Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ratusan Ribu Papan Interaktif Tiba, Guru Menentukan Manfaatnya

Ratusan Ribu Papan Interaktif Tiba, Guru Menentukan Manfaatnya
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Perangkat baru bukan jaminan perubahan

Papan interaktif digital adalah perangkat layar sentuh untuk menyajikan materi pelajaran secara visual dan melibatkan murid dalam kegiatan kelas, bukan sekadar menggantikan papan tulis biasa. Lebih dari 300 ribu perangkat Interactive Flat Panel (IFP) telah didistribusikan ke sekolah-sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Skala ini menandai langkah besar dalam menyediakan perangkat digital sekolah, tetapi jumlah unit yang terkirim bukan ukuran keberhasilan belajar. Perangkat hanya bernilai ketika membantu murid memahami materi, bertanya, mencoba, dan berdiskusi. Tanpa rancangan pengajaran yang tepat, layar interaktif berisiko menjadi fasilitas mahal perhatian yang dipakai sebatas menampilkan presentasi. Karena itu, distribusi harus dibaca sebagai awal pekerjaan, bukan garis akhir: pemerintah dan sekolah perlu memastikan guru mampu mengubah fitur teknologi menjadi pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Ratusan Ribu Papan Interaktif Tiba, Guru Menentukan Manfaatnya

Pelatihan guru harus menyertai distribusi

Kesiapan guru menjadi penentu apakah perangkat benar-benar mengubah pembelajaran atau hanya memperbarui tampilan kelas. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan capaian distribusi tersebut dalam pemaparan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta pada 27 Oktober 2026; kementerian juga menyebut lebih dari 59 ribu satuan pendidikan telah direvitalisasi sepanjang 2025–2026. Pemerintah telah membuka Pelatihan Mandiri Pemanfaatan Papan Interaktif Digital melalui Ruang GTK sejak Februari 2026. Materinya mencakup pengenalan fitur, strategi pembelajaran interaktif, dan praktik penerapan di kelas, serta dapat diakses mandiri melalui akun belajar.id. Ini langkah yang tepat, tetapi pelatihan tidak boleh berhenti pada penjelasan tombol. Guru perlu dukungan untuk memilih metode sesuai tujuan pelajaran dan kebutuhan murid. Ukuran keberhasilannya bukan kecakapan mengoperasikan layar, melainkan apakah murid lebih terlibat dan memahami materi.

Contoh penerapan dimulai di ruang kelas

Gambaran penerapan di tingkat sekolah terlihat di SMA Negeri 5 Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Sekolah itu menerima bantuan Papan Interaktif Digital pada Rabu, 28 Oktober 2026, melalui Program Digitalisasi Pembelajaran pemerintah pusat. Pihak sekolah berharap perangkat mendukung penyampaian materi dengan tampilan visual yang lebih menarik dan mendorong murid belajar lebih aktif, kreatif, serta menyenangkan. Harapan itu masuk akal, tetapi penerimaan perangkat baru belum membuktikan dampak pada hasil belajar. Sekolah perlu memasukkan penggunaannya ke dalam kegiatan belajar secara terencana dan berkelanjutan, bukan mengandalkannya sebagai sesuatu yang baru. Contoh Muara Teweh memperlihatkan bahwa program nasional akhirnya diuji di tingkat satuan pendidikan: pada jadwal pelajaran, dalam interaksi guru-murid, dan melalui kesesuaian teknologi dengan kebutuhan kelas.

Infrastruktur pendukung menentukan pemerataan

Papan digital juga tidak bekerja sendiri. Dampaknya bergantung pada materi yang sesuai, kesempatan bagi guru untuk berlatih, serta dukungan dasar seperti listrik dan internet. Sepanjang program 2025–2026, kementerian mencatat upaya menyediakan akses listrik bagi 2.389 sekolah dan akses internet bagi 8.152 sekolah. Angka ini mengingatkan bahwa distribusi perangkat perlu berjalan seiring dengan pemerataan kondisi yang memungkinkan perangkat digunakan. Pelatihan guru pun perlu menjangkau sekolah dengan tingkat kesiapan berbeda, agar manfaatnya tidak terkonsentrasi di ruang kelas yang sudah memiliki konektivitas dan dukungan memadai. Rencana penguatan kompetensi lain juga mencakup gelombang kedua program Rekognisi Pembelajaran Lampau bagi lebih dari 50 ribu guru, dengan dukungan beasiswa Rp3 juta per guru. Investasi pada manusia dan infrastruktur pendukung harus berjalan bersama pengadaan.

Keberhasilan diukur dari pembelajaran

Distribusi lebih dari 300 ribu papan interaktif merupakan capaian infrastruktur yang besar, tetapi angka itu baru menjawab berapa perangkat tersedia—bukan seberapa baik pembelajaran berubah. Pemerintah dan sekolah semestinya menilai penggunaan perangkat dari keterlibatan murid, pemahaman materi, serta kemampuan guru mengintegrasikan teknologi dengan tujuan pelajaran. Pelatihan guru harus menjadi bagian inti program, disertai waktu untuk mencoba metode, berbagi praktik, dan memperbaiki penerapan berdasarkan kebutuhan kelas. Sekolah seperti SMA Negeri 5 Muara Teweh menunjukkan bahwa program nasional telah sampai ke satuan pendidikan; langkah berikutnya ialah memastikan perangkat digunakan secara konsisten dan tepat guna. Pada akhirnya, papan interaktif digital bukan tujuan pendidikan. Nilainya baru terasa saat teknologi membantu guru mengajar lebih efektif dan memberi murid ruang lebih besar untuk berpikir, berpartisipasi, dan belajar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!