Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mendikdasmen Perkuat Jurnalistik dan Literasi Media di Sekolah

Mendikdasmen Perkuat Jurnalistik dan Literasi Media di Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Jurnalistik Masuk Sekolah: Gerbang Karir dan Nalar Kritis

Pendidikan jurnalistik sekolah adalah upaya sistematis menghadirkan kegiatan peliputan, penulisan berita, dan literasi media ke dalam proses belajar siswa untuk mengasah keterampilan komunikasi, berpikir kritis, dan pemahaman etika informasi sejak dini, sekaligus membuka kemungkinan profesi baru di masa depan. Di sinilah letak keberanian kebijakan Mendikdasmen Abdul Mu’ti: menempatkan jurnalistik bukan sekadar hobi ekstrakurikuler, melainkan jalur pembelajaran strategis untuk menyiapkan generasi yang melek media dan siap kerja. Dalam kunjungannya ke kantor organisasi wartawan pada 7 Oktober 2026, ia menegaskan perlunya memperluas pilihan profesi bagi generasi muda lewat penguatan pendidikan jurnalistik dan literasi media di sekolah. Jika sekolah selama ini lebih banyak mendorong profesi konvensional, gagasan ini adalah sinyal perubahan arah yang patut disambut serius.

Mendikdasmen Perkuat Jurnalistik dan Literasi Media di Sekolah

Mengapa Literasi Media Siswa Tak Bisa Lagi Dianggap Tambahan

Literasi media siswa bukan pelengkap kurikulum; ia menjadi pertahanan pertama terhadap disinformasi dan arus informasi yang liar. Organisasi wartawan berkomitmen menghidupkan kembali pelatihan literasi media dan jurnalistik bagi siswa untuk membekali generasi muda bijak menyaring informasi serta membentengi diri dari maraknya disinformasi. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa jurnalistik memiliki peran penting dalam memberikan informasi sekaligus mencerahkan dan mendidik masyarakat. Artinya, ketika siswa memahami cara kerja berita, verifikasi fakta, dan etika publikasi, mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga warga yang aktif dan kritis. Di tengah media sosial yang penuh opini tanpa dasar, sekolah tak lagi bisa puas hanya mengajarkan mata pelajaran inti; tanpa literasi media, murid akan kalah cepat dari hoaks sebelum sempat menguji kebenaran.

Program Jurnalistik Sekolah sebagai Laboratorium Keterampilan Komunikasi

Gagasan program jurnalistik sekolah yang masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler adalah langkah praktis yang tepat. Abdul Mu’ti menyebutkan, jika jurnalistik bisa menjadi kegiatan ekstrakurikuler, itu menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal dunia jurnalistik sekaligus mengasah kemampuan menulis. Kegiatan ini melatih kemampuan menulis dan menyusun gagasan secara terstruktur, serta mendorong siswa berpikir kritis saat menghadapi berbagai informasi. Pengalaman pribadi sang menteri yang terbiasa menulis dan aktif di pers kampus terbukti membantu melatih berpikir kritis serta menyusun gagasan secara terstruktur. Di sinilah pendidikan jurnalistik sekolah bekerja sebagai laboratorium nyata: siswa belajar wawancara, pengumpulan data, penyuntingan, hingga etika publikasi. Hasilnya bukan hanya artikel, tetapi keterampilan komunikasi siswa yang lebih tajam, terukur, dan berani berargumen dengan data.

Membuka Jalan Profesi: Dari Ruang Kelas ke Ruang Redaksi

Kebijakan ini bukan sekadar soal hobi menulis; ini tentang pilihan hidup. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa jurnalistik dapat membuka pilihan profesi yang lebih luas bagi generasi muda dan bahwa pilihan profesi harus diberikan sebanyak mungkin kepada anak-anak. Selama ini, profesi wartawan sering kali baru dikenal serius di bangku kuliah. Dengan pendidikan jurnalistik sejak sekolah, siswa lebih dini memahami bahwa kerja jurnalistik bukan sekadar “melaporkan berita”, tetapi profesi yang menuntut standar profesionalisme tinggi. Ketua organisasi wartawan menyebut bahwa jumlah anggota mereka sekitar 40 ribu orang dan sekitar 20 ribu sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan sebagai bagian pendidikan agar wartawan memiliki standar kompetensi. Kutipan angka ini menunjukkan bahwa pasar kerja jurnalistik menuntut kualitas, dan sekolah perlu menyiapkan siswa yang siap masuk ekosistem tersebut, atau minimal memahami standar etikanya.

Sinergi Kemendikdasmen dan PWI: Peluang Besar, Tantangan Nyata

Kekuatan utama kebijakan ini terletak pada kerja sama antara Kemendikdasmen dan organisasi wartawan. Keberadaan organisasi tersebut dinilai krusial menjaga kualitas, integritas, dan profesionalisme pers. Ketua umumnya mendorong penguatan sinergi dengan Kemendikdasmen, khususnya dalam meningkatkan literasi dan pendidikan, termasuk program literasi dan menulis untuk guru yang diharapkan menjangkau berbagai daerah. Jika dirancang matang, sinergi ini bisa menghasilkan modul pendidikan jurnalistik sekolah yang realistis: bukan menyalin kerja redaksi profesional, tapi menyesuaikan dengan konteks siswa dan guru. Namun tantangannya jelas: kesiapan guru, kesenjangan fasilitas, hingga risiko program menjadi formalitas tanpa output nyata. Kesimpulannya, langkah Mendikdasmen memperkuat program jurnalistik dan literasi media di sekolah adalah arah kebijakan yang tepat; keberhasilannya akan ditentukan oleh seberapa konsisten sinergi dengan komunitas wartawan diterjemahkan menjadi praktik di ruang kelas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!