Bagaimana Dukungan Psikososial Gempa Membantu Penyintas Pulih dari Trauma

Bagaimana Dukungan Psikososial Gempa Membantu Penyintas Pulih dari Trauma
Minat|Kesehatan Mental

Dukungan psikososial gempa: lebih dari sekadar “trauma healing”

Dukungan psikososial gempa adalah rangkaian layanan terstruktur yang menggabungkan asesmen psikologis, pendampingan emosional, aktivitas sosial, edukasi, dan rujukan profesional untuk membantu penyintas bencana menata kembali rasa aman, fungsi sosial, dan harapan setelah peristiwa mengancam nyawa. Pendekatan ini tidak mengasumsikan semua orang mengalami trauma berat, tetapi memetakan kebutuhan berbeda setiap penyintas dan memberi bantuan sesuai tingkat risiko yang mereka hadapi.

Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kementerian Sosial menerapkan pola ini melalui Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi warga terdampak gempa pada Minggu, 23 Agustus 2026. Ini bukan tambahan kosmetik dalam masa tanggap darurat, tetapi komponen yang menentukan apakah penyintas akan pulih menjadi komunitas kuat atau tersisa dalam ketakutan berkepanjangan. Subcluster LDP diaktifkan sejak hari ketiga pengungsian, melibatkan 18 lembaga dan NGO yang membagi peran pendampingan, terutama untuk anak-anak.

Bagaimana Dukungan Psikososial Gempa Membantu Penyintas Pulih dari Trauma

Asesmen terstruktur: memilah rasa takut wajar dari trauma berat

Inti dari layanan kesehatan mental darurat yang baik adalah keberanian untuk memilah, bukan menyamaratakan. Tim LDP di Sikka memulai kerja mereka dengan asesmen psikososial untuk memetakan kondisi warga. Hasilnya jelas dan tegas: sekitar 19 persen korban masuk kategori merah atau berisiko sangat tinggi, 31 persen kategori kuning atau risiko sedang, dan 50 persen kategori hijau atau risiko ringan. Angka ini membongkar asumsi populer bahwa semua penyintas otomatis “trauma berat”.

Penyintas kategori merah dirujuk ke psikolog dari universitas dan tim penanganan bencana untuk penanganan lanjutan terhadap paparan traumatis berat. Di sinilah garis batas layanan dukungan psikososial gempa dijaga dengan sadar: relawan tidak menangani gangguan berat; kasus semacam itu dirujuk ke psikolog, psikiater, atau perawat jiwa yang kompeten. Pendekatan berjenjang ini bukan birokrasi tambahan, melainkan cara melindungi penyintas dari intervensi serampangan yang bisa memperburuk trauma penyintas bencana.

Rasa takut itu wajar, bukan selalu trauma

Pesan paling penting dari Tim LDP mungkin justru yang paling tidak populer di media sosial: tidak semua rasa takut adalah trauma klinis. Koordinator Tim LDP, Igu Gunawan, menegaskan bahwa takut, khawatir, dan cemas adalah reaksi biasa dalam situasi yang tidak biasa, sesuatu yang normal dalam kondisi yang tidak normal. Ia mengingatkan publik agar tidak sembarangan menempelkan label trauma kepada penyintas bencana.

Perbedaan ini lebih dari sekadar istilah. Dengan menamai semua reaksi emosional sebagai trauma, kita tanpa sadar memosisikan penyintas sebagai korban permanen, bukan warga tangguh yang sedang mengalami fase sulit. Igu bahkan mengimbau penggunaan istilah layanan dukungan psikososial, bukan “trauma healing” di pos pengungsian. Itu sikap politik bahasa: menolak patologisasi massal dan mengakui ketangguhan warga—“warga itu tangguh, kuat… termasuk kuat kesehatan mentalnya” adalah kalimat yang layak dikutip ulang sebagai koreksi atas narasi bencana yang cenderung memojokkan penyintas sebagai pihak lemah.

Memusatkan layanan pada kelompok rentan, terutama anak

Jika ingin memutus rantai trauma penyintas bencana, perhatian harus dipusatkan pada mereka yang paling rentan. Di Sikka, pendampingan LDP diprioritaskan untuk anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Sebagian besar lembaga dalam subcluster LDP memang fokus pada pendampingan anak-anak, sementara kelompok non-anak didampingi bersama tim Kemensos. Ini pilihan strategis, bukan kebetulan administratif.

Pendampingan anak korban gempa berlangsung terjadwal: pukul 10.00–12.00 WITA diisi aktivitas rekreasional, Psychological First Aid (PFA), dan kegiatan psikososial lainnya, lalu berlanjut lagi pukul 16.00 hingga menjelang malam bersama relawan subcluster LDP. Kegiatan bermain, bercerita, hingga senam pagi bersama warga, anak-anak, relawan, TNI, dan Polri sejak pukul 06.00 WITA membantu mengembalikan ritme hidup harian dan fungsi sosial di pengungsian. Ini bentuk dukungan yang tampak sederhana, tetapi secara psikologis mengirim pesan kuat: hidup terus berjalan, dan anak-anak tidak dibiarkan menghadapi ketakutan sendirian.

Dari tanggap darurat ke pemulihan jangka panjang

Layanan dukungan psikososial yang baik tidak berhenti pada hari-hari pertama setelah gempa. Di Sikka, LDP dijalankan sebagai bagian dari masa tanggap darurat untuk membantu warga menghadapi dampak psikologis setelah bencana. Layanan ini berlangsung harian di lokasi pengungsian, dengan jadwal yang menyesuaikan kondisi dan kebutuhan warga, dan terus dilanjutkan sebagai pendampingan bertahap berdasarkan hasil asesmen.

Tim LDP juga menaruh perhatian pada warga yang pernah mengalami gempa dan tsunami 1992; pengalaman lama itu dapat muncul kembali saat gempa susulan terjadi. Latihan stabilisasi dan grounding diajarkan agar mereka tahu apa yang bisa dilakukan ketika cemas atau takut, disertai edukasi langkah penyelamatan diri bila terjadi gempa susulan. Ke depan, keberlanjutan layanan kesehatan mental darurat seperti ini—dengan jalur rujukan jelas ke psikolog, psikiater, dan perawat jiwa untuk kasus berat—akan menentukan apakah penyintas keluar dari bencana sebagai komunitas yang lebih siap, atau tetap hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Pilihannya seharusnya jelas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!