Penggunaan AI bergerak melampaui teks
AI multimodal adalah kecerdasan buatan yang menerima dan mengolah beragam jenis masukan, seperti teks, gambar, video, suara, dan dokumen, sehingga pengguna dapat berinteraksi dengannya melalui lebih dari sekadar percakapan tertulis. Perubahan cara berinteraksi ini sudah tampak di Indonesia: 22 persen konsumen menggunakan AI multimodal setiap hari. Dalam studi Ericsson ConsumerLab yang diumumkan pada 28 Oktober 2026, angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 27 pasar, tepat di bawah Tiongkok. Ini bukan sekadar perlombaan angka adopsi AI Indonesia. Ketika orang mengirim foto untuk dianalisis, berbicara dengan asisten, atau meminta bantuan mengolah dokumen, kebutuhan koneksi ikut berubah. Karena itu, tren ini sebaiknya dibaca sebagai sinyal bagi operator: pengalaman AI yang terasa lancar akan semakin bergantung pada mutu jaringan, bukan hanya kecanggihan aplikasi.
Temuan tersebut berasal dari survei terhadap lebih dari 43.000 pengguna ponsel pintar berusia 15 hingga 69 tahun di 27 pasar. Pengumpulan data dilakukan pada Juni hingga Agustus 2025 serta Februari hingga Maret 2026. Skala dan rentang survei itu memberi konteks pada posisi Indonesia, sekaligus memperlihatkan bahwa penggunaan AI kini menjangkau kebutuhan yang lebih beragam daripada sekadar mencari jawaban lewat teks.
Kebiasaan baru menuntut jaringan berbeda
Penggunaan gambar, video, suara, dan dokumen memperbesar lalu lintas data, termasuk data yang dikirim pengguna ke layanan AI. Jaringan masa depan, dengan demikian, tidak cukup hanya menawarkan kapasitas besar; koneksi juga harus cepat, stabil, dan responsif. Bagi pengguna AI intensif, jeda respons bukan gangguan kecil. Waktu respons AI memengaruhi kepuasan terhadap jaringan hingga 20 persen pada kelompok ini, dibandingkan 8 persen pada pengguna ponsel pintar secara umum. Perbedaan itu menegaskan bahwa ukuran kualitas jaringan tidak bisa berhenti pada kecepatan unduh. Kemampuan jaringan mengirim data dari perangkat dan menjaga latensi rendah akan ikut menentukan apakah AI terasa berguna dalam aktivitas sehari-hari. Operator perlu menjadikan kualitas pengalaman sebagai prioritas, bukan menganggap peningkatan kapasitas saja sudah cukup.
Proyeksi Ericsson memperkuat urgensi tersebut: pada 2030, penggunaan AI multimodal secara intensif di Indonesia diperkirakan mencapai 45 persen, melampaui proyeksi global sebesar 30 persen. Jika tren ini terwujud, jaringan harus melayani lebih banyak interaksi kaya data secara serentak. Investasi pada keandalan dan respons bukan pelengkap pemasaran, melainkan syarat agar pertumbuhan penggunaan tidak berujung pada pengalaman yang lambat dan mengecewakan.
AI otonom memperluas kebutuhan konektivitas
Tahap berikutnya bukan hanya AI yang menjawab, melainkan agentic AI yang dapat menjalankan tugas atas nama pengguna. Pengguna bisa mendelegasikan pekerjaan rutin seperti membandingkan produk, mengatur jadwal, atau mengelola pembelian berulang. Ericsson memproyeksikan penggunaan agentic AI di Indonesia meningkat dari 8 persen saat ini menjadi 44 persen pada 2030. Bagi pengguna, manfaatnya berpotensi terasa langsung: survei tersebut menyebut konsumen memperkirakan pendelegasian tugas rutin kepada AI dapat menghemat sekitar satu jam waktu layar setiap hari. Namun, tugas yang berjalan di balik layar tetap membutuhkan koneksi andal. Asisten yang bertindak atas nama seseorang harus menerima instruksi, mengakses layanan, dan mengirim pembaruan tanpa jeda yang mengikis kepercayaan.
Perangkat yang mengakses AI juga diperkirakan bertambah. Pada 2030, sebanyak 35 persen konsumen di Indonesia diprediksi menggunakan AI melalui perangkat selain ponsel pintar, termasuk kacamata pintar. Perluasan perangkat ini membuat cakupan, kestabilan, dan kapasitas jaringan semakin penting. Pertumbuhan AI seharusnya mendorong perencanaan jaringan yang mengikuti cara orang benar-benar menggunakan teknologi, bukan hanya jumlah perangkat yang mereka miliki.
Kepercayaan harus dibangun bersama performa
Kecepatan saja tidak akan cukup jika pengguna meragukan siapa yang berada di balik asisten digital. Sebanyak 59 persen pengguna AI harian di Indonesia menyatakan kekhawatiran terhadap asisten AI palsu yang dapat menyalahgunakan identitas mereka. Karena itu, penyedia layanan telekomunikasi punya peran yang melampaui penyedia koneksi: konsumen menaruh kepercayaan pada mereka untuk membantu memverifikasi identitas dan menjaga keamanan interaksi digital. Kepercayaan itu merupakan peluang sekaligus tanggung jawab. Tanpa perlindungan yang jelas, makin banyak interaksi AI justru membuka lebih banyak ruang bagi penipuan dan penyalahgunaan.
Kesimpulannya, tingginya adopsi AI multimodal harian memberi Indonesia modal kuat untuk memanfaatkan layanan digital generasi baru, tetapi pertumbuhan itu akan dibatasi oleh jaringan yang lambat, tidak stabil, atau sulit dipercaya. Operator perlu menyiapkan koneksi berkapasitas tinggi dan latensi rendah sambil memperkuat verifikasi serta keamanan. Jaringan masa depan bukan sekadar infrastruktur yang membawa data lebih banyak; jaringan itu harus membuat AI terasa cepat, berguna, dan aman bagi orang yang mengandalkannya.






