Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Papan Interaktif Digital Perlu Diikuti Kesiapan Guru

Papan Interaktif Digital Perlu Diikuti Kesiapan Guru
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Perangkat tersedia, hasil belajar belum otomatis meningkat

Papan interaktif digital adalah layar sentuh untuk menampilkan dan mengolah materi pembelajaran secara visual, multimedia, serta interaktif di ruang kelas. Lebih dari 300 ribu perangkat Interactive Flat Panel (IFP) telah didistribusikan ke sekolah-sekolah, sementara lebih dari 59 ribu satuan pendidikan direvitalisasi sepanjang 2025–2026. Skala pengadaan ini menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi pembelajaran sedang diperluas. Namun, jumlah perangkat bukan ukuran keberhasilan pendidikan: layar yang canggih pun tidak banyak berarti jika hanya dipakai sebagai pengganti papan tulis. Dampaknya bergantung pada pilihan guru tentang kapan teknologi membantu murid memahami materi, berdiskusi, dan berlatih. Karena itu, distribusi besar-besaran perlu dinilai bersama kesiapan pengajar dan kondisi kelas. Tanpa dukungan tersebut, perangkat pembelajaran sekolah berisiko menjadi fasilitas mahal yang jarang digunakan secara maksimal.

Papan Interaktif Digital Perlu Diikuti Kesiapan Guru

Pelatihan menentukan apakah teknologi mengubah cara belajar

Papan interaktif baru memberi nilai ketika guru mampu menghubungkan fitur layar dengan tujuan pembelajaran. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan Pelatihan Mandiri Pemanfaatan Papan Interaktif Digital melalui Ruang GTK pada Februari 2026. Materinya meliputi pengenalan fitur, strategi pembelajaran interaktif, dan praktik penerapan di kelas; guru dapat mengaksesnya secara mandiri melalui akun belajar.id. Ini langkah penting, tetapi pelatihan daring tidak semestinya dianggap sebagai garis akhir. Sekolah perlu memberi ruang bagi guru untuk mencoba, berbagi rancangan pelajaran, dan mengevaluasi apakah murid benar-benar lebih terlibat. Program penguatan kompetensi lain juga mencakup pembelajaran mendalam, bimbingan dan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, STEM, serta bahasa Inggris. Gelombang kedua Rekognisi Pembelajaran Lampau disiapkan untuk lebih dari 50 ribu guru, dengan beasiswa Rp3 juta per guru.

Contoh pemanfaatan tampak di Buntok dan Palangka Raya

Di SMA Negeri 4 Buntok, Kabupaten Barito Selatan, sekolah menerima dua unit papan interaktif digital Hisense berukuran 75 inci pada 2026. Layar interaktif dapat membantu guru menyajikan materi dengan lebih menarik dan memberi murid kesempatan berpartisipasi aktif. Sementara itu, SMA Negeri 10 Palangka Raya menerima tiga unit melalui Program Digitalisasi Pembelajaran 2026. Kepala sekolah Rolly Adinovi menyebut PID dapat mendukung penyampaian materi yang lebih variatif melalui visual, multimedia, dan fitur interaktif. Kedua contoh ini memperlihatkan potensi perangkat, bukan bukti bahwa hasil belajar otomatis membaik. Ukuran keberhasilan seharusnya terlihat dari perubahan praktik mengajar dan keterlibatan murid, bukan jumlah layar yang terpasang. Komitmen sekolah untuk menjaga dan memanfaatkan bantuan secara optimal juga penting agar fasilitas tersebut berguna dalam jangka panjang.

Papan Interaktif Digital Perlu Diikuti Kesiapan Guru

Biaya internet bisa membatasi pemakaian

Kesiapan guru bukan satu-satunya hambatan: akses internet dan biaya kuota juga menentukan apakah fitur digital dapat digunakan rutin. Seorang guru SDN Rongtengah 5 menjelaskan bahwa PID bisa dioperasikan lewat internet atau kabel HDMI, dan ia memilih menghubungkan perangkat ke laptop karena kuota masih ditanggung guru. Untuk menampilkan video, ia kadang mengunduh materi terlebih dahulu. Cara ini menjaga pelajaran tetap berjalan, tetapi memindahkan biaya dan persiapan kepada pengajar. Pemerintah dan pengelola pendidikan perlu memastikan dukungan konektivitas menyertai perangkat, bukan menganggap beban tersebut sebagai urusan pribadi guru. Jika tidak, fitur daring berisiko hanya tersedia bagi sekolah atau pengajar yang mampu menanggungnya. Teknologi pembelajaran yang merata harus mencakup perangkat, pelatihan, bahan ajar, dan akses internet yang dapat digunakan tanpa biaya pribadi menjadi penghalang.

Keberhasilan digitalisasi diukur dari penggunaan bermakna

Lebih dari 300 ribu perangkat merupakan modal besar, tetapi pengadaan tidak boleh disamakan dengan peningkatan mutu. Prioritas berikutnya harus berupa pelatihan guru digital yang praktis, pendampingan di sekolah, serta solusi kuota dan konektivitas yang tidak membebani pengajar. Sekolah pun perlu menilai penggunaan papan interaktif berdasarkan mutu kegiatan belajar: apakah murid lebih aktif, materi lebih mudah dipahami, dan guru mampu memilih fitur yang sesuai. Contoh dari Buntok dan Palangka Raya menunjukkan peluang yang nyata, sementara pengalaman guru yang harus menanggung kuota memperlihatkan celah kebijakan yang perlu ditangani. Kesimpulannya, papan interaktif digital baru layak disebut investasi pendidikan ketika guru siap menggunakannya dan murid memperoleh manfaat nyata. Tanpa dua hal itu, distribusi besar hanya menambah inventaris, bukan memperkuat pembelajaran.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!