Pasar Smartphone Global Melemah, Dua Pemain Justru Menguat
Pasar smartphone global adalah keseluruhan aktivitas produksi, distribusi, dan penjualan ponsel pintar di seluruh dunia, yang mencerminkan persaingan merek, dinamika harga komponen, serta perilaku konsumen ketika memutuskan upgrade perangkat. Di pasar smartphone global yang sedang lesu, Apple dan Samsung kembali membuktikan bahwa skala dan strategi premium flagship memberi perlindungan unik terhadap guncangan siklus industri. Sementara pengiriman smartphone turun 4% menurut satu laporan riset dan 11% menurut lembaga lain, dua raksasa ini malah mencatat pertumbuhan penjualan dan pengiriman. Samsung mempertahankan posisi puncak dengan pangsa 22% dan pertumbuhan 2% dibanding kuartal sebelumnya, sedangkan Apple tumbuh 3–4% tergantung metodologi riset. Di sini terlihat pola yang mengkhawatirkan: pasar menyusut, tetapi dominasi merek besar yang bermain di segmen atas justru mengeras.
Krisis Pasokan Memori: Bencana untuk Mid-range, Berkah untuk Premium
Penurunan pengiriman smartphone turun tajam karena krisis pasokan memori global, terutama chip DRAM dan NAND yang diburu industri kecerdasan buatan. Akibatnya, pasokan chip untuk smartphone terbatas dan biaya produksi naik, paling parah di kelas menengah ke bawah dengan harga di bawah USD 500 (approx. Rp8.000.000). Pada smartphone murah, komponen memori dan penyimpanan kini memakan lebih dari 60% biaya bahan baku, sementara di model flagship premium sekitar 30%. Tekanan ini memaksa banyak vendor mid-range mengurangi perilisan produk baru, menaikkan harga, dan mengorbankan margin. Konsumen entry-level akhirnya menunda pembelian, menurunkan ekspektasi spesifikasi, mengambil cicilan atau paylater, atau beralih ke ponsel bekas. Ironisnya, situasi yang menghantam pemain kecil dan menengah ini membuat lini premium Apple dan Samsung tampak relatif “aman”, karena segmen atas lebih toleran terhadap kenaikan biaya dan harga.
China: Rekor Baru Apple dan Ancaman Serius bagi Huawei
Di pasar smartphone terbesar dunia, Apple memanfaatkan kekacauan memori untuk melakukan lompatan dramatis. Laporan riset menunjukkan Apple mencatat pertumbuhan pengiriman 24% pada kuartal kedua dan naik dari peringkat kelima ke posisi kedua di China, langsung mengancam dominasi Huawei. Lebih mengganggu lagi bagi pesaing adalah fakta bahwa total penjualan smartphone di negara tersebut justru turun 2% dibanding tahun sebelumnya. Artinya, Apple tidak hanya tumbuh, tetapi merebut pangsa dari vendor lain. Kuncinya ada pada kombinasi strategi harga yang stabil dan daya tawar kuat terhadap pemasok memori yang membuat Apple tidak perlu menaikkan harga saat Oppo, Vivo, dan Xiaomi terpaksa mengerek banderol. Lini iPhone 17 yang menawarkan fitur menarik dan harga yang terasa “masuk akal” di segmen premium menjadi motor utama siklus upgrade masif ini.
Strategi Premium, Brand Loyalty, dan Konsentrasi Kekuatan Pasar
Baik Apple maupun Samsung mengandalkan strategi premium flagship dan brand loyalty untuk bertahan di tengah kontraksi. Samsung menggeser peluncuran Galaxy S26 sehingga sebagian permintaan premium bergeser ke kuartal kedua, sekaligus merebut pangsa di segmen entry-level ketika vendor China bersikap konservatif dan menaikkan harga. Apple menjaga harga jual iPhone tetap stabil saat mayoritas kompetitor harus menyesuaikan ke atas, memicu salah satu siklus upgrade terbesar sepanjang sejarah perusahaan. Sinyalnya jelas: ketika krisis pasokan memori menghantam margin di segmen murah, produsen beralih fokus ke produk bernilai tinggi dan segmen premium. Menurut analis, produsen kemungkinan akan makin membanjiri segmen atas demi melindungi pendapatan, meski ini mengorbankan konsumen beranggaran terbatas yang semakin kekurangan pilihan. Konsentrasi kekuatan pasar di tangan beberapa vendor besar pun makin menguat.
Ke Depan: Apakah Dominasi Apple dan Samsung Akan Makin Sulit Digoyang?
Melihat tren sekarang, dominasi Apple Samsung di pasar smartphone global tampak belum akan luntur. Analis memperkirakan pasar smartphone masih akan melemah dalam dua kuartal ke depan, bahkan ketika musim belanja besar bertabrakan dengan kelangkaan chip. Di China, proyeksi menunjukkan penurunan pasar hingga 6% pada akhir tahun, menandai penurunan kuartalan keenam berturut-turut. Pada saat yang sama, harga komponen memori baru diprediksi mulai turun paling cepat paruh kedua 2027, artinya vendor harus bertahan cukup lama di lingkungan biaya tinggi. Dalam jangka pendek, ini menguntungkan pemain dengan kapital besar, lini premium kuat, dan basis pengguna loyal seperti Apple dan Samsung. Namun dari sudut pandang konsumen, terutama di segmen menengah ke bawah, masa depan tampak kurang bersahabat: lebih sedikit pilihan, harga lebih tinggi, dan siklus upgrade yang makin bergantung pada ekosistem dua raksasa tersebut.







