Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Sagusaku: Dari Kelas ke Buku BerISBN, Guru Naik Kelas

Program Sagusaku: Dari Kelas ke Buku BerISBN, Guru Naik Kelas
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Sagusaku: Saat Pengembangan Kompetensi Guru Berujung pada Buku BerISBN

Program Sagusaku (Satu Guru Satu Buku) adalah sebuah program pelatihan guru menulis yang secara sistematis mendorong setiap pendidik menghasilkan buku berISBN sebagai bentuk pengembangan kompetensi guru, peningkatan budaya literasi, dan perluasan peran guru dari pengajar di kelas menjadi penulis konten edukatif yang dapat dimanfaatkan lebih luas oleh peserta didik dan masyarakat.

Di Singkawang, program Sagusaku dijalankan melalui kolaborasi Ikatan Guru Indonesia Kota Singkawang dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang menggelar pelatihan peningkatan kompetensi guru di Aula Basement Kantor Wali Kota pada Senin, 28 September 2026. Sebanyak 140 guru mengikuti kegiatan ini sebagai bagian dari agenda resmi peningkatan kapasitas pendidik. Ini bukan sekadar lokakarya menulis singkat; targetnya jelas: satu guru satu buku berISBN. Ketika pelatihan dirancang dengan keluaran sejelas itu, pengembangan profesional guru tidak lagi abstrak, tetapi terukur dan bisa diakui secara formal melalui penerbitan.

140 Guru, Satu Target: Buku BerISBN Pendidik sebagai Standar Baru

Keberanian menetapkan target 140 guru menerbitkan buku berISBN pendidik patut dibaca sebagai pernyataan politik pendidikan: menulis bukan talenta tambahan, melainkan bagian dari standar profesi. Wakil Ketua IGI Kalimantan Barat memastikan bahwa pelatihan ini diikuti 140 peserta dengan keluaran yang ditargetkan berupa buku ber-ISBN (International Standard Book Number). Ia menegaskan setiap guru diharapkan menerbitkan minimal satu buku ber-ISBN yang bisa menjadi sumber belajar dan karya bermanfaat bagi peserta didik.

Kutipan kuncinya jelas dan layak diulang: “Para peserta yang hadir diharapkan bisa mencetak 1 buku yang ber-ISBN sehingga buku tersebut bisa berdampak positif bagi orang lain khususnya peserta didik”. Dengan ISBN, karya guru masuk ke ekosistem penerbitan konten edukatif formal, bukan sekadar modul fotokopi. Ini mengubah posisi guru: dari konsumen buku ke produsen pengetahuan yang terdokumentasi, dapat ditelusuri, dan diakui dalam ekosistem literasi nasional.

Literasi Dimulai dari Guru yang Menulis, Bukan Slogan di Dinding Kelas

Penguatan literasi sering berhenti pada lomba baca dan poster motivasi. Sagusaku menawarkan logika berbeda: murid membaca karena gurunya menulis. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang menegaskan, kebiasaan menulis guru berkaitan langsung dengan minat baca peserta didik; murid tidak akan gemar membaca jika gurunya tidak rajin menulis. Argumen ini sederhana namun tajam: teladan literasi lebih kuat daripada kampanye.

Menulis buku memaksa guru berpikir kritis, sistematis, dan inovatif, lalu memindahkan cara berpikir itu ke kelas. Dalam konteks program pelatihan guru menulis, ini berarti peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus kenaikan derajat profesionalisme guru. Buku berISBN pendidik bukan sekadar produk; ia menjadi cermin cara guru merancang gagasan, menyusun materi, dan memetakan alur belajar. Di titik ini, program Sagusaku menyentuh inti pengembangan kompetensi guru, bukan sebatas sertifikat keikutsertaan.

Kolaborasi Struktural: Dari IGI, Dinas, hingga Sekolah

Keunggulan program Sagusaku di Singkawang terletak pada cara ia diposisikan sebagai upaya sistematis, bukan gerakan sporadis. Pelatihan ini merupakan program kerja IGI Singkawang dan Koordinator Wilayah Provinsi yang dijalankan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota untuk meningkatkan kompetensi guru melalui kegiatan menulis. Kolaborasi semacam ini mengirim pesan penting: menulis buku adalah agenda kelembagaan, bukan hobi individu.

Dukungan juga tampak dari Dewan Pendidikan yang mengapresiasi konsistensi IGI dalam mengawal kompetensi guru. Peserta tidak hanya berasal dari Kota Singkawang, tetapi juga dari Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak, dengan jenjang TK, SD, hingga SMP. Jangkauan lintas daerah dan lintas jenjang ini menunjukkan bahwa penerbitan konten edukatif relevan untuk semua level pendidikan. Jika pola kolaborasi ini diulang oleh lebih banyak daerah dan yayasan pendidikan, termasuk yang fokus pada muatan lokal, kita akan melihat lahirnya katalog buku berISBN pendidik yang memperkaya sumber belajar di kelas-kelas.

Dari Pelatihan ke Ekosistem Penulisan Guru: Apa Langkah Berikutnya?

Sagusaku di Singkawang menunjukkan bahwa ketika program pelatihan guru menulis dirancang dengan keluaran jelas berupa buku berISBN, guru dapat naik kelas menjadi produsen ilmu. Namun pelatihan satu kali tidak cukup; tantangannya adalah mengubah keberhasilan ini menjadi ekosistem: komunitas penulis guru, akses penerbitan konten edukatif yang berkelanjutan, serta pengakuan karya dalam penilaian kinerja.

Inisiatif seperti yang dijalankan IGI Singkawang dan Dinas Pendidikan menjadi model yang layak direplikasi: target terukur, dukungan struktural, dan orientasi pada karya yang terbaca, bukan hanya pelaporan administratif. Jika setiap sekolah melihat buku berISBN pendidik sebagai bagian dari budaya profesional, bukan beban tambahan, maka kalimat “satu guru satu buku” akan berubah dari slogan pelatihan menjadi standar profesi yang menguntungkan murid, guru, dan mutu pendidikan secara menyeluruh.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!