Mengapa Workshop AI untuk Guru Madrasah Menjadi Titik Balik
Workshop AI guru dan pelatihan koding madrasah adalah program terstruktur yang melatih kepala madrasah serta guru untuk memahami computational thinking, menggunakan koding ramah anak, dan memanfaatkan kecerdasan artifisial dalam merancang materi ajar sehingga meningkatkan literasi digital pendidik dan kualitas pengalaman belajar siswa di kelas. Di Merakurak, gagasan ini tidak berhenti di atas kertas. Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Merakurak menggandeng Tim Digital Radar Tuban dalam Workshop Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) di MI Islamiyah Sumberejo pada Sabtu, 26 September. Kegiatan ini diikuti 22 peserta dari 11 madrasah ibtidaiyah, terdiri atas kepala madrasah dan guru MI. Fakta bahwa semua jenjang kepemimpinan hadir menunjukkan keseriusan: madrasah menyadari transformasi pendidikan AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Metodologi Pelatihan: Dari Computational Thinking ke Proyek Digital
Kekuatan workshop ini bukan sekadar pada tema “Coding untuk Pendidikan: Membangun Kreativitas, Logika, dan Literasi Digital di Madrasah”, melainkan pada cara materi disusun agar guru betul-betul siap membawa koding ke ruang kelas. Manager Digital Radar Tuban, Yudha Satria Aditama, hadir sebagai pemateri untuk memberikan pemahaman mengenai penerapan teknologi digital dalam pembelajaran di madrasah. Ia mengenalkan computational thinking, koding ramah anak, dan panduan membuat proyek digital sederhana dengan dukungan AI untuk siswa jenjang MI. Kutipan yang paling penting dari sesi ini sesungguhnya berfungsi sebagai prinsip desain pembelajaran: “Implementasi koding untuk peserta didik pada prinsipnya adalah mengajarkan untuk berpikir kritis dan sistematis”. Artinya, pelatihan tidak bertujuan menjadikan siswa programmer instan, melainkan menanam cara berpikir komputasional yang akan berguna di semua mata pelajaran.
Literasi Digital Pendidik: Dampak Nyata di Ruang Kelas Madrasah
Workshop AI guru di Merakurak secara terang memperlakukan literasi digital pendidik sebagai syarat utama transformasi pendidikan AI, bukan aksesori tambahan. Yudha tidak berhenti pada teori; ia mengajarkan praktik membuat materi pembelajaran berbasis koding dan akal imitasi (AI), dengan tujuan agar pembelajaran dapat diciptakan dengan mudah dan menyenangkan. Ketua KKM MI Kecamatan Merakurak, Suryono, menegaskan bahwa kegiatan seperti ini penting untuk menambah wawasan kepala madrasah dan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin cepat. Harapannya jelas: pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada kegiatan workshop, tetapi diterapkan dalam proses pembelajaran di masing-masing madrasah. Di sinilah letak nilai strategisnya—ketika guru MI mulai mempraktikkan koding dan AI, siswa madrasah akan memiliki akses awal pada keterampilan digital yang selama ini identik dengan jenjang pendidikan lebih tinggi.
Konektivitas dengan Olimpiade Koding dan AI: Ekosistem Digital yang Mulai Terbentuk
Jika workshop Merakurak menyiapkan guru, Olimpiade Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang digelar kolaborasi Jawa Pos Radar Tuban dengan Dinas Pendidikan Tuban menyiapkan ruang pembuktian kemampuan siswa. Kegiatan ini menyasar peserta didik jenjang SMP dan dinilai relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pendidikan saat ini. Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan SMP Disdik Tuban, Siswo Suwarko, menilai penyelenggaraan Olimpiade KKA sejalan dengan transformasi kurikulum nasional yang mulai mengintegrasikan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial. Kompetisi tersebut mengasah kemampuan berpikir kritis, logis, dan komputasional siswa, sekaligus memacu peningkatan mutu pembelajaran dan kompetensi guru. Lebih jauh, hasil kompetisi memberikan data peta kompetensi literasi digital antarsekolah dan menjadi dasar penyusunan program bimtek serta pemerataan bantuan infrastruktur digital. Dengan kata lain, workshop dan olimpiade mulai membentuk ekosistem: guru dilatih, siswa diberi ruang aktualisasi, dan dinas pendidikan mengolah datanya untuk kebijakan.
Model Kolaborasi yang Patut Direplikasi di Daerah Lain
Kolaborasi antara KKMI Merakurak dan Tim Digital Radar Tuban dalam pelatihan koding madrasah, disambung dengan kerja sama media dan Disdik Tuban dalam Olimpiade KKA, menawarkan model transformasi pendidikan AI yang layak ditiru. Polanya sederhana tetapi kuat: komunitas pendidikan lokal mengakui kebutuhan literasi digital, menggandeng tim digital yang punya kompetensi teknis, lalu melanjutkan inisiatifnya ke level kebijakan melalui dinas pendidikan. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan program pemerintah pusat dalam mendorong transformasi digital di bidang pendidikan. Harapan agar Olimpiade KKA berlanjut dan memberikan dampak terhadap pembelajaran digital di daerah hanya akan terwujud jika pelatihan guru seperti di Merakurak menjadi agenda rutin, bukan kegiatan sesekali. Kesimpulannya tegas: daerah lain yang masih bingung memulai transformasi digital madrasah dan sekolah dasar dapat menyalin model ini—mulai dari literasi digital pendidik, berlanjut ke ruang aktualisasi siswa, dan diikat dengan kebijakan berbasis data.






