Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Tablet ke Arduino, Guru Mengubah Cara Belajar di Kelas

Dari Tablet ke Arduino, Guru Mengubah Cara Belajar di Kelas
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Teknologi perlu menjadi bagian dari cara mengajar

Pelatihan guru digital adalah proses membekali pendidik dengan keterampilan memilih dan menggunakan teknologi untuk mencapai tujuan belajar, bukan sekadar mengoperasikan perangkat di depan murid. Perubahan ini penting: pembelajaran interaktif SD akan terasa berarti ketika teknologi membuat anak mencoba, berpikir, dan berpartisipasi. Di sejumlah sekolah, pendekatan itu hadir dalam bentuk berbeda, mulai dari aplikasi tablet untuk belajar di rumah hingga alat rakitan yang mengenalkan coding lewat benda sehari-hari. Pelatihan di Sandubaya menunjukkan bahwa kemampuan tersebut dapat dibangun bertahap melalui pembekalan, praktik, dan pendampingan. Artinya, teknologi di kelas bukan tujuan tersendiri. Guru tetap perlu menentukan materi, cara mengajar, serta alat yang paling sesuai dengan kondisi murid. Tanpa keputusan pedagogis itu, layar atau perangkat baru hanya menjadi variasi permukaan, bukan pengalaman belajar yang lebih baik.

Tablet membantu belajar berlanjut dari rumah

Pengalaman di Barito Selatan memperlihatkan alasan praktis penggunaan aplikasi belajar: kebakaran hutan dan kabut asap mengharuskan anak belajar dari rumah. Guru SD Negeri 4 Buntok, Ema Prista, menilai pelatihan Sekolah Enuma membantu guru memahami aplikasi yang tersedia di tablet dengan lebih baik. Saat itu, aplikasi tersebut menyediakan materi Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Pelatihan penting karena penggunaan tablet dalam kegiatan belajar dari rumah sempat menjadi kendala bagi murid. Setelah memperoleh pemahaman tambahan, Ema menyebut aplikasi lebih mudah digunakan dan anak-anak merasa matematika lebih mudah dipahami serta menyenangkan. Sekolah juga merencanakan jadwal belajar harian dan kesepakatan dengan orang tua untuk menjaga penggunaan tablet. Bupati setempat berharap fitur pelajaran lain ditambahkan. Dukungan keluarga dan pengaturan yang jelas membuat perangkat lebih mungkin menjadi sarana belajar, bukan gangguan.

Dari Tablet ke Arduino, Guru Mengubah Cara Belajar di Kelas

Arduino menjadikan benda sehari-hari sebagai alat belajar

Di SDN 2 Manjung, Klaten, guru kelas V Ary Zuqnil Fauza merancang Nusa Touch, media interaktif yang mengajak murid belajar logika pemrograman dan coding. Perangkatnya menggabungkan komputer atau laptop, kabel USB, kabel penjepit buaya, benda konduktif, dan papan mikrokontroler Arduino Uno; program dibuat dengan Visual Scratch. Buah, sayur, dan air dapat berfungsi sebagai pemicu untuk menghasilkan respons suara atau visual. Gagasan ini membuat Arduino pembelajaran terasa dekat dengan pengalaman anak: konsep abstrak berubah menjadi percobaan yang bisa disentuh dan diamati. Nusa Touch juga dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran, sehingga alatnya tidak harus berhenti pada pelajaran komputer. Dampak bagi murid terlihat dari pengalaman Haksa, siswa kelas VI, yang mengatakan, “Belajarnya jadi lebih menyenangkan”. Inovasi seperti ini menunjukkan bahwa guru bukan hanya pengguna teknologi, tetapi dapat merancang media sesuai kebutuhan kelas.

Dari Tablet ke Arduino, Guru Mengubah Cara Belajar di Kelas

Kompetensi tumbuh lewat praktik, bukan hanya paparan

Pada September 2026, 20 guru SD yang tergabung dalam Gugus 1 Kecamatan Sandubaya, Mataram, mengikuti workshop dan pendampingan pemanfaatan aplikasi pembelajaran. Kegiatan dimulai secara daring melalui Google Meet pada 24 September, lalu berlanjut dengan praktik tatap muka pada 28 September di SDN Model Mataram atau SDN 142 Mataram. Peserta mencoba Canva untuk membuat lembar kerja digital, Kahoot untuk kuis interaktif, serta Wayground untuk kuis dan kartu belajar digital. Sebanyak 90 persen peserta menunjukkan pemahaman atas penggunaan ketiga aplikasi tersebut. Angka itu memberi tanda awal yang menggembirakan, tetapi kemampuan memilih alat yang tepat tetap perlu diasah melalui penerapan di kelas. Pelatihan yang menggabungkan materi awal, praktik, dan pendampingan lebih menjanjikan daripada sesi yang berhenti pada demonstrasi. Agar kompetensi digital guru terus berkembang, program serupa perlu berkelanjutan dan berpijak pada kebutuhan pembelajaran yang nyata.

Dari Tablet ke Arduino, Guru Mengubah Cara Belajar di Kelas

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!