Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ribuan Siswa Dibekali Mitigasi Bencana, Sekolah Jadi Titik Awal Kesiapsiagaan

Ribuan Siswa Dibekali Mitigasi Bencana, Sekolah Jadi Titik Awal Kesiapsiagaan
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Kesiapsiagaan dimulai sebelum keadaan darurat

Mitigasi bencana sekolah adalah upaya mengenali ancaman, mengurangi risiko, dan melatih tindakan penyelamatan agar warga sekolah dapat merespons keadaan darurat dengan aman. Prinsip ini menjadi dasar Gerakan Seribu Siswa Sahabat Tangguh Bencana yang diresmikan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim pada 29 Oktober 2026 di Gedung Pusat Robotika ITS. Program itu membekali 1.000 siswa dari jenjang SD hingga SMA di Jawa Timur dengan edukasi dan keterampilan menghadapi bencana.

Skala program tersebut penting, tetapi ukurannya bukan sekadar jumlah peserta. Nilai utamanya terletak pada usaha menjadikan kesiapsiagaan siswa sebagai kemampuan praktis, bukan pengetahuan yang berhenti di kelas. Ketika bencana terjadi, orang di lokasi sering harus mengambil tindakan awal sebelum bantuan tiba. Karena itu, pelatihan yang mengajarkan pengenalan bahaya dan penyelamatan diri layak dipandang sebagai bagian dari pendidikan dasar, bukan kegiatan tambahan.

Ribuan Siswa Dibekali Mitigasi Bencana, Sekolah Jadi Titik Awal Kesiapsiagaan

Latihan harus sesuai usia dan situasi

Pelatihan ITS menyusun praktik sesuai jenjang peserta. Siswa SD berlatih memadamkan api bersama petugas pemadam kebakaran, sedangkan pelajar SMP dan SMA mendapat materi keselamatan diri, pertolongan pertama, serta prosedur evakuasi. Simulasi realitas virtual dan gerai edukasi kebencanaan juga digunakan agar materi lebih mudah dipahami. Pendekatan ini lebih masuk akal daripada menyampaikan satu paket teori yang sama kepada semua usia: anak membutuhkan latihan sederhana dan berulang, sementara remaja dapat dibekali peran lebih luas dalam respons awal.

Latar ancamannya nyata. Jawa Timur menghadapi beragam potensi bencana, sehingga generasi muda perlu memiliki keterampilan dasar saat keadaan darurat. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono menyatakan, “Ketika kesiapsiagaan mitigasinya kuat, 70 persen risiko dapat berkurang saat tanggap darurat.” Klaim itu menegaskan alasan latihan perlu dilakukan sebelum krisis, bukan ketika sekolah sudah berada dalam situasi genting. Pelatihan tanggap bencana yang praktis dapat membantu siswa mengenali langkah awal dan mengurangi kepanikan.

Ribuan Siswa Dibekali Mitigasi Bencana, Sekolah Jadi Titik Awal Kesiapsiagaan

Pelatihan Muhammadiyah memperkuat kesiapan warga sekolah

Pada 31 Oktober 2026, Lazismu Sidoarjo menggelar pelatihan mitigasi kekeringan dan kesiapsiagaan kebakaran di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Kegiatan itu diikuti 50 peserta dari unsur amal usaha pendidikan dan organisasi otonom Muhammadiyah. Materinya mencakup pencegahan kebakaran, pengenalan alat pemadam api ringan, penanganan awal, evakuasi, komunikasi darurat, dan koordinasi respons. Perhatian pada kebakaran dan kekeringan juga relevan karena cuaca panas serta lingkungan kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.

Cakupan kedua program berbeda. ITS menjangkau 1.000 siswa lintas jenjang di wilayah Gerbangkertosusilo, sementara pelatihan Lazismu melibatkan 50 peserta dari unsur pendidikan dan organisasi Muhammadiyah. Jadi, program ITS lebih luas dari sisi jumlah dan rentang usia; pelatihan Lazismu lebih terarah pada kesiapan komunitas sekolah Muhammadiyah dan jejaring pendukungnya. Keduanya menunjukkan bahwa mitigasi bencana sekolah tidak cukup dibebankan kepada satu petugas. Guru, siswa, dan unsur sekolah lainnya perlu memahami bahaya serta tindakan awal yang aman.

Ribuan Siswa Dibekali Mitigasi Bencana, Sekolah Jadi Titik Awal Kesiapsiagaan

Sekolah perlu menjadikan latihan sebagai budaya

Edukasi kebencanaan akan lebih berdampak jika siswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga membawa pengetahuan ke rumah dan lingkungan sekitar. ITS berharap para pelajar dapat menjadi duta kebencanaan di sekolah, keluarga, dan tempat tinggal masing-masing. Harapan itu masuk akal: kebiasaan mengenali jalur evakuasi, memahami prosedur, dan menolong diri sendiri dapat menyebar melalui percakapan sehari-hari, bukan hanya lewat materi pelatihan.

Namun, satu kegiatan tidak otomatis membentuk budaya siaga. Sekolah perlu memastikan keterampilan yang diperoleh dapat dipahami dan diterapkan oleh seluruh warga sekolah, termasuk melalui latihan yang sesuai dengan ancaman setempat. Program ITS memberi contoh pendidikan lintas usia dengan jangkauan besar; pelatihan Lazismu menunjukkan pentingnya melibatkan unsur pendidikan dan organisasi pendukung. Keduanya mengingatkan bahwa kesiapan tidak lahir dari imbauan semata.

Kesimpulannya, sekolah harus menjadi titik awal kesiapsiagaan, bukan sekadar tempat menyampaikan teori tentang bencana. Dengan latihan praktis, pembagian peran yang jelas, dan keterlibatan warga sekolah, pelajar dapat tumbuh lebih siap merespons keadaan darurat. Perbedaan cakupan program ITS dan Lazismu justru memperlihatkan bahwa pendidikan kebencanaan dapat menjangkau banyak siswa sekaligus memperkuat kesiapan komunitas sekolah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!