Layanan Dukungan Psikososial untuk Penyintas Gempa: Model Negara dan Efektivitasnya

Layanan Dukungan Psikososial untuk Penyintas Gempa: Model Negara dan Efektivitasnya
Minat|Kesehatan Mental

LDP: Dari Slogan Trauma Healing ke Layanan Psikososial yang Nyata

Layanan dukungan psikososial bencana adalah rangkaian intervensi terstruktur untuk membantu penyintas memulihkan fungsi emosional, sosial, dan perilaku setelah mengalami kejadian mengancam, melalui asesmen psikologis korban, pendampingan terencana, dan rujukan ke layanan kesehatan mental bila diperlukan.

Kementerian Sosial melalui Sentra Efata Kupang memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) kepada anak-anak terdampak gempa di posko pengungsian mandiri Stella Maris, Kabupaten Nagekeo, pada 20 Agustus. Beberapa hari kemudian, LDP juga digelar bagi warga terdampak gempa di Kabupaten Sikka sebagai bagian masa tanggap darurat untuk menangani dampak psikologis setelah bencana. Di sini terlihat, negara tidak lagi memosisikan dukungan psikososial sebagai kegiatan tambahan, melainkan komponen resmi respons bencana.

Koordinator Tim LDP, Igu Gunawan, secara tegas mengingatkan agar pendamping di pengungsian menggunakan istilah layanan dukungan psikososial, bukan "trauma healing". Sikap ini penting: ia menggeser fokus dari slogan populer ke intervensi berbasis asesmen dan kategori risiko, yang jauh lebih bertanggung jawab.

Layanan Dukungan Psikososial untuk Penyintas Gempa: Model Negara dan Efektivitasnya

Metode di Lapangan: Edukasi, Permainan, dan Berbagi Cerita untuk Anak

Kekuatan pendekatan LDP Kemensos pada anak-anak terletak pada kombinasi serius antara edukasi, permainan, dan ruang ekspresi emosi. Di posko Stella Maris, sekitar 20 anak diajak mengikuti kegiatan interaktif untuk memulihkan kondisi emosional mereka. Program dibuka dengan sosialisasi ringan melalui lagu bertema tanggap darurat gempa, lalu dilanjutkan dengan berbagai permainan yang berfungsi sebagai ice breaking untuk mencairkan suasana.

Pendekatan ini tidak sekadar "menghibur" anak, melainkan mengajarkan kesiapsiagaan di daerah yang sering diguncang gempa. Petugas juga menggelar sesi berbagi cerita agar anak dapat mengeluarkan ketakutan dan pengalaman traumatis yang mereka saksikan—dari bangun tidur dalam keadaan panik hingga melihat barang-barang rumah tangga hancur. Di sinilah edukasi dan emosional literacy bertemu: anak belajar memahami bahwa rasa takut itu normal, sambil mendapat dukungan sebaya.

Model ini patut dipertahankan karena menghormati suara anak sebagai penyintas, bukan obyek pasif. Alih-alih memaksakan narasi "harus kuat", LDP memberi ruang aman untuk takut dan bercerita, sambil menyiapkan mereka menghadapi gempa berikutnya.

Asesmen Berbasis Risiko: Tidak Semua Takut Adalah Trauma

Salah satu kemajuan paling penting dari LDP di NTT adalah keberanian menyatakan bahwa tidak semua rasa takut setara dengan trauma klinis. Di GOR Samador, Sikka, hasil asesmen menunjukkan sekitar 19 persen korban berada pada kategori merah (risiko sangat tinggi), 31 persen kategori kuning (risiko sedang), dan 50 persen kategori hijau (risiko ringan). Kutipan yang layak dicatat: "Takut, khawatir, cemas... hal yang normal dalam kondisi yang tidak normal. Jadi, bukan trauma".

Penekanan bahwa warga "tangguh" dan tidak otomatis traumatis mematahkan kecenderungan publik melabeli semua penyintas sebagai korban trauma. Di sisi lain, pendekatan berbasis kategori risiko memastikan bahwa trauma korban gempa yang berat tidak diabaikan. Warga kategori merah dirujuk ke psikolog dan mendapat asesmen lanjutan oleh tim ahli dari kampus dan jaringan psikolog bencana.

Ini adalah cara yang lebih sehat: menghindari dramatisasi berlebihan, tetapi tetap serius menangani kasus berat. Tantangannya ke depan adalah memastikan kategori ini tidak menjadi angka di kertas, melainkan pintu masuk ke layanan kesehatan mental yang berkelanjutan.

Fokus Kelompok Rentan: Antara Perlindungan dan Rujukan Profesional

LDP di Sikka secara jelas memprioritaskan kelompok rentan penyintas: anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Pendekatan ini sejalan dengan temuan bahwa kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak psikologis akibat bencana, termasuk penyandang disabilitas yang juga disebut sebagai prioritas dalam pendampingan. Di pengungsian, pendampingan harian berupa Psychological First Aid (PFA), kegiatan rekreasional, dan aktivitas pengembalian fungsi sosial menjadi menu utama bagi kategori kuning dan hijau.

Yang patut diapresiasi, relawan tidak dibiarkan menangani kasus berat seorang diri. Jika ditemukan gangguan psikologis serius, tim LDP merujuk ke psikolog, psikiater, atau perawat jiwa sebagai tenaga profesional. "Yang merah kami rujuk ke psikolog karena kasus dengan risiko tinggi harus ditangani oleh tim ahli," ujar anggota Tim LDP, Igun Gunawan.

Namun, prioritas ini akan kehilangan makna bila tidak diikuti ketersediaan tenaga profesional yang cukup di wilayah terdampak, terlebih mengingat sebagian warga membawa beban pengalaman traumatis gempa dan tsunami 1992 yang bisa kembali muncul saat gempa susulan. Di sinilah pemerintah perlu memastikan bahwa rantai rujukan tidak terputus di tengah jalan.

Model Intervensi Negara: Terstruktur, Berkelanjutan, tapi Perlu Pendalaman

Layanan psikososial di pengungsian di Sikka dilaksanakan melalui kegiatan harian terjadwal dan diklaim dilakukan secara terprogram dan terstruktur. Subklaster LDP diaktifkan pada hari ketiga masa pengungsian dengan melibatkan 18 lembaga dan NGO yang sebagian besar fokus pada anak, sementara pendampingan kelompok non-anak dilakukan bersama tim Kemensos. Layanan ini disebut akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan warga, dengan pendampingan bertahap berdasarkan hasil asesmen serta rujukan ke tenaga profesional bila diperlukan.

Dari perspektif kebijakan, ini menunjukkan bahwa dukungan psikososial bencana mulai diakui sebagai urusan negara yang memerlukan struktur, data, dan koordinasi lintas lembaga. Namun, keberlanjutan menjadi kunci: apakah pemantauan psikologis berhenti ketika tenda gulung dipindahkan dan dapur umum ditutup, ataukah lanjut melalui jaringan layanan kesehatan mental yang sudah ada? Kemensos menyatakan akan terus memberi dukungan kepada masyarakat terdampak gempa NTT, tetapi publik berhak menuntut transparansi atas bagaimana dukungan itu diterjemahkan menjadi layanan pascatanggap darurat.

Kesimpulannya, model LDP Kemensos di NTT adalah kemajuan penting: menghindari label trauma berlebihan, melindungi kelompok rentan, dan memadukan asesmen dengan rujukan profesional. Tahap berikutnya adalah memperdalam integrasi dengan sistem layanan kesehatan mental jangka panjang, agar pemulihan penyintas tidak berhenti pada hari ketika posko pengungsian dibongkar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!