Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Dukungan Psikososial Pasca-Gempa untuk Anak di Sekolah

Program Dukungan Psikososial Pasca-Gempa untuk Anak di Sekolah
Minat|Kesehatan Mental

Trauma Gempa pada Anak: Pemulihan Mental Harus Jadi Prioritas

Program dukungan psikososial bencana adalah serangkaian intervensi terstruktur yang dirancang sekolah dan komunitas untuk membantu kesehatan mental anak korban bencana, mengurangi trauma gempa pada anak, memulihkan rasa aman, serta mengembalikan semangat belajar dan aktivitas sekolah mereka secara bertahap dan terarah. Di Ende, kondisi psikologis anak-anak disebut mulai berangsur pulih, meski sebagian masih takut ketika gempa susulan terjadi. Fakta ini menunjukkan bahwa pemulihan mental pasca-gempa bukan proses singkat; rasa cemas, waspada berlebihan, dan ketakutan saat ada getaran kecil tetap menghantui. Tanpa intervensi, trauma gampang menempel jadi kebiasaan: anak sulit konsentrasi, enggan masuk kelas, bahkan bisa menghindari bangunan sekolah. Karena itu, program trauma healing sekolah bukan pelengkap, melainkan kebutuhan dasar yang harus ditempatkan sejajar dengan pemulihan fisik bangunan yang rusak.

Manggarai: Sekolah Jadi Ruang Aman melalui Tim Unesa Peduli

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus menimbulkan kerusakan fisik dan tekanan psikologis yang berat bagi siswa dan guru. Aktivitas sekolah terganggu, banyak anak menghabiskan hari-hari tanpa belajar formal, diliputi cemas, sulit berkonsentrasi, dan khawatir gempa susulan. Di sinilah Tim Unesa Peduli mengambil posisi jelas: sekolah harus berubah menjadi ruang aman, bukan sekadar tempat mengejar ketertinggalan akademik. Tim berisi 16 relawan diberangkatkan ke Manggarai pada 3–7 September untuk memberikan pendampingan psikososial bagi komunitas sekolah terdampak. Pendampingan bagi sekitar 200 siswa kelas IX di UPTD SMP Negeri 5 Langke Rembong digelar di tenda darurat yang dinyatakan aman, memanfaatkan permainan, nyanyian, sesi berbagi cerita, latihan pernapasan, hingga afirmasi agar siswa kembali percaya diri dan optimistis menatap hari ke depan.

Program Dukungan Psikososial Pasca-Gempa untuk Anak di Sekolah

Peran Guru: Garda Terdepan Pemulihan Sehari-hari di Sekolah

Salah satu titik lemah pemulihan mental pasca-gempa adalah seringnya guru dipandang hanya sebagai pengajar akademik, padahal mereka adalah garda terdepan dukungan psikososial di sekolah. Di Manggarai, Tim Unesa Peduli menyelenggarakan psikoedukasi bagi guru di UPTD SMP Negeri 5 Langke Rembong, dengan fokus penguatan peran mereka sebagai pencipta ruang aman dan nyaman bagi siswa. Guru dibekali strategi membangun lingkungan belajar yang aman secara fisik dan psikologis, agar bisa menjadi pendamping pertama dalam proses pemulihan sehari-hari di kelas. Pendekatan ini penting: trauma gempa pada anak tidak hilang lewat satu sesi permainan; ia diurai pelan-pelan di interaksi rutin, dari cara guru merespons ketakutan saat sirene berbunyi hingga bagaimana mereka memberi ruang anak bercerita tanpa dihakimi. Bahkan di SMK Negeri 1 Wae Ri'i, pendampingan psikososial menyasar guru yang juga menanggung tekanan emosional sendiri.

Program Dukungan Psikososial Pasca-Gempa untuk Anak di Sekolah

Ende: Aktivitas Sekolah Mulai Normal, Trauma Belum Tuntas

Di Kabupaten Ende, gambaran pemulihan mental pasca-gempa tampak lebih rumit: aktivitas belajar mengajar sudah kembali berjalan, tetapi sebagian kegiatan masih dilakukan di luar gedung sekolah untuk mengantisipasi gempa susulan. Artinya, anak dipaksa normal di tengah ketidakpastian, dan itu bukan kondisi ideal bagi kesehatan mental anak korban bencana. Tim Tenaga Cadangan Kesehatan–Emergency Medical Team (TCK-EMT) yang bertugas di wilayah kerja Puskesmas Ngalupolo melihat langsung bahwa anak-anak "masih trauma dan takut jika ada gempa susulan" meski kondisi mereka mulai berangsur pulih. Respons tim bukan sekadar pemeriksaan kesehatan fisik, tetapi pendampingan psikososial melalui trauma healing dan edukasi di SD Inpres dan SD Katolik Ngalupolo. Di Desa Reka yang lebih terluar, anak-anak SD Katolik Reka juga mendapatkan layanan kesehatan sekaligus trauma healing sebagai bagian dari misi menjaga pemulihan psikososial warga.

Dari Tenda Darurat ke Ruang Kelas: Menata Ulang Sistem Dukungan

Jika ada pelajaran penting dari Manggarai dan Ende, itu adalah bahwa pemulihan mental pasca-gempa tidak boleh diserahkan pada "insting" masing-masing guru atau orang tua; ia membutuhkan program trauma healing sekolah yang sistematis. Pendampingan psikososial yang dilakukan di tenda darurat SMPN 5 Langke Rembong maupun di halaman sekolah di Ngalupolo menunjukkan bahwa ruang belajar bisa ditata ulang mengikuti rasa aman anak, bukan sebaliknya. Sesi berbagi cerita, latihan pernapasan, dan afirmasi bukan aktivitas tambahan pengisi waktu; itu adalah jembatan agar anak mampu kembali duduk di kelas, mendengarkan pelajaran, dan membangun harapan jangka panjang. Pendampingan berkelanjutan semacam ini layak dijadikan standar, bukan pengecualian. Jika sekolah dan komunitas bersedia mengakui bahwa kesehatan mental anak korban bencana sama pentingnya dengan nilai rapor, maka tiap gempa besar akan dihadapi dengan sistem dukungan psikososial yang siap, bukan panik berulang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!