Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Inovasi Literasi dan Numerasi di Sekolah Menengah

Inovasi Literasi dan Numerasi di Sekolah Menengah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Seliter Jamu: Ketika Literasi dan Numerasi Menjadi Jamu Penggerak Sekolah

Inovasi literasi numerasi di sekolah menengah adalah serangkaian strategi pembelajaran yang sengaja dirancang untuk menguatkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan bernalar kritis siswa melalui program terintegrasi lintas mata pelajaran, berbasis data capaian belajar, serta didukung sistem penjaminan mutu internal yang berkelanjutan dan melibatkan seluruh warga sekolah. Di banyak SMP, inovasi ini bukan lagi pelengkap, tetapi menjadi jantung program pembelajaran sekolah menengah yang ingin keluar dari pola mengajar konvensional. Di sinilah gagasan “Seliter Jamu” yang digagas Kepala SMPN 12 Kota Sukabumi, Nurhayati, menjadi contoh penting: ia menjadikan penguatan literasi, numerasi, dan karakter sebagai satu paket strategi, bukan proyek terpisah-pisah.

Nurhayati meraih peringkat pertama Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) kategori Kepala Sekolah Transformatif berkat inovasi pembelajaran “Seliter Jamu”, akronim dari Strategi Penguatan Literasi, Numerasi, dan Karakter melalui Penjaminan Mutu. Penghargaan pendidikan guru ini bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan bahwa kepemimpinan sekolah yang berbasis data dan berani bereksperimen mampu mengubah budaya belajar. Ide Seliter Jamu lahir dari analisis Rapor Pendidikan yang menunjukkan numerasi dan karakter murid masih di kategori sedang, sementara indikator lain sudah baik. Artinya, masalah dibaca secara jernih, lalu dijawab dengan desain program, bukan dengan seruan moral semata.

Dari Carangtakol ke Seliter Jamu: Evolusi Program Pembelajaran Sekolah Menengah

Kekuatan Seliter Jamu terletak pada kesinambungan. Sebelum program ini, SMPN 12 sudah menggerakkan literasi melalui Carangtakol (Baca, Rangkum, Ceritakan pada Kelompok) dan Pinter atau Program Intensif Literasi. Artinya, inovasi literasi numerasi tidak dimulai dari nol, tetapi dari fondasi yang sudah dibangun beberapa tahun. Seliter Jamu kemudian memperluas fokus: bukan hanya membaca dan menulis, tetapi juga numerasi dan karakter, terutama nalar kritis.

Yang menarik, program pembelajaran sekolah menengah ini tidak menempatkan literasi dan numerasi sebagai urusan guru bahasa dan matematika saja. Semua guru mata pelajaran diminta mengintegrasikan literasi, numerasi, dan karakter ke dalam kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. Ini langkah berani sekaligus tepat: kalau literasi dan numerasi adalah kompetensi dasar, maka keduanya harus hadir di kelas IPA, IPS, seni, hingga olahraga. Pelaksanaan Seliter Jamu diperkuat mulai Agustus 2026 melalui siklus penjaminan mutu yang melibatkan seluruh warga sekolah. Inilah wajah SPMI yang hidup: bukan dokumen di rak, tetapi siklus refleksi dan perbaikan yang nyata.

Dampak Nyata: Nilai Naik, Kelas Lebih Hidup, Siswa Lebih Percaya Diri

Inovasi pendidikan sering dipromosikan dengan bahasa manis, tetapi Seliter Jamu datang dengan bukti. Hasil asesmen pretest dan posttest menunjukkan capaian numerasi dan karakter nalar kritis naik dari 43,91 menjadi 71,00 atau meningkat 27,09 poin. Ini bukan peningkatan kecil; ini sinyal bahwa ketika program dirancang serius dan dijalankan konsisten, kualitas pembelajaran ikut terdongkrak. Berdasarkan refleksi murid, proses belajar menjadi lebih menarik, materi lebih mudah dipahami, dan siswa lebih aktif serta antusias mengikuti pembelajaran.

Dampak ini penting karena menyentuh pengalaman sehari-hari siswa, bukan hanya angka di rapor. Kelas yang hidup membuat siswa berani bertanya, menguji argumen, dan menghubungkan konsep dengan realitas. Di sinilah penguatan literasi dan numerasi bertemu dengan pembentukan karakter: siswa tidak hanya bisa mengerjakan soal, tetapi juga bernalar dan bekerja sama. Ketika kepala sekolah menempatkan inovasi sebagai kerja kolektif—melibatkan guru, tenaga kependidikan, orang tua, komite, dan pengawas—hasilnya adalah ekosistem belajar yang lebih sehat, bukan sekadar program sesaat demi lomba.

Prestasi Massal di SMPN 2 Depok: Bukti Lain Efek Domino Inovasi

Jika Seliter Jamu menunjukkan bagaimana inovasi literasi numerasi mengubah proses belajar di dalam kelas, SMPN 2 Depok memperlihatkan dampaknya pada peningkatan prestasi siswa di panggung yang lebih luas. Sebanyak 265 siswa sekolah ini meraih penghargaan sepanjang tahun ajaran 2025–2026, dan 80 di antaranya telah dikurasi Pusat Prestasi Nasional untuk mendapatkan pengakuan resmi. Angka ini menunjukkan bahwa ketika sekolah serius mengelola program pembelajaran sekolah menengah, prestasi tidak lagi milik segelintir “bintang”, tetapi menjadi budaya kolektif.

Kepala sekolah memberikan dukungan nyata: dispensasi saat lomba, dorongan agar siswa aktif di bidang akademik dan non-akademik, serta memastikan proses belajar tetap terjaga. Bagi siswa, pengakuan Puspresnas penting karena menjadi salah satu syarat penunjang untuk melanjutkan pendidikan ke SMA atau SMK dan sebagai bukti prestasi yang diakui. Di sini, penghargaan bukan sekadar piagam di dinding, tetapi tiket untuk membuka pilihan masa depan. Prestasi dua siswa dalam kompetisi Matematika dan Bahasa Inggris tingkat internasional menjadi contoh yang diharapkan bisa memotivasi teman-teman mereka untuk terus mengukir prestasi.

Inovasi Literasi dan Numerasi di Sekolah Menengah

Dari Penghargaan ke Gerakan: Mengapa Sekarang Saatnya Menyalin Praktik Baik

Apresiasi GTK yang diraih Nurhayati dan deretan penghargaan siswa SMPN 2 Depok menunjukkan satu pesan: inovasi pendidikan berkelanjutan di tingkat sekolah menengah menghasilkan dampak ganda—peningkatan kualitas pembelajaran dan pengakuan pemerintah. Namun penghargaan seharusnya menjadi titik awal, bukan garis akhir. Seliter Jamu sudah membuktikan bahwa program yang lahir dari pembacaan data, digerakkan melalui SPMI, dan dijalankan secara kolaboratif mampu menaikkan capaian numerasi dan karakter secara signifikan.

Pertanyaannya sekarang: apakah sekolah lain berani menyalin semangat, bukan sekadar nama program? Harapan Nurhayati jelas: Seliter Jamu dapat menjadi praktik baik yang diadopsi sekolah lain sesuai kebutuhan masing-masing. Kepala sekolah dan guru tidak perlu menunggu program nasional baru untuk bergerak. Mereka bisa mulai dari hal yang sama: membaca rapor pendidikan, memilih fokus—literasi, numerasi, atau karakter—lalu membangun siklus perbaikan yang melibatkan semua pihak. Pada akhirnya, inovasi literasi numerasi bukan soal alat canggih, tetapi soal keberanian sekolah menengah menjadikan kepedulian terhadap belajar sebagai jamu sehari-hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!