Pelatihan guru sains: dari teori ke pengalaman belajar bermakna
Pelatihan guru sains adalah program pengembangan profesional pendidik yang menguatkan kompetensi guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sains berbasis literasi biokimia, praktikum kimia aplikatif, integrasi kearifan lokal, dan pembelajaran sains inklusif, agar siswa mengalami sains sebagai proses eksplorasi nyata yang relevan dengan lingkungan dan kebutuhan mereka, bukan sekadar hafalan rumus di kelas. Inti persoalannya jelas: kualitas pembelajaran sains di sekolah tidak akan berubah jika guru tetap diposisikan sebagai penerima kurikulum, bukan perancang pengalaman belajar. Di titik ini, pelatihan guru sains yang digagas kampus menjadi intervensi strategis. Kelompok keilmuan biokimia dan rekayasa biomolekul sebuah fakultas sains menyelenggarakan workshop literasi guru yang mengulas asesmen, transformasi digital kimia, dan keselamatan eksperimen bagi sekitar 30 guru sains dari sekolah menengah di Yogyakarta dan Sleman. Ini bukan lagi bimbingan teknis rutin, melainkan upaya sistematis menggeser cara pandang guru terhadap sains.

UMRAH: PPM berbasis kearifan lokal sebagai jantung transformasi biologi
Jika selama ini biologi di kelas sering terasa abstrak dan terlepas dari realitas lokal, tim PKM dari sebuah universitas maritim memilih jalan berbeda. Mereka melaksanakan kegiatan “Transformasi Pendidikan Biologi melalui Pelatihan Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam (PPM) Berbasis Kearifan Lokal bagi Guru MGMP Biologi Kota Tanjungpinang Menuju SDGs 4” di Aula Cendekia sebuah SMA negeri pada Kamis, 30 Juli 2026, diikuti guru-guru biologi anggota MGMP kota tersebut. Fokusnya bukan hanya menyusun RPP, tetapi merancang pengalaman belajar mendalam yang bertolak dari potensi pesisir dan budaya setempat. Materi pelatihan menggarisbawahi konsep pembelajaran mendalam, strategi mengidentifikasi kearifan lokal sebagai konteks, serta mengintegrasikannya ke tujuan, aktivitas, asesmen, dan refleksi belajar. Integrasi ini diharapkan memperkuat literasi sains, menumbuhkan karakter peduli lingkungan, dan melestarikan nilai budaya lokal sebagai bagian implementasi SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas. Dalam konteks pengembangan profesional pendidik, pendekatan ini menegaskan bahwa guru biologi harus sekaligus menjadi periset kecil di kelasnya: peka membaca lingkungan, lalu mengolahnya menjadi masalah belajar bagi siswa.

UNTAN: kimia sebagai pintu pembelajaran sains inklusif bagi ABK
Pelatihan guru sains yang relevan hari ini tidak bisa mengabaikan anak berkebutuhan khusus. Tim PKM dari sebuah universitas di Kalimantan Barat menunjukkan bahwa pembelajaran sains inklusif tidak lahir dari modul khusus semata, tetapi dari keberanian mengubah wajah kimia di kelas. Mereka menghadirkan pengalaman sains kimia yang inklusif bagi ABK melalui eksperimen sederhana, stimulasi multisensori, dan pelibatan terapis, mentor, orang tua, serta pendamping. Gagasannya tegas: kimia tidak harus selalu hadir dalam bentuk rumus dan laboratorium kompleks; fenomena sederhana sehari-hari bisa menjadi pintu masuk pengalaman sains yang bermakna. Program dimulai 11 Juli 2026 lewat kegiatan Fun Chemistry “Rainbow in Nature” yang melibatkan 14 anak berkebutuhan khusus. Ekstraksi zat warna alami dari buah dan sayuran, penggunaan lemon, cuka, dan soda kue sebagai asam-basa, menjadikan konsep indikator dan perubahan warna sebagai pengalaman visual dan motorik, bukan definisi abstrak. Pada tahap berikutnya, anak diharapkan membawa pengalaman tersebut ke lingkungan sosial bersama teman tipikal. Di sini, pelatihan bagi terapis dan mentor menjelma pengembangan profesional pendidik lintas profesi: sains dipahami sebagai media stimulasi, bukan sekadar materi pelajaran.
ITB: literasi biokimia guru dan praktikum kimia aplikatif di sekolah
Perubahan cara guru mengajar kimia tidak cukup dengan menambah lembar kerja, tetapi dengan memperkaya literasi biokimia guru dan membongkar jarak antara teori dan praktik. Kelompok keilmuan biokimia dan rekayasa biomolekul sebuah fakultas sains menyelenggarakan workshop untuk sekitar 30 guru sains yang membahas asesmen, transformasi digital pengajaran kimia, dan keselamatan eksperimen, disampaikan oleh profesor dan pakar bidang terkait. Menurut ketua kelompok keilmuan tersebut, kegiatan ini adalah bentuk kontribusi untuk mendukung penguatan pembelajaran kimia di sekolah. Masukan guru jelas: mereka ingin lebih banyak sesi praktik—penyusunan soal berbasis HOTS, asesmen diagnostik, pembelajaran berbasis proyek, serta pemanfaatan AI dan virtual laboratory. Di sisi lain, kelompok keilmuan kimia analitik mengenalkan praktikum kimia aplikatif di SMAN 1 Sleman sebagai bagian pengabdian masyarakat. Pada 10 Agustus 2026, 287 siswa kelas 12 mengikuti kegiatan bertema “Keseruan Ilmu Kimia di Lingkungan siswa SMA/MA/SMK” dengan percobaan seperti kromatografi kolom dan aplikasi kimia di sekitar mereka. Tujuannya terang: meningkatkan pemahaman siswa terhadap kimia yang ada di sekitar mereka dan mematahkan rasa takut terhadap pelajaran tersebut.

Dari PPM dan riset masalah ke kompetensi inti guru sains modern
Benang merah dari berbagai inisiatif ini adalah perubahan peran guru: dari pengantar materi menjadi perancang pengalaman belajar berbasis riset masalah. Dalam pelatihan di Tanjungpinang, guru didorong menyusun Perencanaan Pembelajaran Mendalam (PPM) yang berangkat dari kebutuhan nyata lingkungan sekitar, mulai dari identifikasi potensi lokal hingga merumuskan tujuan dan asesmen belajar. Interaksi selama sesi menunjukkan komitmen guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui inovasi yang merespons konteks lokal. Ini adalah bentuk pengembangan profesional pendidik yang paling esensial: guru berlatih berpikir sebagai peneliti di kelasnya sendiri. Di sisi lain, guru peserta workshop literasi biokimia mengusulkan topik lanjut seperti HOTS, pembelajaran proyek, AI, dan laboratorium virtual sebagai kebutuhan konkrit. Sementara itu, pengalaman praktik di Sleman menjadikan siswa “bintang kegiatan”, dengan dosen dan mahasiswa hanya berperan sebagai fasilitator percobaan kimia aplikatif. Dikaitkan dengan gerakan pembelajaran sains inklusif bagi ABK di program UNTAN, gambaran guru sains modern pun menguat: reflektif, kontekstual, peka keberagaman, dan mampu merancang pengalaman sains yang membumi sekaligus menantang nalar.






