Literasi dimulai dari akses informasi
Literasi adalah kecakapan mengakses informasi, memahami maknanya secara kritis, lalu menggunakan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari—bukan sekadar kemampuan membaca tulisan. Karena itu, upaya Pemkot Magelang memperkuat perpustakaan sekolah dan perpustakaan kelurahan patut dipandang sebagai investasi bagi kemampuan warga mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam pembangunan. Wali Kota Damar Prasetyono menyampaikan arah tersebut dalam seminar penguatan peran perpustakaan di Perpustakaan Kota Magelang pada Kamis (29/10/2026). Akses informasi yang mudah dijangkau merupakan pintu masuk yang menentukan: tanpa bahan bacaan, layanan, dan ruang belajar yang terbuka, ajakan untuk meningkatkan literasi berisiko berhenti sebagai slogan. Perpustakaan yang dekat dengan keseharian warga dan komunitas sekolah dapat mengubah ajakan itu menjadi kebiasaan belajar.

Angka menjadi bahan evaluasi, bukan tujuan akhir
Hasil pengukuran 2025 mencatat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Kota Magelang sebesar 29,40 dan Tingkat Kegemaran Membaca sebesar 58,46. Kedua angka itu menjadi tolok ukur kinerja pemerintah daerah sekaligus bahan evaluasi untuk menentukan kebijakan pengembangan literasi. Namun, capaian literasi Magelang tidak semestinya dinilai hanya dari indikator. Ukuran yang lebih dekat dengan warga ialah apakah mereka mudah menemukan bacaan yang relevan, memperoleh bantuan untuk memilah informasi, dan punya ruang untuk belajar. Damar menekankan bahwa masyarakat yang gemar membaca dan memiliki literasi baik merupakan modal dasar pembangunan daerah. Maka, angka tersebut seharusnya mendorong perbaikan layanan yang terasa sehari-hari, bukan sekadar menjadi target administratif.
Ekosistem yang menjangkau sekolah dan lingkungan warga
Penguatan perpustakaan akan lebih berarti jika layanan tidak terpusat pada satu gedung. Perpustakaan sekolah dapat menjadi bagian rutin dari pengalaman belajar siswa, sementara perpustakaan kelurahan menyediakan ruang membaca dan memperoleh pengetahuan bagi warga di lingkungan tempat tinggal. Pemkot mendorong peningkatan kualitas layanan, perluasan akses bahan bacaan, serta kegiatan literasi yang melibatkan berbagai pihak. Jangkauan ini membutuhkan kerja bersama organisasi perangkat daerah, kecamatan, kelurahan, lembaga pendidikan, dan masyarakat agar pengelolaan perpustakaan serta kebiasaan membaca tidak dibebankan kepada satu dinas saja. Jika kedua jenis perpustakaan saling melengkapi, sekolah dan lingkungan warga dapat menjadi simpul akses informasi yang lebih dekat, terbuka, dan berguna bagi beragam kebutuhan.
Seminar harus berlanjut menjadi layanan yang lebih baik
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Magelang menggelar seminar bagi pengelola perpustakaan sekolah dan kelurahan sebagai bagian dari upaya tersebut. Kegiatan itu diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan perpustakaan sekaligus mendukung kenaikan nilai IPLM dan TKM. Seminar adalah langkah awal, bukan hasil akhir. Dampaknya akan ditentukan oleh tindak lanjut: koleksi yang sesuai kebutuhan, layanan yang mudah digunakan, dan kegiatan yang mengundang warga maupun komunitas sekolah untuk kembali. Perpustakaan perlu berfungsi sebagai ruang belajar terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya tempat menyimpan buku. Dengan komitmen lintas pihak dan perhatian pada kebutuhan pengguna, penguatan perpustakaan dapat memperluas akses informasi sekaligus menumbuhkan literasi yang benar-benar hidup di Magelang.






