Angka transaksi besar, tetapi manfaat perlu ditelusuri
MotoGP Mandalika adalah gelaran balap internasional yang menghadirkan penonton, pekerja, dan pelaku usaha ke kawasan tuan rumah, sehingga membuka peluang transaksi dan kerja bagi ekonomi setempat. Dalam penyelenggaraan 2026, transaksi UMKM selama acara diperkirakan mencapai Rp 2,9 miliar berdasarkan kajian bersama Lembaga Teknik dan Manajemen Industri Institut Teknologi Bandung (LETMI–ITB) dan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC). Angka tersebut menunjukkan bahwa balapan tak hanya menjadi tontonan: ia juga menciptakan pasar sementara bagi usaha lokal. Namun, nilai total itu belum menjawab siapa yang menerima bagian terbesar atau apakah kesempatan tersebar merata di antara peserta. Karena itu, kabar positif ini layak dibaca sebagai bukti potensi, bukan bukti bahwa seluruh UMKM Mandalika sudah memperoleh dampak yang sama.
Sebanyak 769 pelaku UMKM terlibat dalam gelaran tersebut. Direktur Operasi ITDC Troy R. Warokka menyebut estimasi transaksi peserta mencapai Rp 2,9 miliar. Dengan begitu banyak usaha hadir, ajang balap menyediakan akses ke kerumunan pengunjung yang mungkin lebih sulit dijangkau pada hari biasa. Tetapi jumlah peserta dan angka transaksi agregat tidak mengungkap pembagian hasil per usaha. Ukuran keberhasilan berikutnya semestinya bukan hanya nilai transaksi keseluruhan, melainkan juga seberapa luas peluang itu menjangkau pedagang dan seberapa banyak hubungan dagang berlanjut setelah acara usai.
Pengunjung dan pekerja memperluas peluang ekonomi
Peluang untuk usaha lokal muncul karena acara mendatangkan arus pengunjung sekaligus membutuhkan tenaga kerja. MotoGP Mandalika 2026 menarik 157.875 pengunjung selama tiga hari balapan, naik sekitar 12,5 persen dari 140.324 penonton pada 2025. Lebih banyak orang di lokasi dapat membuka ruang bagi penjualan produk dan jasa, meski manfaatnya bergantung pada akses UMKM terhadap titik ramai, kebutuhan pengunjung, dan pengelolaan acara. Kehadiran penonton saja tidak menjamin setiap usaha mendapat pelanggan; kesempatan berjualan dan kesiapan pelaku usaha ikut menentukan hasil.
Dampaknya juga terlihat pada kesempatan kerja. Sebanyak 3.500 tenaga kerja terlibat selama acara, dengan 72 persen berasal dari NTB. Porsi pekerja lokal ini penting karena menunjukkan bahwa gelaran dapat membuka pekerjaan bagi warga, bukan hanya mendatangkan aktivitas dari luar daerah. Namun, angka tersebut belum menjelaskan jenis pekerjaan, lama kerja, maupun keberlanjutan pendapatan sesudah balapan. Agar peluang ekonomi lokal lebih berarti, penyelenggaraan berikutnya perlu terus memberi ruang bagi tenaga kerja dan pemasok setempat, sembari menilai siapa yang masih belum terjangkau.
Dampak luas belum sama dengan pemerataan
Kajian LETMI–ITB bersama ITDC juga memperkirakan dampak ekonomi nasional Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 sebesar Rp 5,2 triliun, meningkat sekitar 4,8 persen dari Rp 4,96 triliun pada tahun sebelumnya. Angka skala nasional memberi gambaran bahwa acara ini berkontribusi melampaui lokasi balapan, tetapi tidak boleh disamakan dengan pendapatan yang langsung diterima masyarakat setempat. Transaksi UMKM dan porsi pekerja lokal adalah petunjuk yang lebih dekat dengan pengalaman warga, meski keduanya tetap belum memetakan distribusi manfaat secara rinci.
Di sinilah hasil kajian perlu menjadi titik awal, bukan akhir pembahasan. Untuk menilai siapa yang paling diuntungkan, data lanjutan perlu menjelaskan sebaran transaksi di antara 769 peserta, jenis usaha yang memperoleh pelanggan, serta peluang kerja yang tersedia bagi warga. Tanpa rincian itu, angka besar mudah menutupi perbedaan antara usaha yang ramai dan usaha yang hanya ikut tercatat. Peliputan media dan penyebaran informasi, yang diapresiasi pihak penyelenggara, dapat membantu mengenalkan potensi kawasan, tetapi pengenalan harus diikuti akses pasar nyata bagi usaha lokal.
Ukuran sukses berikutnya adalah manfaat yang bertahan
MotoGP Mandalika membuktikan bahwa ajang olahraga dapat membuka pasar sementara dan menyerap tenaga kerja lokal. Namun, ukuran keberhasilan ekonomi yang lebih kuat adalah apakah peluang itu berlanjut di luar tiga hari balapan. Pelaku UMKM akan lebih diuntungkan bila pengunjung mengenal produk mereka, dapat membelinya kembali, dan tertarik pada kawasan sebagai destinasi setelah acara selesai. Untuk itu, hasil kajian sebaiknya dibaca bersama data tentang pemerataan transaksi dan keberlanjutan hubungan usaha, bukan semata total nilai.
Kesimpulannya, Rp 2,9 miliar merupakan capaian berarti bagi UMKM Mandalika, sementara keterlibatan 3.500 pekerja—mayoritas dari NTB—menunjukkan adanya manfaat langsung bagi warga. Namun, belum cukup bukti untuk menyebut satu kelompok sebagai pemenang terbesar. Tantangan berikutnya ialah memastikan akses dan hasil tidak terkonsentrasi pada sebagian peserta saja, serta menjaga kemitraan informasi dan promosi ke depan. Jika peluang dari keramaian balap berubah menjadi pelanggan, pekerjaan, dan pesanan yang berulang, barulah transaksi MotoGP menjadi fondasi yang lebih kokoh bagi ekonomi lokal.






