Angka transaksi perlu dibaca bersama siapa yang memperoleh manfaat
UMKM MotoGP Mandalika adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang ikut menawarkan barang atau jasa kepada pengunjung selama gelaran balap internasional di Mandalika. Pada penyelenggaraan 2026, 769 pelaku usaha terlibat dan perkiraan transaksi mereka mencapai Rp 2,9 miliar. Angka ini menunjukkan peluang pasar yang nyata, tetapi besarnya transaksi saja belum membuktikan bahwa manfaatnya terbagi merata. Nilai pentingnya terletak pada seberapa banyak usaha setempat mampu memperoleh pelanggan, bukan hanya pada ramainya acara. Karena itu, capaian tersebut layak dirayakan sekaligus diuji: apakah pelaku usaha lokal memiliki akses yang cukup untuk ikut berjualan dan kemampuan untuk memenuhi permintaan? Tanpa perhatian pada pertanyaan itu, angka agregat berisiko menutupi perbedaan antara usaha yang mendapat peluang dan mereka yang tertinggal.
Transaksi UMKM Mandalika sebesar Rp 2,9 miliar selama acara merupakan estimasi dalam kajian bersama Lembaga Teknik dan Manajemen Industri Institut Teknologi Bandung dan InJourney Tourism Development Corporation. Ini memberi dasar yang lebih kuat daripada klaim promosi tanpa metodologi yang disebutkan, meski angka transaksi tetap tidak menjelaskan pendapatan bersih tiap pedagang. Bagi pembaca, pembedaan itu penting: perputaran uang adalah tanda aktivitas ekonomi, bukan bukti otomatis bahwa seluruh peserta memperoleh hasil setara.

Dampak ekonomi lebih luas, tetapi pemerataan tetap ukuran utama
Dampak ekonomi MotoGP yang dilaporkan untuk gelaran 2026 mencapai Rp 5,2 triliun secara nasional, naik sekitar 4,8 persen dari Rp 4,96 triliun pada penyelenggaraan tahun sebelumnya. Perhitungan dampak tersebut merujuk pada kajian bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung, dengan dukungan data Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia. Dalam tiga hari balapan, acara menarik 157.875 pengunjung. Skala ini menjelaskan mengapa perputaran ekonomi tidak berhenti pada gerbang sirkuit: pengunjung juga berpotensi membelanjakan uang di sektor makanan, transportasi, penginapan, dan usaha kecil. Namun, total nasional tidak seharusnya menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan Mandalika. Bagi masyarakat sekitar, yang lebih menentukan ialah apakah belanja pengunjung benar-benar mengalir kepada penyedia lokal dan menciptakan peluang kerja yang layak.
Sebanyak 3.500 tenaga kerja terlibat dalam penyelenggaraan, dengan 72 persen berasal dari NTB. Proporsi lokal ini memberi alasan kuat untuk melihat MotoGP sebagai peluang kerja sekaligus acara olahraga. Namun, keberlanjutan manfaat tidak cukup dijamin oleh tingginya jumlah penonton atau nilai dampak ekonomi. Kesempatan bagi pekerja dan pelaku usaha setempat perlu menjadi bagian dari cara keberhasilan dinilai, agar pertumbuhan kawasan tidak hanya tampak besar dalam laporan, tetapi juga terasa dalam kehidupan warga.
Pemberdayaan perempuan harus menjadi bagian dari pembangunan Mandalika
Inisiatif Maya Watono memberi dimensi penting pada pembahasan manfaat ekonomi: perempuan lokal Mandalika perlu memiliki bekal dan ruang untuk ikut tumbuh, bukan sekadar menjadi penonton pembangunan. Ia menyampaikan bahwa InJourney mendorong pengembangan UMKM melalui pelatihan, peningkatan keterampilan, serta penguatan mutu produk dan kerajinan. Langkah seperti ini lebih bermakna daripada akses sesaat ke lapak selama balapan, sebab keterampilan dapat membantu perempuan berpartisipasi di sektor pariwisata maupun mengembangkan usaha sendiri. Dengan demikian, pemberdayaan bukan tambahan seremonial pada agenda sport tourism, melainkan ukuran apakah pertumbuhan ekonomi membuka kesempatan yang lebih luas bagi warga.
Menurut Maya, pelatihan dan peningkatan keterampilan dapat memperbesar peluang perempuan untuk bekerja di pariwisata atau menjalankan usaha mereka sendiri. Arah tersebut patut didukung, tetapi hasilnya sebaiknya dinilai dari keterlibatan nyata dan kemampuan usaha lokal bertahan di luar masa acara. Jika perempuan memperoleh akses pada pelatihan yang relevan serta kesempatan menjual produk berkualitas, manfaat MotoGP berpotensi melampaui beberapa hari balapan. Kesimpulannya, Rp 2,9 miliar adalah capaian berarti bagi UMKM MotoGP Mandalika, tetapi keberhasilan yang lebih utuh ditentukan oleh pemerataan peluang—terutama bagi perempuan dan pelaku usaha lokal.






