Marathon Sustainability: Dari Lomba Lari Menjadi Gerakan Sosial-Lingkungan
Marathon sustainability adalah konsep penyelenggaraan lomba lari massal yang menggabungkan tantangan fisik dengan aksi terukur untuk dampak sosial dan lingkungan, di mana setiap peserta tidak hanya mengejar finis tetapi juga berkontribusi pada donasi, pengurangan emisi, dan edukasi publik tentang gaya hidup ramah lingkungan secara kolektif dan berkelanjutan. Penyelenggaraan Maybank Marathon 2026 in Partnership with Visa pada 23 Agustus di Bali adalah contoh paling terang dari pendekatan ini. Ajang yang diikuti ribuan peserta tersebut menunjukkan bahwa event lari keberlanjutan bukan konsep abstrak, melainkan praktik nyata yang menempatkan pelari di pusat aksi. PT Bank Maybank Indonesia Tbk menggunakan platform lomba ini untuk memperluas dampak sosial dan lingkungan melalui integrasi berbagai inisiatif sustainability yang melibatkan partisipasi aktif pelari di dalam dan di luar lintasan.

Aksi Kolektif Pelari: Donasi, Jejak Hijau, dan Netral Karbon
Yang menjadikan Maybank Marathon layak dicatat bukan sekadar rute indah di Bali, melainkan cara mereka mengorganisasi aksi kolektif pelari sebagai jantung program sustainability. Melalui Maybank Marathon Run for Charity (MMRFC), 35 pelari penggerak inspirasi bersama 6 mitra keberlanjutan berhasil menghimpun donasi Rp933.711.005, naik 29 persen dari tahun sebelumnya. Setiap kilometer yang ditempuh tidak lagi hanya soal pace, tetapi juga tentang corporate social responsibility lari yang berdampak langsung pada penerima manfaat. Pada aspek lingkungan, inisiatif Jejak Hijau Runner menjadikan pacer kelompok akhir di kategori marathon sub-6 jam 30 menit dan sub-7 jam sebagai champion aksi ramah lingkungan. Mereka memandu ritme pelari, memungut sampah di rute, sekaligus memberi teladan bahwa pelestarian lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil di lintasan. Inilah definisi praktis event lari keberlanjutan: desain lomba yang memaksa pelari bukan hanya berlari cepat, tapi juga berpikir tentang jejak yang mereka tinggalkan.

Peran Strategis Head of Sustainability dan Roadmap Jejak Hijau
Pendekatan ini bukan kerja ad-hoc, melainkan bagian dari strategi sustainability yang punya target jelas: Maybank Marathon Netral Karbon 2030. Head of Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny Fransiska, menegaskan bahwa keterlibatan pelari adalah kunci penyelenggaraan marathon yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pernyataan ini penting, karena menggeser narasi pelari dari sekadar peserta menjadi agen perubahan. Upaya tersebut bertumpu pada data, bukan retorika. Pengukuran jejak karbon penyelenggaraan 2025 mencatat emisi 4.336 tCO₂e, sebagian besar dari transportasi dan akomodasi pelari. Angka ini dijadikan baseline untuk Roadmap Jejak Hijau, yang diisi langkah konkret seperti optimalisasi armada bus shuttle, penggunaan kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah yang lebih ketat. Dengan kata lain, marathon sustainability di Bali ini memaksa brand finansial berhitung serius atas dampak lingkungan tiap gelaran, tidak sekadar menempelkan label hijau.
Partnership dengan Visa dan Ekspansi Dampak ke Komunitas Lokal
Kolaborasi dengan Visa bukan detail kecil; partnership ini mengirim sinyal bahwa komitmen sustainability di event lari massal sedang naik kelas ke level regional. Brand finansial yang selama ini identik dengan transaksi dan kartu, kini bertemu dengan komunitas pelari untuk menggerakkan aksi sosial dan lingkungan. Presiden Direktur Steffano Ridwan menyebut Maybank Marathon sebagai platform yang mempertemukan semangat berlari dengan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan, sejalan dengan misi Humanising Financial Services. Itu pernyataan yang, untuk sekali ini, tidak terasa kosong karena didukung aksi konkret di lapangan. Dampak gerakan ini merembes ke luar lintasan lomba. Bersama World Resources Institute, mereka melanjutkan program Desa Sanding Bebas Emisi dengan fokus pemetaan emisi dan pengelolaan sampah organik berbasis komunitas. Di sisi inklusivitas sosial, dukungan diberikan ke Piduh Charity Café dan Yayasan Widya Guna sebagai ruang pelatihan keterampilan bagi anak-anak serta pemuda berkebutuhan khusus. Corporate social responsibility lari di sini bukan campaign semalam, melainkan cara mengikat marathon sustainability dengan kebutuhan nyata warga sekitar.
Kesimpulan: Pelari Sebagai Wajah Baru Tanggung Jawab Sosial Finansial
Maybank Marathon di Bali menunjukkan satu hal tegas: masa depan corporate social responsibility lari tidak bisa lagi bergantung pada spanduk dan posting media sosial. Ia harus menghidupkan aksi kolektif pelari yang terukur, berjejaring, dan mengalir sampai ke komunitas lokal. Model yang dibangun melalui MMRFC, Jejak Hijau Runner, dan Roadmap Jejak Hijau menempatkan pelari sebagai aktor utama, bukan audiens pasif. Apakah model ini sempurna? Tentu belum. Target netral karbon 2030 adalah janji yang masih harus dibuktikan, dan jejak 4.336 tCO₂e jadi pengingat bahwa setiap gelaran punya harga lingkungan. Namun satu pelajaran penting sudah jelas: ketika brand finansial berani mengikat reputasinya pada marathon sustainability dan memberi ruang bagi pelari untuk memimpin, event lari keberlanjutan berubah dari slogan menjadi gerakan nyata. Di titik ini, pelari bukan lagi konsumen, melainkan partner strategis dalam perjalanan keberlanjutan.






