Sekolah Rakyat: Sekolah yang Sejak Awal Berpikir Soal Masa Depan
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan prioritas yang dirancang untuk memberi anak dari keluarga dengan berbagai keterbatasan kesempatan belajar sekaligus memulihkan kepercayaan diri, membangun karakter, dan menyiapkan masa depan mereka melalui dua jalur utama: melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau langsung memasuki dunia kerja sebagai tenaga terampil, dengan dukungan rehabilitasi sosial dan pemetaan minat serta bakat sejak awal pendidikan. Inti gagasan Sekolah Rakyat karir bukan sekadar menyelamatkan anak dari putus sekolah, tetapi mengubah cara kita memandang pendidikan: bukan hanya soal ijazah, melainkan soal arah hidup. Ketika Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa lulusan dipersiapkan untuk dua jalur—kuliah atau pekerja terampil—ia sedang menggeser paradigma jalur pendidikan lulusan dari “satu jalan wajib kuliah” menjadi “pilihan sadar sesuai potensi”. Pendekatan ini penting karena banyak siswa datang dengan hampir kehilangan harapan. Tanpa desain yang jelas menuju peluang kerja siswa atau studi lanjut, sekolah mudah kembali menjadi ruang teori tanpa masa depan. Sekolah Rakyat memilih jalur sebaliknya: pendidikan yang sejak hari pertama berbicara tentang apa yang terjadi setelah kelulusan.

Jalur Kuliah: Bukan Privilege, Tapi Hak yang Dipetakan Sejak Awal
Data awal lulusan Sekolah Rakyat tingkat SMA menunjukkan tujuh dari sebelas siswa melanjutkan ke perguruan tinggi, sementara empat lainnya langsung bekerja sebagai pekerja terampil. Angka ini kecil secara absolut, tetapi besar secara makna: kuliah bukan lagi mimpi jauh bagi anak yang sebelumnya putus sekolah, melainkan jalur nyata yang disiapkan. Program Kemensos pendidikan tidak berhenti pada penyediaan bangku sekolah. Kementerian Sosial menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi dan berbagai perguruan tinggi untuk membuka akses bagi lulusan yang layak dan berminat. Di sini, jalur pendidikan lulusan tidak ditentukan oleh kemampuan menabung keluarga, tetapi oleh minat, bakat, dan kesiapan akademik. Tes DNA talent yang dilakukan sejak awal pendidikan menjadi instrumen penting. Dengan mengenali potensi tiap siswa, pendampingan akademik bisa diarahkan: siapa yang perlu digenjot untuk siap seleksi perguruan tinggi, siapa yang lebih cocok diarahkan ke keterampilan kerja. Pendidikan tinggi, dalam kerangka Sekolah Rakyat karir, adalah pilihan strategis, bukan simbol status.
Jalur Kerja: Mengakui Keterampilan sebagai Jalan Terhormat
Pernyataan bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bukan satu-satunya pilihan bagi lulusan Sekolah Rakyat adalah koreksi penting terhadap budaya yang sering meremehkan jalur kerja terampil. Empat dari sebelas lulusan SMA Sekolah Rakyat yang sudah bekerja sebagai tenaga terampil menunjukkan bahwa peluang kerja siswa bukan pelarian, melainkan jalur yang sengaja dibangun. Arahan Presiden Prabowo yang menegaskan dua jalur—kuliah dan pekerja terampil—memaksa sistem pendidikan mengakui bahwa tidak semua anak harus dipaksa ke kampus. Siswa yang memiliki kecenderungan kuat di bidang keterampilan diberi ruang untuk mengembangkan kompetensi agar siap bekerja, bukan dipaksa mengejar nilai ujian yang tidak relevan dengan masa depan mereka. Kerja sama Kemensos dengan BUMN dan perusahaan swasta memperkuat jalur ini. Jika konsisten, Sekolah Rakyat karir bisa menjadi contoh bagaimana sekolah menyiapkan lulusan yang siap kerja, bukan sekadar siap ujian. Tantangannya: memastikan kualitas pelatihan keterampilan cukup tinggi sehingga pekerja terampil dari Sekolah Rakyat tidak terjebak di pekerjaan rendah upah tanpa mobilitas.
Skala Program dan Open House: Transparansi sebagai Modal Kepercayaan
Dalam satu tahun sejak diluncurkan pada 2025, Sekolah Rakyat telah menjangkau lebih dari 44.000 anak di 182 titik yang tersebar di 34 provinsi. Angka ini menunjukkan bahwa program Kemensos pendidikan bukan eksperimen kecil, melainkan intervensi berskala nasional yang berpotensi mengubah peta akses pendidikan. Open house “1 tahun Sekolah Rakyat” yang digelar serentak di 182 lokasi menjadi sinyal kuat komitmen dan transparansi. Dengan mengundang kepala daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga sekitar untuk melihat langsung kehidupan siswa, Kementerian Sosial membuka ruang pengawasan publik dan keterlibatan komunitas. Di balik panggung siswa yang tampil penuh percaya diri, ada fakta bahwa banyak dari mereka sebelumnya putus sekolah atau hampir kehilangan harapan. Sekolah Rakyat tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan rehabilitasi sosial: membangun karakter, memulihkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan harapan. Namun, Mensos Saifullah Yusuf mengakui perjalanan masih panjang, dengan banyak kekurangan dan tantangan yang harus diperbaiki. Pengakuan ini penting agar antusiasme tidak menutupi kebutuhan evaluasi kritis.
Fleksibilitas Jalur: Kebebasan Memilih yang Harus Dijaga Mutunya
Kekuatan utama Sekolah Rakyat adalah fleksibilitas: lulusan diberi ruang memilih path pendidikan atau karir sesuai minat dan kemampuan, bukan sekadar mengikuti arus. Pemetaan minat dan bakat sejak awal, melalui tes DNA talent dan pendampingan, membuat pilihan itu lebih terarah daripada sekadar “ikut-ikutan”. Namun fleksibilitas tanpa kualitas bisa berubah menjadi jebakan. Jika jalur kerja terampil tidak didukung pelatihan yang serius dan akses ke perusahaan yang menghargai keterampilan, maka siswa yang memilih bekerja akan tertinggal dibanding teman yang kuliah. Di sisi lain, jika jalur kuliah tidak diiringi bimbingan karir, lulusan bisa kembali menganggur. Di sinilah peran masyarakat yang diundang melalui open house menjadi krusial: keberhasilan Sekolah Rakyat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kepedulian semua pihak. Masa depan program ini seharusnya diukur bukan hanya dari jumlah titik dan siswa, tetapi dari seberapa banyak lulusan yang benar-benar menemukan tempat layak dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Dua jalur masa depan itu sudah dibuka; tugas berikutnya adalah memastikan keduanya sama-sama bermutu dan manusiawi.






