Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelatihan Jurnalistik Sekolah: Tameng Literasi Media di Era Digital

Pelatihan Jurnalistik Sekolah: Tameng Literasi Media di Era Digital
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pelatihan jurnalistik sekolah: dari definisi ke kebutuhan mendesak

Pelatihan jurnalistik sekolah adalah rangkaian kegiatan terstruktur di lingkungan pendidikan yang mengajarkan siswa membaca, menyaring, dan memproduksi informasi secara kritis melalui praktik menulis, wawancara, dan pemahaman etika media di berbagai platform digital maupun cetak. Dalam lanskap informasi yang dipenuhi konten tanpa saringan, pelatihan seperti ini bukan lagi pelengkap, tetapi kebutuhan mendesak. Hoaks dan misinformasi menyasar kelompok usia muda yang aktif mengonsumsi media sosial, sementara kurikulum formal sering belum cukup mengajari cara memeriksa kebenaran informasi. Karena itu, ketika banyak sekolah mulai membangun pelatihan jurnalistik sekolah sebagai program ekskul jurnalistik yang rutin, mereka sesungguhnya sedang memasang tameng literasi media digital sekaligus bengkel keterampilan komunikasi untuk generasi berikutnya.

Ekskul jurnalistik: dari kunjungan redaksi hingga peluncuran klub baru

Gelombang program ekskul jurnalistik terlihat jelas di berbagai jenjang sekolah. Di satu sekolah dasar Islam terpadu, puluhan siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik mendatangi gedung media cetak dan studio televisi untuk mendalami dunia jurnalistik serta literasi media secara langsung pada Jumat (18/9). Sebanyak 25 siswa mengikuti rangkaian kegiatan ini dengan bimbingan lima guru, menyaksikan proses produksi berita cetak hingga siaran televisi, sekaligus mempraktikkan teknik wawancara singkat di dapur redaksi. Langkah serupa muncul di sebuah madrasah tsanawiyah negeri yang menjadikan Workshop Jurnalistik sebagai momentum peluncuran ekskul jurnalistik baru, wadah bagi siswa menyalurkan hobi dan menghasilkan karya. Pola ini menunjukkan satu pesan: sekolah mulai mengakui bahwa ruang belajar menulis berita siswa tidak boleh berhenti di tugas Bahasa Indonesia, tetapi perlu diformat sebagai komunitas belajar berkelanjutan.

Isi pelatihan: bukan sekadar 5W+1H, tetapi literasi media digital yang kritis

Konten pelatihan jurnalistik sekolah yang baru muncul tidak lagi berhenti di rumus 5W+1H. Di sebuah pelatihan dua hari di madrasah tsanawiyah, hari pertama sepenuhnya digunakan untuk materi literasi digital, jejak digital, cyberbullying, etika bermedia sosial, serta prinsip “Saring Sebelum Sharing”. Siswa bahkan diperkenalkan pada literasi Artificial Intelligence (AI) dan pembuatan konten, agar mereka lebih bijak menggunakan teknologi dan mampu menghasilkan konten positif serta bermanfaat. Pada hari kedua, barulah mereka menyelami teknik peliputan, wawancara, hingga cara menulis berita, lengkap dengan unsur 5W+1H, struktur berita, akurasi informasi, dan prinsip keberimbangan dalam pemberitaan. Ini menandai pergeseran penting: pelatihan jurnalistik tidak dimaknai sebagai kelas menulis, tetapi sebagai paket literasi media digital plus keterampilan produksi konten yang mengajarkan berpikir kritis terhadap arus informasi.

Pelatihan Jurnalistik Sekolah: Tameng Literasi Media di Era Digital

Belajar etika dan sikap: modal melawan misinformasi di ruang nyata

Dimensi lain yang sering diabaikan dalam literasi media adalah etika dan sikap. Dalam salah satu workshop di madrasah tsanawiyah negeri, siswa tidak hanya memelajari konsep dasar jurnalistik, tetapi juga menggali unsur 5W+1H sebagai dasar menyusun berita sambil diajak memahami pentingnya etika saat berhadapan dengan narasumber. Narasumber dari kalangan jurnalis menekankan bahwa ketika mewawancarai narasumber berpangkat lebih rendah, jurnalis tidak boleh merasa tinggi, dan sebaliknya tidak boleh merasa rendah ketika berhadapan dengan pihak berpangkat lebih tinggi. Sikap setara ini relevan di luar dunia wawancara: siswa belajar bahwa setiap sumber informasi harus dihargai, tetapi juga diperiksa. Sementara itu, sekolah dasar yang menanamkan kebiasaan membaca dan menulis 30 menit setiap hari melalui buku khusus jurnalistik melatih siswa menuangkan pikiran, merangkum bacaan, dan menyampaikan opini secara runtut. Ini adalah latihan harian untuk membangun kebiasaan memeriksa, bukan sekadar membagikan informasi.

Jurnalistik sebagai jalur komunikasi strategis bagi sekolah dan siswa

Pelatihan jurnalistik sekolah juga lahir dari kebutuhan strategis lembaga pendidikan. Kepala sebuah madrasah tsanawiyah negeri menegaskan bahwa publikasi kini menjadi bagian tak terpisahkan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, dan publikasi diolah melalui kegiatan jurnalistik. Ada pula pesan resmi yang mendorong penguatan publikasi capaian dan kinerja madrasah melalui berita, sehingga pelatihan ini menjadi momentum implementasi kebijakan tersebut. Namun jika berhenti pada kepentingan institusi, program semacam ini akan kering. Yang patut diapresiasi: di lapangan, ekskul jurnalistik dibangun sebagai jalur pengembangan kompetensi komunikasi siswa di luar jam pelajaran. Keterampilan dasar menulis dan membaca yang telah ditanamkan terstruktur di kelas kemudian diwadahi lebih intensif melalui ekskul jurnalistik bagi siswa kelas atas. Harapannya, ilmu yang diperoleh tidak hanya mendukung kemajuan madrasah, tetapi melahirkan pelajar yang makin maju, bermutu, berprestasi, berinovasi, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!