Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sekolah Wajib Serius Menggarap Program Jurnalistik untuk Literasi Media Siswa

Sekolah Wajib Serius Menggarap Program Jurnalistik untuk Literasi Media Siswa
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Jurnalistik di Sekolah: Bukan Tambahan, Tapi Kebutuhan

Program jurnalistik sekolah adalah rangkaian kegiatan terstruktur, mulai dari ekstrakurikuler jurnalistik hingga pelatihan intensif, yang dirancang agar siswa terbiasa memilah informasi, menulis berita sekolah, dan memahami cara kerja media sejak usia dini sebagai bagian dari literasi media siswa yang kuat dan kemampuan berpikir kritis yang terlatih.

Jika dulu jurnalistik dianggap urusan mahasiswa komunikasi, kini sekolah dasar dan menengah mulai membuktikan sebaliknya. Di Bangkalan, dinas pendidikan mengapresiasi program ekstrakurikuler jurnalistik di SDIT Nurul Rahmah Kemayoran yang bermitra dengan praktisi media. Sikap ini menunjukkan perubahan penting: literasi media siswa bukan lagi pelengkap, tetapi dianggap kompetensi dasar di era digital. Ketika anak-anak dibanjiri layar dan notifikasi, kemampuan memilah informasi menjadi selevel penting dengan membaca dan berhitung. Mengajarkan mereka menulis berita sekolah dan memahami proses produksi informasi adalah cara paling nyata untuk memutus rantai konsumsi konten tanpa berpikir. Sekolah yang masih menganggap jurnalistik sekadar hobi sebenarnya menunda pembekalan keterampilan hidup yang relevan dengan zaman.

Peran Dinas Pendidikan: Dari Apresiasi ke Tanggung Jawab

Dinas pendidikan yang mendukung program jurnalistik sekolah sebenarnya sedang mengakui bahwa kurikulum formal belum cukup menangani banjir informasi digital. Dukungan terhadap ekstrakurikuler jurnalistik menjadi pintu masuk untuk membangun literasi media siswa secara sistematis dan dekat dengan keseharian mereka.

Di Bangkalan, dinas pendidikan memberi apresiasi atas grand launching ekstrakurikuler jurnalistik di tingkat sekolah dasar dan menekankan pentingnya memiliki kemampuan literasi yang mumpuni agar siswa mampu menyaring dan membedakan informasi dan berita. Di Pamekasan, pejabat bidang pembinaan sekolah menengah menyambut baik pelatihan jurnalistik di SMP sebagai sarana membangun budaya literasi dan berpikir kritis. Pernyataan ini bukan basa-basi; mereka mengakui bahwa dunia digital bergerak lebih cepat daripada buku teks. Ketika pejabat pendidikan menyebut keterampilan jurnalistik dapat mengembangkan literasi sekaligus sikap kritis terhadap informasi, itu sebenarnya pengakuan bahwa sekolah wajib ikut campur dalam ekosistem informasi, bukan sekadar mengurung diri di ruang kelas. Apresiasi memang penting, tetapi langkah berikutnya harus berupa kebijakan yang menjadikan program jurnalistik sekolah sebagai norma, bukan pengecualian.

Workshop dengan Jurnalis: Laboratorium Nyata Memilah Informasi

Pelatihan jurnalistik di sekolah yang melibatkan praktisi media mengubah literasi dari slogan menjadi latihan nyata: siswa diminta memilah informasi, menggali fakta, dan menulis berita sekolah berdasarkan wawancara, bukan sekadar menyalin dari internet.

Di SMPN 2 Pamekasan, siswa mengikuti pelatihan jurnalistik dengan narasumber dari kalangan jurnalis profesional. Menurut pejabat dinas pendidikan setempat, keterampilan tersebut melatih siswa berpikir kritis, berani bertanya, dan lebih teliti dalam menerima informasi. Di SMPN 1 Pamekasan, wakil pimpinan media lokal memberi materi dasar-dasar jurnalistik, mulai teknik wawancara, menentukan poin penting, hingga menyusun hasilnya menjadi berita. Ini laboratorium kecil: siswa belajar bahwa berita tidak muncul dari opini spontan atau kiriman grup chat, melainkan dari proses terstruktur. Saat mereka diminta menggali informasi dan menyampaikannya secara bertanggung jawab, mereka sekaligus berlatih mengidentifikasi hoaks dan bias. Tanpa praktik semacam ini, literasi media mudah jatuh menjadi poster di dinding perpustakaan, bukan kebiasaan berpikir.

Dari Menulis Berita ke Cara Berpikir: Dampak Jangka Panjang

Menulis berita sekolah pada dasarnya memaksa siswa untuk berpikir runtut: apa fakta, siapa narasumber, bagaimana peristiwa terjadi, dan apa maknanya bagi pembaca. Pola pikir terstruktur ini adalah inti dari kemampuan analitis.

Di SMPN 1 Pamekasan, siswa tidak berhenti di materi, tetapi digembleng praktik wawancara lalu menyusun hasilnya menjadi berita. Pihak sekolah menegaskan bahwa teori saja tidak cukup; siswa perlu mengalami sendiri bagaimana mencari informasi, bertanya, lalu mengolahnya menjadi tulisan. Di SMPN 2 Pamekasan, pelatihan jurnalistik diharapkan membuat siswa terus berlatih menggali informasi dan menyampaikan gagasan dengan baik. Ketika anak belajar bahwa setiap kalimat dalam berita harus bertumpu pada fakta yang bisa dicek, mereka sedang membangun kebiasaan mental untuk curiga terhadap klaim yang tak jelas sumbernya. Literasi jurnalistik di titik ini berubah dari kemampuan teknis menjadi cara berpikir: terbiasa memverifikasi, menganalisis, dan meragukan informasi yang tampak heboh namun miskin data. Itulah jarak antara konsumen konten dan warga yang kritis.

Menghadapi Hoaks: Tugas Sekolah yang Tak Bisa Ditunda

Hoaks tidak menunggu anak dewasa; ia menyapa lewat gawai yang sama dengan game dan tugas sekolah. Karena itu, mengajarkan literasi media siswa, termasuk cara memilah informasi dan mengenali berita menyesatkan, wajib dimulai dari bangku SD dan SMP.

Pejabat dinas pendidikan di Pamekasan mengingatkan bahwa anak-anak sangat dekat dengan informasi dan harus dibekali kemampuan memilah fakta dan informasi yang belum tentu benar. Pesan senada muncul di Bangkalan: perkembangan dunia digital yang cepat menuntut kemampuan literasi agar siswa bisa menyaring dan membedakan mana informasi dan berita. Ekstrakurikuler jurnalistik yang memandu siswa membaca situasi, menggali informasi, dan menyampaikannya secara bertanggung jawab adalah salah satu tameng paling realistis terhadap hoaks. Tanpa pembiasaan ini, nasihat "jangan percaya hoaks" akan kalah oleh judul heboh dan pesan berantai. Sekolah yang menunda program jurnalistik sekolah pada dasarnya membiarkan siswanya belajar tentang dunia dari algoritma, bukan dari proses kritis. Kesimpulannya sederhana: di era banjir informasi, sekolah yang tidak mengajarkan jurnalistik sedang absen dari tugas utamanya, yaitu mendidik cara berpikir.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!