Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari ITB ke Unicorn AI Multimodal: Reka dan Lompatan Deep-Tech

Dari ITB ke Unicorn AI Multimodal: Reka dan Lompatan Deep-Tech
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

Reka: Unicorn Teknologi Lokal yang Tidak Hanya Menjadi Pengguna AI

Reka adalah perusahaan AI multimodal yang membangun model frontier sendiri untuk memproses teks, gambar, audio, dan video dalam satu sistem, dipimpin oleh founder AI Indonesia yang berambisi menjadikan teknologi lokal bersaing di panggung global melalui inovasi deep-tech yang lahir dari riset kelas dunia dan terhubung ke jaringan Endeavor global.

Selama beberapa tahun, perkembangan AI di dalam negeri lebih banyak terlihat dari sisi pemakaian: perusahaan memakai AI untuk meningkatkan produktivitas, melayani pelanggan, menganalisis data, dan mengembangkan produk. Namun lapisan teknologi dasar—model yang menggerakkan semua layanan ini—masih didominasi pemain global. Di titik inilah Reka menjadi anomali yang penting: unicorn teknologi lokal yang memilih membangun sendiri model AI multimodal, bukan sekadar mengemas ulang teknologi pihak lain. Ini bukan detail teknis belaka, tetapi pergeseran posisi: dari pasar pengguna menjadi produsen teknologi yang dipakai banyak perusahaan lain.

Dani Yogatama, Co-Founder dan CEO Reka, muncul sebagai contoh entrepreneur deep-tech yang berani bermain di lapisan paling dasar AI, bukan di aplikasi permukaan. Keputusan ini menempatkan Reka di liga yang jauh lebih kompetitif, tetapi juga membuka peluang dampak yang lebih luas bagi ekosistem teknologi lokal.

Dari ITB ke Laboratorium Dunia: Bukti Potensi Talenta Teknis Lokal

Perjalanan Dani dimulai dari kampus teknik: ia tumbuh di tanah air dan meraih gelar sarjana dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dari sana, jalurnya berlanjut ke Monbukagakusho Fellow di University of Tokyo dan PhD di School of Computer Science, Carnegie Mellon University. Ini bukan sekadar daftar institusi bergengsi; ini menunjukkan bahwa talenta teknis lokal mampu menembus pusat-pusat riset komputer paling ketat di dunia.

Sebelum mendirikan Reka, Dani bekerja di Baidu Silicon Valley AI Lab, lalu enam tahun sebagai Senior Staff Research Scientist di Google DeepMind, London. Pengalaman ini memberi dua hal: kedalaman ilmiah dan pemahaman praktis bagaimana frontier AI dibangun di laboratorium terbaik. Ketika ia memutuskan mendirikan Reka bersama tim peneliti AI berpengalaman dari berbagai lab terkemuka, ia membawa standar yang sama ke perusahaan sendiri.

Bagi ekosistem teknologi lokal, narasi ini penting: talenta tidak berhenti sebagai peneliti di luar negeri, tetapi pulang dalam bentuk perusahaan yang membangun teknologi yang dapat dimanfaatkan perusahaan di berbagai negara. Ini menggeser imajinasi generasi muda: lulusan teknik tidak harus puas menjadi pengguna teknologi asing; mereka bisa memimpin pembangunan foundation model sendiri.

Reka AI Multimodal: Dari Frontier Model ke Dampak Nyata bagi Pengguna

Reka mengembangkan frontier AI models multimodal yang mampu memproses teks, gambar, audio, dan video dalam satu sistem. Di atas fondasi ini, mereka membangun beberapa produk utama: Reka Flash, model bahasa berskala besar dan multimodal berukuran 21 miliar parameter yang memahami video, gambar, teks, dan audio; Reka Vision, platform untuk pencarian dan penalaran berbasis data visual; serta Reka Research, platform agentic AI untuk menjawab pertanyaan kompleks melalui riset berbasis web dan dokumen.

Reka juga mengembangkan Reka Quant untuk meningkatkan efisiensi model, dengan fokus pada kebutuhan komputasi dan biaya inferensi yang lebih efisien. Ini krusial ketika AI bergerak dari tahap eksperimen menuju penggunaan berskala besar di perusahaan. Menurut Dani, “Kami ingin membangun teknologi yang bukan hanya kuat secara riset, tetapi juga efisien dan dapat digunakan perusahaan di berbagai industri.”

Di sisi pengguna, perusahaan selama ini memakai AI untuk meningkatkan produktivitas, pelayanan pelanggan, analisis data, dan pengembangan produk. Dengan hadirnya Reka AI multimodal sebagai unicorn teknologi lokal, ada peluang bahwa solusi yang dipakai sehari-hari—dari layanan pelanggan sampai analitik—ditopang oleh teknologi yang dibangun founder AI Indonesia sendiri, bukan hanya diimpor dari luar.

Masuk Jaringan Endeavor Global: Validasi Bisnis, Bukan Hanya Teknologi

Tonggak penting lain adalah terpilihnya Dani sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-120 melalui International Selection Panel (ISP) ke-109 di Montreal. Ini bukan sekadar pengakuan teknis, tetapi penilaian bahwa Reka punya potensi tumbuh sebagai bisnis global berskala besar. Dalam ISP, founder dengan traction dan ambisi global menjalani wawancara intensif dengan panelis bisnis internasional selama proses seleksi 12–18 bulan sebelum diputuskan.

Terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur memberikan akses ke jaringan Endeavor global: mentor, entrepreneur, dan investor dari berbagai pasar. Bagi Reka, dukungan ini membantu menghadapi tantangan pertumbuhan berikutnya, mulai dari ekspansi pasar, pengembangan kemitraan strategis, hingga membangun organisasi global. Dani menyebut duduk bersama para pendiri dan operator berpengalaman sebagai cara menajamkan kembali asumsi tentang apa yang dibutuhkan untuk membawa Reka ke skala operasional berikutnya.

Managing Director Endeavor Indonesia, Monika Rudijono, menilai kehadiran Dani memperluas representasi sektor teknologi dalam jaringan tersebut, terutama di bidang deep tech. Selama ini, sebagian besar Endeavor Entrepreneur lokal datang dari sektor konsumen, fintech, dan logistik; kini hadir entrepreneur deep-tech di lapisan paling dasar. Ini mengirim sinyal jelas: deep-tech bukan lagi pengecualian di jaringan internasional, tetapi bagian dari arus utama kewirausahaan.

Apa Artinya bagi Generasi Founder AI Berikutnya

Perjalanan Reka menunjukkan bahwa talenta lokal tidak harus berhenti sebagai pengguna AI; mereka bisa membangun teknologi yang dimanfaatkan perusahaan di berbagai negara. Fakta bahwa seorang founder AI Indonesia bisa memimpin unicorn teknologi lokal di bidang AI multimodal, didukung investor global, dan diakui jaringan Endeavor global, mengubah standar ambisi bagi generasi berikutnya.

Dani sendiri menegaskan bahwa seiring semakin luasnya jejak global Reka, mereka ingin berkontribusi kembali kepada komunitas founder dan mendukung generasi berikutnya dari perusahaan deep-tech. Inilah efek berantai yang dibutuhkan ekosistem: bukan hanya role model, tetapi juga mentor dan simpul jaringan yang membuka pintu ke pasar dan modal global.

Kesimpulannya, kisah Reka adalah argumen kuat bahwa membangun solusi AI tingkat dunia dari tanah air bukan lagi mimpi naif. Dengan fondasi riset yang dalam, keberanian bermain di frontier technology, dan akses ke jaringan Endeavor global, entrepreneur muda punya jalur yang jauh lebih jelas untuk mengikuti—atau bahkan melampaui—jejak Reka sebagai entrepreneur deep-tech generasi baru.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!