Mengapa Guru Harus Segera Menguasai AI
Pelatihan AI guru adalah rangkaian kegiatan terstruktur yang membekali pendidik dengan literasi digital, pemahaman dasar kecerdasan artifisial, serta keterampilan praktis menggunakan beragam aplikasi dan teknik koding untuk mendukung pembelajaran dan administrasi sekolah, sehingga teknologi bukan sekadar tontonan, melainkan alat kerja sehari-hari yang relevan bagi kelas dan peserta didik. Di berbagai wilayah, dari Sumenep hingga Lahat di Sumatra Selatan, workshop koding guru dan pelatihan kecerdasan artifisial mulai digelar secara sistematis untuk menjawab tuntutan era digital. Ini bukan hobi teknologi, melainkan kebutuhan profesional. Tanpa literasi digital pendidik yang memadai, kurikulum akan tertinggal dan peserta didik kehilangan kesempatan memahami dunia yang kian dikuasai algoritma. Karena itu, posisi AI harus bergeser dari sesuatu yang menakutkan menjadi mitra kerja guru.

Gerakan Terstruktur PGRI: Dari Sumenep ke Sumatra Selatan
Kekuatan gerakan literasi digital pendidik saat ini terletak pada koordinasi organisasi profesi, bukan semangat individu yang sporadis. Di Sumenep, guru dari Korwil 5 mengikuti Workshop Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial dengan pola luring dan daring, lengkap dengan materi fondasi literasi AI, prompt engineering untuk pembelajaran, serta pembuatan modul ajar dan RPP berbasis AI. Wilayah lain di Sumenep menggelar Workshop Digitalisasi Pembelajaran dan Pemanfaatan Artificial Intelligence yang mengusung semangat “Gerakan 1 Juta Guru Mahir Coding & AI” untuk mendorong guru aktif mencoba aplikasi secara langsung. Di Lahat, Program Pelatihan Artificial Intelligence (AI) dan Coding bagi Guru SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA diluncurkan sebagai titik awal gerakan peningkatan kompetensi digital yang akan menyebar ke seluruh kabupaten dan kota di Sumatra Selatan. Menurut Ketua PGRI Sumsel, workshop ini adalah bagian komitmen meningkatkan profesionalisme guru menghadapi perkembangan teknologi yang cepat.

Apa Saja yang Dipelajari Guru dalam Pelatihan AI
Kekeliruan terbesar tentang pelatihan AI guru adalah anggapan bahwa isinya teori rumit dan riset tingkat tinggi. Faktanya, materi dirancang sangat praktis dan dekat dengan pekerjaan sehari-hari. Di Sumenep, guru mempelajari fondasi literasi AI, teknik menyusun prompt untuk keperluan pembelajaran, pembuatan modul ajar dan RPP berbasis AI, pemanfaatan platform E-Runik, serta media presentasi interaktif berbasis AI. Di workshop digitalisasi pembelajaran, AI diperkenalkan sebagai alat untuk menyusun perangkat pembelajaran, bahan ajar, instrumen asesmen, soal, dan dokumen administrasi kelas. Sementara program di Sumatra Selatan mendorong guru bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkan AI dan coding secara bijak, kreatif, dan relevan dengan proses pembelajaran di semua jenjang sekolah. Guru tidak dituntut menjadi programmer, melainkan pendidik yang paham teknologi dan bisa membimbing peserta didik menggunakannya secara bertanggung jawab.

Langkah Praktis Guru: Dari Workshop ke Implementasi di Kelas
Pelatihan tanpa implementasi hanya akan menjadi sertifikat tambahan. Kuncinya, guru perlu mengubah workshop koding guru menjadi kebiasaan kerja baru. Pertama, jadikan fondasi literasi AI sebagai lensa untuk menilai setiap aplikasi: apakah relevan dengan tujuan pembelajaran dan sesuai karakter peserta didik. Kedua, praktikkan prompt engineering untuk menyusun materi, latihan, dan soal yang kontekstual, lalu adaptasi keluaran AI dengan pengalaman mengajar sendiri. Ketiga, gunakan AI untuk mengurangi beban administratif—dari rancangan RPP sampai instrumen asesmen—agar energi bisa dialihkan ke interaksi pembelajaran yang bermakna. Keempat, bangun komunitas belajar di sekolah atau melalui jaringan PGRI agar guru saling berbagi skenario implementasi AI pembelajaran yang berhasil maupun yang perlu diperbaiki. Dengan cara ini, literasi digital pendidik tumbuh bukan sebagai proyek sesaat, melainkan kultur profesional baru di sekolah.
Menuju Ekosistem Sekolah yang Melek AI
Jika pelatihan AI guru dijalankan konsisten, dampaknya jauh melampaui peningkatan keterampilan individu. Di Sumenep, workshop berbasis luring dan daring menunjukkan bahwa guru di kecamatan Batuan, Lenteng, Ganding, dan Guluk-Guluk dapat mengakses materi teknologi mutakhir tanpa harus meninggalkan konteks lokal mereka. Di Lahat, pemerintah daerah dan PGRI membuka ruang bagi tenaga pendidik untuk mengenal serta mempelajari penggunaan teknologi secara lebih tepat, menekankan bahwa AI dan coding bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi menjadi alat bantu proses belajar mengajar. Sikap positif terhadap perkembangan teknologi yang terus berubah cepat mendorong peningkatan kompetensi guru sebagai bagian penting menjaga kualitas pendidikan. Pada akhirnya, literasi digital pendidik yang kuat akan mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan zaman, dengan sekolah sebagai ekosistem yang melek AI, bukan sekadar penonton revolusi digital.






