KuybeliKuybeli

Saat Pasar Smartphone Menurun, Apple dan Samsung Malah Tumbuh

Saat Pasar Smartphone Menurun, Apple dan Samsung Malah Tumbuh
Minat|Memilih dan Membeli Ponsel

Pasar Menyusut, Dua Pemain Menguasai Panggung

Pasar smartphone global adalah keseluruhan ekosistem produsen, pemasok komponen, dan konsumen perangkat seluler yang membentuk rantai nilai dari produksi hingga penjualan, di mana perubahan harga komponen dan daya beli akan langsung memengaruhi volume pengiriman, strategi harga ponsel, serta konsentrasi kekuatan di tangan sedikit pemain besar. Di pasar ini, angka terbaru tidak menggembirakan: pengiriman smartphone global turun 4% secara tahunan pada kuartal II karena tekanan krisis pasokan memori yang mengerek biaya DRAM dan NAND. Dalam laporan terpisah, pasar smartphone global sepanjang 2026 bahkan diperkirakan menyusut sekitar 12%, dengan penurunan terdalam pada perangkat di bawah USD 400 (approx. Rp6.400.000). Namun di tengah kontraksi itu, pertumbuhan Apple Samsung justru terjadi: penjualan Samsung naik 2% dan Apple 4% dibanding kuartal II tahun sebelumnya.

Saat Pasar Smartphone Menurun, Apple dan Samsung Malah Tumbuh

Krisis Pasokan Memori: Bencana Murah, Keberuntungan Premium

Krisis pasokan memori bukan sekadar isu teknis, melainkan garis pemisah antara yang bertahan dan yang tergulung. Data riset menunjukkan krisis ini mengganggu rantai produksi dan menaikkan harga komponen memori, terutama DRAM dan NAND, sehingga biaya bahan baku melonjak. Pada smartphone murah, memori dan chip penyimpanan kini menyumbang lebih dari 60% total biaya produksi, sementara pada model flagship sekitar 30%. Artinya, setiap dolar tambahan di memori jauh lebih menyakitkan bagi ponsel murah. Vendor yang bergantung pada volume kelas menengah dan entry-level menjadi pihak paling terpukul karena margin tipis dan konsumen sangat sensitif terhadap kenaikan harga. Sebaliknya, produsen dengan portofolio premium punya ruang menaikkan harga tanpa langsung mematikan permintaan, sehingga margin keuntungan bisa tetap dijaga. Di sinilah Apple dan Samsung mendapat keuntungan struktural, bukan sekadar keberuntungan musiman.

Saat Pasar Smartphone Menurun, Apple dan Samsung Malah Tumbuh

Strategi Harga dan Portofolio: Mengapa Apple dan Samsung Aman?

Kunci pertumbuhan Apple Samsung di pasar smartphone global yang melemah adalah keberanian mengubah strategi harga ponsel dari mengejar volume ke mengejar nilai. Banyak vendor lain dipaksa menaikkan harga jual atau memangkas pasokan di segmen tertentu untuk menyerap kenaikan biaya produksi. Sementara itu, Apple menjaga harga jual iPhone tetap stabil ketika kompetitor harus menaikkan harga, sehingga siklus upgrade iPhone 17 menjadi salah satu yang paling masif dalam sejarah perusahaan. Di kubu Android, Samsung memanfaatkan celah ketika produsen asal China menahan rilis produk baru dan menaikkan harga perangkat yang sudah ada; hasilnya, Samsung berhasil merebut pangsa di segmen entry-level sekaligus mempertahankan dominasi premium. Banyak produsen lain mulai mengutamakan kenaikan average selling price ketimbang mengejar unit, tetapi Apple dan Samsung sudah lebih siap karena skala bisnis dan basis konsumen mereka memang mendukung pergeseran ini.

Dampak ke Konsumen: Ponsel Murah Menjadi Korban Utama

Di balik angka pertumbuhan Apple Samsung, ada cerita yang kurang nyaman bagi konsumen kelas menengah ke bawah. Penurunan paling tajam terjadi pada ponsel di bawah USD 400 (approx. Rp6.400.000), segmen yang selama ini menjadi pintu utama adopsi smartphone baru. Krisis pasokan memori memukul segmen ini paling keras karena margin tipis dan sensitivitas harga yang tinggi. Produsen yang fokus ke ponsel murah tidak punya banyak ruang untuk menyerap kenaikan biaya; menaikkan harga berisiko membuat konsumen menunda pembelian, menurunkan ekspektasi spesifikasi, beralih ke skema cicilan atau paylater, hingga memilih ponsel bekas. Pada saat yang sama, banyak vendor mengurangi volume penjualan demi menjaga profitabilitas, sehingga pilihan produk baru di rak semakin sempit. Konsekuensinya, konsumen di segmen entry dan mid-range menanggung kombinasi pahit: harga cenderung naik, spesifikasi stagnan, dan siklus pembaruan perangkat memanjang.

Menuju Pasar yang Kian Terkonsentrasi

Tren terbaru menunjukkan pasar smartphone global memasuki fase polarisasi, di mana kekuatan mengerucut ke tangan beberapa pemain besar dengan rantai pasok kuat dan portofolio premium. Dominasi Apple dan Samsung menguat, sementara tiga pemain lain di lima besar—Xiaomi, Oppo, dan Vivo—mengalami penurunan pangsa pasar. Dalam konteks krisis pasokan memori yang diperkirakan baru mereda paling cepat pada paruh kedua 2027, tekanan pada pemain yang lebih kecil tidak akan hilang begitu saja. Pasar diprediksi masih melemah dalam dua kuartal ke depan, tepat saat musim belanja besar bertabrakan dengan kelangkaan chip. Arah kebijakan banyak produsen untuk memfokuskan portofolio ke segmen premium bisa jadi menyelamatkan neraca keuangan, tetapi mempercepat konsentrasi pasar. Bila tidak ada inovasi model bisnis di segmen menengah ke bawah, kita akan menyaksikan dunia smartphone yang semakin ditentukan oleh keputusan dua raksasa ini—dan itu akan membatasi pilihan konsumen dalam jangka panjang.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!