Lompatan Skor ESG: Dari Angka ke Sinyal Serius Pasar
Skor ESG Indonesia adalah ukuran gabungan kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan yang dihasilkan dari pemantauan berbagai indikator, dan lonjakan skor ini mencerminkan pergeseran nyata arah bisnis ke praktik yang lebih berkelanjutan, transparan, serta bertanggung jawab kepada pemangku kepentingan internal maupun eksternal. Dalam pemetaan Katadata ESG Insight (KESGI), skor ESG Indonesia melonjak signifikan dari 28,3 menjadi 42,4. Ini bukan sekadar angka; ini sinyal kepada pasar bahwa korporasi mulai memahami bahwa Environmental, Social, and Governance adalah bahasa baru daya saing. "Skor ESG Indonesia dalam pemetaan Katadata ESG Insight meningkat signifikan dari 28,3 menjadi 42,4". Lonjakan sekitar 50% ini menggambarkan akselerasi, meski belum merata, sehingga menjadi alarm bagi perusahaan yang masih melihat ESG sebagai kewajiban administratif, bukan strategi bisnis.

Di Balik Data: 400 Perusahaan, 100 Indikator, dan Persaingan Baru
Peningkatan skor ESG Indonesia tidak muncul begitu saja; ia lahir dari pemetaan sistematis terhadap sekitar 400 perusahaan dengan menggunakan 100 indikator yang dianalisis untuk melihat penerapan prinsip ESG di berbagai sektor. KESGI dikembangkan sebagai instrumen yang mengolah data perusahaan menjadi gambaran kinerja dan tolok ukur ESG, kemudian disajikan dalam dashboard yang diubah menjadi insight, benchmark, dan pada akhirnya recognition yang kredibel. Artinya, setiap kenaikan skor adalah hasil evaluasi terukur, bukan klaim sepihak korporat. Namun, pemetaan ini juga membongkar sisi lain: masih ada kesenjangan pada isu-isu material penting di sejumlah sektor serta pertumbuhan disparitas kinerja ESG antarkelompok perusahaan. Jadi, di balik tren positif, kompetisi baru sedang terbentuk antara perusahaan yang menginternalisasi ESG dan yang masih bertahan pada pola lama.

Kisah Dua Perusahaan: Konsistensi ESG yang Berbuah Penghargaan
Lonjakan skor ESG Indonesia juga tercermin pada capaian konkret dua entitas usaha Grup Barito Pacific dalam ajang KESGI Awards 2026, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk dan PT Barito Renewables Energy Tbk. Keduanya tidak hanya ikut tren, tetapi menunjukkan konsistensi implementasi ESG hingga meraih pengakuan. Chandra Asri Pacific mendapat apresiasi atas inisiatif manajemen emisi di sektor kimia dan kemasan, sekaligus keunggulan dalam pengembangan dan retensi pekerja melalui pelatihan, pengembangan karier, program suksesi, dan mobilitas talenta. Sementara Barito Renewables Energy dinilai unggul dalam inisiatif efisiensi dan manajemen energi di sektor utilitas dan listrik, termasuk penerapan sistem manajemen energi, inovasi efisiensi, serta pengelolaan pembangkitan energi terbarukan berbasis panas bumi dan tenaga bayu. Keduanya memberi contoh bahwa skor tinggi lahir dari praktik yang konsisten, bukan laporan yang dipoles.
ESG sebagai Bahasa Baru Daya Saing Korporasi
Kenaikan skor ESG Indonesia dari 28,3 menjadi 42,4 adalah titik balik yang menegaskan bahwa dunia usaha mulai memahami ESG sebagai investasi daya saing jangka panjang, bukan sekadar kewajiban pelaporan. Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance yang mulai berkembang menunjukkan komitmen baru korporasi, meski peningkatan tersebut belum merata dan disparitas kinerja antarkelompok perusahaan terus terlihat. Di tengah pemetaan yang mengubah data menjadi insight, benchmark, dan recognition, perusahaan yang menunda adaptasi berisiko tertinggal dari sisi akses pengakuan dan reputasi pasar. Kesimpulannya, lonjakan skor ESG adalah undangan terbuka: perusahaan yang menjadikan ESG sebagai bagian inti strategi bisnis akan memetik hasil lebih dulu, sementara yang memandangnya sebagai tren sementara akan kehilangan momentum.






