KuybeliKuybeli

Saat Pengiriman Smartphone Turun, Apple dan Samsung Menguat

Saat Pengiriman Smartphone Turun, Apple dan Samsung Menguat
Minat|Memilih dan Membeli Ponsel

Pasar Menyusut, Dua Raksasa Malah Naik Kelas

Pasar smartphone global yang menyusut adalah kondisi ketika pengiriman ponsel pintar turun dibanding tahun sebelumnya karena krisis pasokan memori yang membuat biaya komponen naik, menekan produsen yang bermain di segmen harga menengah ke bawah, tetapi pada saat yang sama membuka ruang bagi pemain besar seperti Apple dan Samsung untuk memperkuat dominasi pasar lewat fokus pada strategi flagship premium dan pengelolaan rantai pasok yang lebih disiplin. Di kuartal kedua, lembaga riset mencatat pengiriman smartphone global turun antara 4% hingga 11% dibanding periode yang sama tahun lalu dan menyentuh level terendah untuk kuartal kedua sejak 2013. Meski angka besar di judul terlihat suram, narasi utamanya tidak sesederhana "pasar jatuh, semua rugi". Apple dan Samsung berubah menjadi pemenang di tengah kelesuan ini, dan itu bukan kebetulan. Mereka memanfaatkan krisis pasokan memori, tekanan biaya, serta pergeseran pola belanja konsumen untuk mempertegas posisi sebagai rujukan utama di segmen premium.

Krisis Pasokan Memori: Beban Berat bagi Ponsel Murah

Turunnya pengiriman smartphone global berawal dari krisis pasokan memori, ketika harga chip DRAM dan NAND melonjak karena tersedot ke industri kecerdasan buatan. Rantai pasok semikonduktor yang tersendat membuat biaya produksi naik, terutama pada perangkat dengan harga di bawah USD 400 (sekitar Rp7,2 juta), yang marginnya tipis dan konsumennya sangat sensitif terhadap perubahan harga. Analis menjelaskan bahwa pada smartphone murah, memori dan chip penyimpanan kini bisa memakan lebih dari 60% total biaya bahan baku, sementara pada flagship premium sekitar 30%. Itu artinya, setiap kenaikan harga memori memukul produsen ponsel murah dua kali lebih keras. Hasilnya terlihat di toko: smartphone entry-level dan kelas menengah ke bawah dengan harga di bawah USD 500 (sekitar Rp9 juta) menjadi paling terdampak, stok berkurang, harga naik, dan fitur yang dipangkas. Konsumen beranggaran terbatas akhirnya menunda pembelian, menurunkan ekspektasi spesifikasi, beralih ke cicilan/paylater, atau memburu ponsel bekas. Sementara itu, vendor mulai mengalihkan fokus dari mengejar volume ke mengejar nilai, merapikan portofolio dan menyesuaikan harga eceran agar bisnis tetap bertahan.

Strategi Flagship Premium: Bagaimana Apple dan Samsung Menang

Ketika pengiriman smartphone turun, Apple dan Samsung membuktikan bahwa dominasi pasar tidak selalu bergantung pada volume, melainkan pada kemampuan mengunci segmen premium dengan strategi flagship yang konsisten. Di tengah volatilitas, Samsung dan Apple mencatat pertumbuhan penjualan masing-masing 2% dan 4% dibanding kuartal II-2025. Apple bahkan merekam salah satu kuartal kedua terbaiknya dengan pangsa pasar 20% dan duduk di posisi kedua global. Samsung tetap di puncak dengan pangsa 22%, dibantu pasokan produk yang melimpah dan permintaan yang stabil, plus peluncuran Galaxy S26 yang digeser sehingga mendorong permintaan premium ke kuartal ini. Strateginya terlihat jelas: Apple memilih mempertahankan harga iPhone ketika produsen lain terpaksa menaikkan harga karena biaya memori, sehingga memberi insentif bagi pemilik iPhone lama untuk upgrade tanpa merasa “disentil” harga. Lini iPhone 17 memicu salah satu siklus upgrade terbesar dalam sejarah perusahaan, menambah pengiriman justru saat pasar keseluruhan melemah. Samsung mengambil jalur ganda—menggarap segmen premium dan serempak merebut pangsa pasar entry-level dari vendor China yang menahan peluncuran baru dan menaikkan harga perangkat yang ada. Dua pendekatan berbeda ini punya kesamaan: menghindari perang harga di segmen paling rapuh dan mengarahkan sumber daya ke produk dengan margin tinggi.

Dampak ke Pengguna dan Nasib Vendor Lain

Konsentrasi pada strategi flagship premium berarti pasar smartphone tampak makin terbelah: vendor besar menikmati margin, sementara pengguna beranggaran terbatas kehilangan opsi. Produsen diperkirakan akan semakin membanjiri segmen premium demi melindungi pendapatan, dan itu mengorbankan lini kelas menengah ke bawah. Imbasnya, mayoritas konsumen entry-level harus berhadapan dengan harga lebih tinggi, menurunkan standar fitur, memanfaatkan skema cicilan atau paylater, atau masuk ke pasar ponsel bekas. Di sisi lain, pemain seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo diperkirakan mengalami penurunan pengiriman karena tekanan biaya dan permintaan yang melemah. Situasi ini memperkuat narasi dominasi dua pemain besar: mereka cukup kuat secara finansial dan rantai pasok untuk menyerap lonjakan biaya memori, sementara kompetitor terpukul di segmen yang paling bergantung pada harga miring. Risiko jangka panjangnya adalah pasar yang makin terkonsentrasi, di mana enam vendor teratas menguasai hampir seluruh kue, dan ruang bagi pendatang baru di segmen murah makin sempit. Pada titik ini, strategi mempertahankan harga dan bermain di premium bukan sekadar taktik, tetapi cara untuk bertahan hidup.

Ke Depan: Harga Turun Lambat, Dominasi Bisa Berubah

Pertanyaan besar sekarang bukan lagi siapa yang menang tahun ini, tetapi siapa yang sanggup mempertahankan strategi ketika krisis memori mereda. Direktur riset menyebut harga komponen memori baru akan mulai turun paling cepat pada paruh kedua 2027, tetapi harga smartphone sulit kembali ke tingkat sebelum 2025. Pasar sendiri diprediksi masih melemah dua kuartal ke depan, tepat saat musim belanja besar berbenturan dengan kelangkaan chip. Dalam fase ini, berfokus pada segmen premium memang melindungi margin, namun berpotensi meninggalkan jutaan pengguna di luar radar. Keunggulan Apple bahkan disebut akan diuji lagi menjelang peluncuran generasi iPhone terbaru beberapa bulan mendatang. Bila harga memori mulai normal dan vendor lain menemukan cara mengurangi biaya, dominasi Apple Samsung di pasar bisa menghadapi penantang baru dari pemain yang lebih agresif di kelas menengah. Namun, bila harga perangkat tetap tinggi, konsentrasi pasar akan makin tebal—dan dua raksasa ini hampir pasti terus memimpin. Pada akhirnya, penurunan pengiriman smartphone bukan tanda kematian industri, melainkan fase seleksi: hanya strategi yang berani berinvestasi di premium, menjaga harga, dan mengelola rantai pasok yang akan bertahan.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!