BATIC Sebagai Panggung Baru Inisiatif Keberlanjutan Telekomunikasi
Inisiatif keberlanjutan telekomunikasi dalam konteks BATIC adalah upaya sadar perusahaan digital untuk menautkan pertumbuhan trafik data, perjalanan bisnis, dan pembangunan ekosistem dengan pengurangan jejak karbon, pengelolaan sampah, serta pemberdayaan sosial sehingga konferensi industri bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang aksi lingkungan dan sosial yang terukur dan transparan. Di Nusa Dua, BATIC menjadi bukti bahwa konferensi besar tak mesti identik dengan beban ekologis tanpa solusi. Telin membawa tiga pilar keberlanjutan—BATIC Green Journey, Connected by Purpose, dan Collective Carbon Action—sebagai kerangka yang menempatkan keberlanjutan di garis depan, bukan di catatan kaki aktivitas pemasaran.
Yang menarik, langkah ini bukan sekadar dekorasi hijau. CEO Telin Abdul Rahman Ansyori menegaskan bahwa keberlanjutan adalah bagian dari cara perusahaan membangun dan mengembangkan ekosistem digital, bukan proyek sampingan yang bisa dihapus ketika anggaran menipis. Posisi keberlanjutan yang sedekat ini dengan strategi inti patut dibaca sebagai pergeseran paradigma: pemain telekomunikasi mulai memahami bahwa lisensi sosial untuk beroperasi di era digital akan banyak ditentukan oleh rekam jejak lingkungan dan sosial mereka.

Green Journey Digital: Mengikat Mobilitas Data dengan Tanggung Jawab Lingkungan
Pilar BATIC Green Journey menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat diselaraskan dengan tanggung jawab lingkungan. Di sini, konsep green journey digital bukan slogan abstrak, melainkan rangkaian praktik: Green Travel, Green Stay, dan pengelolaan sampah. Peserta konferensi didorong memakai transportasi bersama, pilihan hotel dan venue disaring lewat standar ramah lingkungan, dan seluruh operasional acara dikaji dari sudut pandang jejak karbon. Telin seakan mengirim pesan tajam: jika industri digital mengklaim dirinya efisien dan cerdas, maka cara bergerak dan menginap saat konferensi juga harus mengikuti logika efisiensi ekologis.
Angka yang muncul dari program ini cukup menggugah. Sekitar 2,3 ton sampah dari BATIC dikelola, dengan 79% berhasil didaur ulang; langkah ini disebut menghindari emisi sekitar 1.643 kilogram CO₂e. Ini bukan volume yang mengubah dunia sendirian, tetapi sangat penting sebagai preseden: konferensi digital internasional dapat dirancang dengan target pengurangan emisi yang jelas dan dilaporkan, bukan sekadar ‘paperless’ tanpa metrik. Kalau pendekatan seperti ini direplikasi lintas acara dan perusahaan, green journey digital akan bertransformasi menjadi standar baru industri, bukan program CSR yang berdiri di luar model bisnis.
Connected by Purpose: Mengaitkan Ekosistem Digital dengan Manusia dan Komunitas
Pilar Connected by Purpose mengingatkan bahwa ekosistem digital pada akhirnya harus berpihak pada manusia, bukan hanya pada jaringan dan server. Telin memuat isu kesetaraan gender melalui program EmpowHER, yang membuka ruang diskusi tentang peran perempuan dalam membentuk ekosistem digital. Ini penting, sebab industri telekomunikasi masih sering terjebak dalam narasi teknis dan maskulin yang mengabaikan keragaman suara di balik layar. Dengan menempatkan perempuan sebagai perancang ekosistem, Telin mengakui bahwa desain teknologi selalu memuat nilai, dan nilai itu tidak boleh eksklusif.
Dimensi sosial juga tampak lewat Charity Fun Run yang diarahkan untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur melalui Koperasi Wasita Dharma Buana. Selain itu, pengenalan budaya dan komunitas lokal selama konferensi memberi keuntungan ganda: peserta internasional memperoleh pengalaman yang lebih kaya, sementara pelaku usaha dan komunitas setempat mendapatkan akses ke forum global. Connected by Purpose, dalam wujud ini, memaksa ekosistem digital untuk mengakui hutang sosialnya—bahwa keberhasilan sebuah jaringan telekomunikasi tak bisa dilepaskan dari kualitas hidup orang-orang yang menjadi pengguna dan tetangganya.
Collective Carbon Action: 11.723 Mangrove sebagai Aksi Karbon Perusahaan
Pilar Collective Carbon Action adalah bagian paling mudah diukur, sekaligus paling simbolik, dari inisiatif keberlanjutan ini. Melalui program Miles to Mangrove, riwayat perjalanan udara peserta BATIC dikonversi menjadi komitmen aksi iklim berupa penanaman mangrove di garis pantai. Telin mencatat komitmen penanaman 11.723 pohon mangrove, sebuah angka yang menjadikan setiap penerbangan bisnis terhubung langsung dengan upaya restorasi ekosistem pesisir. Di sinilah aksi karbon perusahaan memperoleh bentuk nyata: bukan hanya offset di laporan, tetapi janji yang bisa dihitung batang demi batang.
Tentu, penanaman mangrove tidak otomatis menghapus seluruh emisi dari perjalanan udara para delegasi. Namun, pendekatan ini patut diapresiasi karena dua hal. Pertama, ia mengakui bahwa kegiatan bisnis memiliki biaya ekologis, dan biaya itu harus ‘dibayar’ lewat aksi karbon yang konkret. Kedua, ia menciptakan hubungan emosional dan praktis antara pelaku industri digital dengan ekosistem pesisir yang sering dianggap jauh dari dunia kabel dan data. Bila program seperti Miles to Mangrove dijalankan berkelanjutan dan diawasi, konsep Collective Carbon Action bisa menjadi model bagi perusahaan lain yang mencari cara menyeimbangkan mobilitas global dengan komitmen lokal terhadap lingkungan.

Sustainability Report Telin dan Masa Depan Ekosistem Digital Berkelanjutan
Langkah paling strategis sekaligus paling berisiko bagi Telin adalah peluncuran sustainability report pertama bertajuk “Connecting with Purpose”. Dengan laporan ini, perusahaan tidak lagi bisa bersembunyi di balik kampanye singkat; mereka harus memaparkan perjalanan, capaian, dan rencana keberlanjutan secara terstruktur, serta menyelaraskannya dengan gerakan GoZero% Sustainability Action by Telkom Indonesia. Transparansi ini mengikat Telin pada standar yang lebih tinggi: angka-angka di BATIC akan dibandingkan dengan target tahunan, dan publik akan menilai apakah narasi “Better Together” benar-benar menghadirkan pengurangan jejak lingkungan dan peningkatan dampak sosial yang konsisten.
Ke depan, keberlanjutan yang sudah diposisikan sebagai bagian integral dari pengembangan ekosistem digital perusahaan harus diterjemahkan ke seluruh lini layanan dan operasi. Jika tiga pilar BATIC—Green Journey, Connected by Purpose, Collective Carbon Action—hanya hidup saat konferensi, Telin akan kehilangan momentum. Namun bila kerangka ini diintegrasikan ke strategi jaringan, pusat data, dan kolaborasi mitra, kita bisa menyebut BATIC sebagai titik balik: konferensi yang menggeser keberlanjutan dari latar belakang ke panggung utama industri telekomunikasi. Tantangan bagi Telin sekarang jelas: mempertahankan kedalaman aksi, bukan sekadar memperbanyak slogan hijau di materi promosi.






