Lonjakan Skor ESG: Sinyal Kuat Perubahan Arah Bisnis
Skor ESG adalah ukuran komprehensif yang menilai sejauh mana perusahaan menerapkan prinsip Environmental Social Governance dalam praktik bisnis, mencakup kebijakan lingkungan, perlindungan sosial, dan tata kelola yang transparan berdasarkan beragam indikator yang dianalisis secara sistematis untuk menggambarkan kualitas keberlanjutan bisnis secara menyeluruh. Lonjakan skor ESG Indonesia dari 28,3 menjadi 42,4 dalam pemetaan Katadata ESG Insight (KESGI) bukan sekadar angka di dashboard. Ini adalah sinyal bahwa perusahaan mulai menjadikan keberlanjutan sebagai strategi inti, bukan dekorasi di laporan tahunan. Pemetaan KESGI yang mencakup sekitar 400 perusahaan dan 100 indikator menunjukkan bahwa keseriusan mengelola emisi, energi, dan manusia mulai tercermin dalam kinerja ESG. Namun, peningkatan ini sekaligus membuka fakta tak nyaman: masih ada kesenjangan besar antarkelompok perusahaan dan isu material yang belum tersentuh secara memadai. Dengan kata lain, kita baru memasuki babak pertama transformasi, jauh dari garis finis.

Dari Angka ke Aksi: Kinerja ESG Mulai Berbuah
Peningkatan skor ESG Indonesia menunjukkan bahwa investasi waktu dan sumber daya dalam praktik perusahaan berkelanjutan mulai memberikan hasil nyata. Ketika kinerja Environmental Social Governance membaik, perusahaan menikmati manfaat yang tak lagi abstrak: proses lebih efisien, risiko operasional menurun, dan reputasi di mata investor maupun talenta meningkat. Katadata mengembangkan KESGI sebagai instrumen yang mengubah data menjadi insight, benchmark, lalu pengakuan yang kredibel. Dalam bahasa sederhana, perusahaan yang serius pada kinerja ESG sekarang punya "cermin" dan "papan skor" untuk membuktikan komitmennya. Kutipan yang perlu diperhatikan: “Skor ESG Indonesia dalam pemetaan Katadata ESG Insight (KESGI) meningkat signifikan dari 28,3 menjadi 42,4,” ujar Heri Susanto. Angka ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan bisnis tidak lagi berhenti di komitmen, tetapi mulai terlihat di indikator kinerja yang terdokumentasi.

Chandra Asri dan Barito Renewables: Contoh Konsistensi, Bukan Sekali Tren
Lonjakan skor ESG Indonesia banyak ditopang oleh perusahaan yang menjadikan keberlanjutan bisnis sebagai disiplin jangka panjang, bukan proyek seremonial. Dalam KESGI Awards, dua entitas Grup Barito Pacific—PT Chandra Asri Pacific Tbk dan PT Barito Renewables Energy Tbk—muncul sebagai motor penting perubahan. Chandra Asri mendapat apresiasi atas manajemen emisi di sektor kimia dan kemasan, sekaligus keunggulan pengembangan dan retensi pekerja lewat pelatihan, pengembangan karier, program suksesi, dan mobilitas talenta. Ini menegaskan bahwa kinerja ESG kuat lahir dari kombinasi perhatian pada lingkungan dan manusia. Barito Renewables menunjukkan sisi lain: efisiensi dan manajemen energi di sektor utilitas dan listrik, melalui sistem manajemen energi, inovasi efisiensi, serta pengelolaan pembangkitan energi terbarukan berbasis panas bumi dan tenaga bayu. Dua contoh ini menggambarkan satu pesan: konsistensi implementasi ESG menghasilkan pengakuan, dan pengakuan memperkuat posisi bisnis di ekosistem ekonomi baru.
Kesenjangan ESG: Risiko yang Mengancam Daya Saing
Di balik kenaikan skor ESG Indonesia, terdapat cerita tentang ketimpangan yang berpotensi menggerus daya saing sebagian perusahaan. Pemetaan KESGI menyoroti kesenjangan pada isu material di berbagai sektor serta disparitas kinerja ESG antarkelompok perusahaan. Artinya, sementara sebagian pelaku usaha bergerak cepat menjadi perusahaan berkelanjutan, banyak yang masih tertinggal pada tahap memahami apa itu ESG dan mengapa penting. Ketimpangan ini bukan sekadar masalah reputasi; ke depan, bisa berubah menjadi hambatan akses pendanaan, penurunan kepercayaan pasar, dan kesulitan menarik talenta berkualitas. Ketika instrumen seperti KESGI digunakan untuk mengukur implementasi keberlanjutan perusahaan sejak 2022, yang enggan beradaptasi akan terlihat jelas dalam skor dan perbandingan sektor. Mereka tidak hanya kalah angka, tetapi berisiko kalah kesempatan di era ketika kinerja ESG menjadi salah satu "mata uang" baru dalam dunia bisnis.
Kesimpulan: ESG Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Infrastruktur Bisnis
Lonjakan skor ESG Indonesia ke 42,4 menunjukkan bahwa dunia usaha mulai memandang Environmental Social Governance sebagai infrastruktur bisnis yang tak terpisahkan. Momentum ini mencerminkan komitmen nyata perusahaan terhadap praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang lebih baik, sekaligus menandai lahirnya standar baru keberlanjutan bisnis. KESGI Awards yang memberi pengakuan pada perusahaan dengan kinerja ESG menonjol sejak 2022 memperkuat ekosistem apresiasi bagi pelaku yang bergerak lebih cepat. Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah perusahaan harus mengadopsi ESG, melainkan seberapa dalam dan konsisten penerapannya. Mereka yang menempatkan ESG di pusat strategi akan memetik hasil lebih besar—dari efisiensi, kepercayaan pasar, hingga daya tarik talenta. Yang tertinggal akan merasakan ESG sebagai tekanan regulasi dan pasar. Di titik ini, pilihannya jelas: menjadikan ESG sebagai beban, atau sebagai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.






