Uji teknis sebelum hari kompetisi
Simulasi Olimpiade Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) adalah uji coba penggunaan aplikasi dan tata cara pengerjaan yang membantu sekolah memeriksa kesiapan teknis peserta sebelum olimpiade berlangsung. Kegiatan ini dijadwalkan pada 26–27 Oktober, sedangkan kompetisi resmi berlangsung pada 28–29 Oktober 2026. Jeda singkat itu membuat uji coba terasa penting: masalah masuk ke aplikasi atau akses internet sebaiknya ditemukan sebelum pengerjaan resmi, bukan ketika waktu kompetisi berjalan. Olimpiade dilaksanakan secara daring melalui telepon pintar berbasis Android. Panitia menyiapkan tautan aplikasi, nama pengguna, kata sandi, serta video petunjuk instalasi untuk perwakilan sekolah. Dengan demikian, kesiapan bukan hanya soal pemahaman materi; perangkat yang sesuai dan kemampuan menjalankan aplikasi juga menjadi bagian dari pekerjaan sekolah.
Hari pertama lancar, tetapi akses belum seragam
Hari pertama simulasi pada Senin, 26 Oktober, berlangsung lancar melalui koordinasi panitia bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban. Hasil ini patut diapresiasi, tetapi kelancaran umum tidak berarti semua peserta langsung tanpa kendala. Sejumlah kecil perwakilan sekolah melaporkan masalah teknis ringan di grup WhatsApp; tim teknis membantu mengatasinya, sementara beberapa peserta belum berhasil masuk ke aplikasi. Sekolah yang belum siap login dapat mengikuti simulasi pada hari berikutnya. Beberapa sekolah, termasuk SMPN 1 Singgahan, SMPN 2 Rengel, dan SMPN 3 Jatirogo, memang memilih jadwal 27 Oktober. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kesiapan sekolah KKA tidak bisa diukur hanya dari kelancaran panitia. Kemampuan mengakses aplikasi, memperoleh bantuan, dan menentukan waktu yang sesuai sama pentingnya untuk memastikan peserta dapat mengikuti uji coba.

Kondisi sekolah membentuk pengalaman peserta
Pengalaman simulasi juga bergantung pada kondisi tempat peserta mengerjakan soal. Ada siswa yang menggunakan perpustakaan, sementara peserta di SMPN 2 Montong memilih teras sekolah karena Wi-Fi dan data internet hanya tersedia di lokasi tertentu. Gambaran ini mengingatkan bahwa akses digital di sekolah tidak selalu merata; kesiapan perangkat lunak perlu diimbangi dengan pilihan lokasi dan koneksi yang memungkinkan. Materi olimpiade pun menuntut perhatian yang lebih luas daripada sekadar keterampilan memakai teknologi. Panitia menyiapkan 40 soal: 24 pilihan ganda dan 16 pilihan ganda kompleks. Cakupannya meliputi literasi dan etika kecerdasan artifisial, berpikir komputasional, literasi digital, serta pemanfaatan dan pengembangan kecerdasan artifisial. Karena itu, simulasi olimpiade koding paling berguna ketika sekolah memastikan akses teknis sekaligus memberi peserta ruang untuk memahami format pengerjaan.
Kesiapan adalah bagian dari kompetisi
Pelaksanaan hari pertama memberi gambaran yang cukup jelas: koordinasi dapat berjalan baik, tetapi kondisi peserta dan fasilitas sekolah beragam. Ada yang lancar mengakses aplikasi, ada yang memerlukan bantuan login, dan ada pula yang perlu menyesuaikan tempat dengan jangkauan internet. Menjelang hari resmi, sekolah sebaiknya menaruh perhatian pada hal-hal praktis tersebut, bukan menganggap simulasi hanya formalitas. Format kompetisi daring melalui Android membuat pemeriksaan perangkat dan akses jaringan relevan bagi setiap peserta. Sementara itu, materi olimpiade kecerdasan artifisial menggabungkan etika, literasi digital, dan penalaran komputasional, sehingga persiapan tidak berhenti pada urusan aplikasi. Kesimpulannya, simulasi yang lancar adalah awal yang baik, tetapi kesiapan yang merata membutuhkan perhatian pada koneksi, panduan teknis, dan pemahaman materi.






