Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelatihan Literasi Digital Guru: Dari E-Raport hingga ERT

Pelatihan Literasi Digital Guru: Dari E-Raport hingga ERT
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Transformasi digital menuntut guru naik kelas

Program pelatihan guru digital adalah serangkaian kegiatan terstruktur yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi digital pendidik, mulai dari kemampuan mengelola administrasi berbasis sistem informasi, memanfaatkan platform pembelajaran, hingga mengembangkan strategi pedagogi yang responsif terhadap dinamika emosional siswa dalam lingkungan kelas yang terdigitalisasi. Di berbagai daerah, pelatihan semacam ini bukan lagi pelengkap, melainkan penopang utama kualitas pembelajaran. Kelompok kerja kepala sekolah, madrasah, dan universitas tampak sepakat: tanpa literasi informasi guru yang kuat dan penguasaan teknologi, ide kurikulum merdeka dan transformasi digital pendidikan akan berhenti di tataran jargon. Pertanyaannya bukan apakah guru perlu dilatih, melainkan apakah ekosistem sekolah siap menjadikan pelatihan sebagai budaya berkelanjutan, bukan sekadar acara seremonial sesaat.

E-Raport sekolah: mengurangi beban administratif, memaksa disiplin data

Bimbingan teknis E-Raport sekolah untuk guru dan administrator SD di Tapaktuan menjadi contoh paling konkret bagaimana digitalisasi administrasi memaksa perubahan perilaku kerja guru. Dalam pelatihan sehari penuh di SD Negeri 3 Tapaktuan, guru dan operator belajar sinkronisasi Dapodik, pembuatan akun, pengaturan format, hingga praktik penginputan nilai dan pencetakan laporan hasil belajar. Pejabat bidang SD menegaskan bahwa daerah tersebut terlambat memakai aplikasi yang sejak lama dikeluarkan kementerian, namun masih bisa mengejar karena guru sudah cukup menguasai TIK dan antusias mengikuti bimbingan teknis. Di balik bahasa teknis, pesan utamanya jelas: E-Raport mampu mengelola hasil belajar secara terstruktur dan terdokumentasi, mengurangi pekerjaan administratif berulang, dan memudahkan pembaruan data. Pelatihan guru digital seperti ini bukan sekadar soal mengisi kolom, tetapi membangun budaya tata kelola data yang rapi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Literasi informasi guru madrasah: dari klik ke pikir kritis

Jika E-Raport menata administrasi, pelatihan literasi informasi guru di MTsN 1 Kabupaten Bekasi menyasar jantung kompetensi digital pendidik: cara berpikir mereka. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk peningkatan literasi informasi berbasis platform dirancang bukan hanya mengenalkan berbagai platform digital, tetapi memberi pengalaman praktis menjadikan platform sebagai sumber belajar dan sarana pengembangan profesional. Di era banjir informasi, guru didorong mengakses, menyeleksi, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara tepat, dengan kesadaran bahwa kualitas dan kredibilitas konten internet sangat beragam. Haris Hamdani menekankan bahwa literasi informasi adalah kompetensi kunci: guru wajib menilai sumber, membandingkan informasi, dan memutuskan kelayakan materi sebelum dibawa ke kelas. Pendekatan ini menggeser makna pelatihan guru digital dari sekadar mahir aplikasi, menuju guru sebagai pembelajar sepanjang hayat yang kritis dalam ruang digital.

Emotional Responsive Teaching: kompetensi digital yang menyentuh emosi

Transformasi pendidikan berbasis teknologi sering terjebak pada perangkat dan aplikasi, padahal inti kelas tetap manusia. Di sinilah pelatihan Emotional Responsive Teaching (ERT) yang digelar tim PKM UNISNU Jepara bagi guru SD Negeri Kauman menjadi penyeimbang penting. Program ini menargetkan peningkatan keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran mendalam dengan menyiapkan guru memvalidasi emosi siswa secara sadar. ERT selaras dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan ekosistem belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Guru dibekali pemahaman perkembangan sosio-emosional anak, komunikasi empatik, dan regulasi emosi saat menghadapi tugas berbasis HOTS. Pelatihan semacam ini patut dibaca sebagai perluasan makna kompetensi digital pendidik: teknologi hanyalah medium, sementara literasi emosional menjadi fondasi agar penggunaan platform pembelajaran interaktif betul-betul mendorong deep learning, bukan sekadar aktivitas layar.

Kolaborasi universitas–sekolah: dari proyek PKM menjadi budaya belajar berkelanjutan

Benang merah dari berbagai inisiatif ini adalah kolaborasi: kelompok kerja sekolah yang menggelar Bimtek E-Raport, serta universitas yang turun melalui program PKM di SD dan madrasah. Kolaborasi tersebut menghindarkan sekolah dari isolasi teknologi; guru tidak dibiarkan bereksperimen sendiri tanpa dukungan ilmiah dan praktis. Di Bekasi, tim PKM dan madrasah menjadikan pelatihan literasi informasi sebagai ruang diskusi dan berharap praktiknya berlanjut dalam keseharian, dari mencari referensi sampai mengembangkan bahan ajar. Di Jepara, guru bahkan didampingi merancang sinergi dengan orang tua agar ERT berlanjut di luar kelas. Namun tantangan utamanya adalah keberlanjutan: kegiatan tidak boleh berhenti pada seminar sehari lalu hilang tanpa jejak. Jika universitas dan sekolah berkomitmen menjadikan pelatihan sebagai siklus reguler, kompetensi digital pendidik akan tumbuh bersama perubahan teknologi, bukan tertinggal mengikutinya dari belakang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!