mobilitas, akomodasi, dan sampah. Telin mendorong transportasi bersama untuk menekan penggunaan kendaraan individu, bekerja sama dengan hotel bersertifikasi ramah lingkungan, lalu menutup rantai dengan manajemen sampah yang terukur. Salah satu kalimat yang patut dikutip adalah: “BATIC 2026 berhasil mengelola sekitar 2,3 ton sampah dengan 79% di antaranya didaur ulang dan menghindari emisi sebesar 1.643 kilogram CO₂e.” Angka-angka ini menunjukkan niat serius: inisiatif keberlanjutan Telin bukan gimmick pemasaran, tetapi dibangun di atas data, target, dan pengurangan emisi yang bisa diaudit. Jika konferensi digital saja dituntut transparan, ekosistem jaringan yang menopangnya seharusnya menyusul.

Connected by Purpose: Ekosistem Digital yang Manusiawi
Pilar kedua, Connected by Purpose, mengingatkan bahwa transformasi digital tanpa dimensi sosial akan berakhir elitis. Telin mengisi pilar ini dengan dua lapis: diskusi strategis lewat program EmpowHER dan kontribusi langsung melalui Charity Fun Run. EmpowHER membuka ruang bagi perempuan untuk membahas bagaimana mereka membentuk ekosistem digital, sebuah langkah penting di sektor telekomunikasi yang historis maskulin. Di sisi lain, Fun Run diarahkan ke pemulihan masyarakat terdampak bencana melalui kerja sama dengan koperasi lokal di Nusa Tenggara Timur, menghubungkan peserta global dengan realitas kerentanan di lapangan. Kehadiran budaya dan kearifan lokal di berbagai elemen acara semakin menegaskan bahwa ekosistem digital yang ingin dibangun Telin bukan menara abstrak data dan kabel, melainkan jaringan yang menempel pada komunitas, pelaku usaha kecil, dan identitas setempat. Di sini, keberlanjutan dibaca sebagai keadilan: siapa yang diikutsertakan, siapa yang menerima manfaat, dan siapa yang tidak ditinggalkan.

Collective Carbon Action dan 11.723 Mangrove: Telekomunikasi Masuk Era Akuntabilitas Karbon
Pilar ketiga, Collective Carbon Action, adalah ajakan agar sektor telekomunikasi berhenti bersembunyi di balik narasi “emisi tak langsung”. Telin mempraktikkannya lewat program Miles to Mangrove yang mengonversi riwayat perjalanan udara peserta BATIC menjadi komitmen penanaman mangrove di pesisir. Hasilnya: 11.723 pohon mangrove dicatat sebagai aksi kolektif restorasi ekosistem pantai. Ini lebih dari sekadar penanaman simbolik; mangrove adalah infrastruktur alami penahan abrasi dan penyerap karbon, sehingga aksi karbon telekomunikasi Telin menyentuh titik kritis krisis iklim. Di level narasi, Telin jelas ingin menunjukkan bahwa perjalanan bisnis internasional bisa dibarengi aksi nyata terhadap kelestarian alam—sebuah pesan penting di era konferensi yang kerap dituding boros emisi. Namun, tantangan berikutnya adalah konsistensi: akankah logika kolektif ini diperluas ke operasi jaringan, data center, dan rantai pasok perangkat yang selama ini jarang tersentuh diskusi publik?

Laporan Keberlanjutan Pertama: Menggiring Industri ke Transparansi ESG
Langkah paling strategis dari seluruh rangkaian BATIC adalah peluncuran laporan keberlanjutan pertama Telin bertajuk “Connecting with Purpose”. Di bawah payung GoZero% – Sustainability Action by Telkom Indonesia, laporan ini mendokumentasikan perjalanan, capaian, dan arah pengembangan keberlanjutan Telin secara terstruktur sekaligus mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam strategi perusahaan. Pernyataan Ansyori tajam: perusahaan ingin melihat kembali apa yang telah dilakukan dan terus mencari ruang untuk menciptakan manfaat yang lebih luas bagi perusahaan, masyarakat, dan lingkungan. Dengan kata lain, angka emisi, volume sampah, hingga penanaman mangrove tidak lagi berhenti di siaran pers; semuanya ditempatkan dalam kerangka akuntabilitas karbon yang bisa diuji. BATIC menampilkan bahwa kemajuan digital dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap bumi dan masyarakat—dan Telin, lewat inisiatif keberlanjutan Telin yang terukur, menantang pelaku telekomunikasi lain untuk membuka data dan strategi mereka sendiri.






