Suara anak muda harus berujung pada peran
Kontribusi generasi muda adalah keterlibatan aktif dalam membentuk masa depan bersama, mulai dari menyampaikan gagasan hingga mengambil bagian dalam kerja nyata di lingkungan masing-masing. Ajakan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto agar anak muda terus bersuara patut dibaca sebagai tuntutan untuk bergerak, bukan sekadar dorongan untuk berpendapat. Ia menyampaikan pesan itu saat menjadi penanggap dalam Pasar Gagasan Edisi Khusus Sumpah Pemuda di Menara Kompas, Jakarta, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Gagasan yang berhenti di ruang diskusi tak cukup untuk menjawab persoalan publik. Sebaliknya, suara yang disertai usulan terukur dapat mendorong perubahan, mengawasi kebijakan, dan membuka jalan bagi lebih banyak orang untuk ikut menentukan arah pembangunan.
Bima menekankan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tak bisa ditumpukan kepada pemerintah saja; pencapaiannya bergantung pada kontribusi dan kolaborasi berbagai elemen bangsa. Pesan ini penting karena partisipasi bukan hak istimewa segelintir tokoh atau kelompok terdidik. Pelajar, pekerja muda, komunitas, dan warga di berbagai daerah sama-sama memiliki pengalaman yang dapat memperkaya keputusan. Namun, kolaborasi juga menuntut pemerintah dan lembaga publik untuk mendengar, menjelaskan pilihan kebijakan, dan memberi ruang bagi gagasan untuk diuji. Tanpa saluran yang terbuka serta tindak lanjut yang jelas, seruan agar anak muda berperan mudah berubah menjadi slogan.

Mimpi perlu disertai strategi dan kerja bersama
Pengalaman Bima dalam program Indonesian Future Leaders di Nanyang Technological University, Singapura, sekitar 18 tahun lalu memberi contoh bahwa membayangkan masa depan harus disambung dengan rencana. Ia bersama 17 peserta lain diajak memikirkan keadaan Indonesia 20 tahun kemudian, menentukan langkah untuk mencapainya, dan memahami peran masing-masing. Pelajarannya sederhana: visi tanpa pembagian kerja hanya menjadi angan-angan. Gagasan anak muda akan lebih berguna jika disertai pemetaan masalah, tujuan yang bisa diperiksa, dan kesediaan bekerja dengan pihak lain. Anak muda dapat memulainya dari persoalan yang dekat—akses pendidikan, lingkungan, layanan publik, atau kesempatan kerja—lalu menguji usulan melalui dialog dan aksi bersama.
Kisah yang diceritakan Bima dari kunjungan ke Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat juga mengingatkan bahwa cita-cita hadir dalam bentuk yang beragam. Di Sekolah Garuda, ia bertemu siswa yang mengutarakan keinginan menjadi peneliti di London atau ahli keanekaragaman hayati. Di Sekolah Rakyat, ia menemui anak-anak yang sebelumnya putus sekolah selama lima tahun; seorang siswa ingin membanggakan orang tuanya yang mengalami kesulitan. Perbedaan itu tak semestinya dinilai sebagai ukuran tinggi-rendahnya ambisi. Justru, pembangunan perlu membuka jalan agar mimpi yang berbeda memperoleh dukungan yang sesuai. Kontribusi pemuda dapat dimulai dengan mendengar kebutuhan, bukan menganggap semua orang berangkat dari kesempatan yang sama.
Ubah ruang diskusi menjadi keterlibatan nyata
Ruang seperti Pasar Gagasan perlu terus hidup sebagai tempat menyampaikan pemikiran kritis, bertukar perspektif, dan merumuskan kontribusi nyata bagi Indonesia. Agar tidak berhenti sebagai acara, diskusi semacam ini perlu menghasilkan langkah lanjutan: catatan usulan yang dapat diakses, kelompok kerja lintas komunitas, serta jalur untuk menyampaikan masukan kepada pengambil keputusan. Bagi generasi muda, keterlibatan bisa berupa riset sederhana atas masalah setempat, forum warga, kegiatan sosial, advokasi berbasis data, atau pemantauan layanan publik. Tidak semua orang harus masuk politik formal; yang dibutuhkan ialah kesediaan ikut merawat kepentingan bersama dan bertanggung jawab atas gagasan yang diajukan.
Ukuran keberhasilan ajakan Bima bukan seberapa sering anak muda diminta berbicara, melainkan apakah suara mereka memengaruhi tindakan dan apakah mereka memperoleh kesempatan untuk ikut menjalankannya. Anak muda pun perlu bergerak melampaui kritik: menyampaikan bukti, mendengarkan kelompok lain, bekerja sama, lalu menilai hasilnya. Pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan sektor lain memiliki tanggung jawab membuka ruang yang aman dan menindaklanjuti usulan yang layak. Indonesia Emas 2045 akan lebih dari sekadar slogan bila gagasan bertemu strategi, kesempatan, dan kerja bersama. Karena itu, seruan untuk bersuara harus menjadi undangan untuk berbuat—dan komitmen untuk mendengar.






