Pasar Smartphone Lesu, Namun Dominasi Tetap Milik Dua Raksasa
Pasar smartphone lesu merujuk pada kondisi ketika pengiriman smartphone turun secara signifikan dari tahun ke tahun, dipicu oleh tekanan biaya komponen, krisis pasokan memori, dan melemahnya permintaan konsumen, sehingga vendor lebih berfokus menjaga margin keuntungan daripada mengejar volume penjualan semata. Di tengah situasi pengiriman smartphone turun, Apple dan Samsung menjadi anomali positif. Lembaga riset melaporkan pengiriman smartphone global turun 4% secara tahunan pada kuartal II dan menjadi salah satu level terendah dalam lebih dari satu dekade. Namun, dua nama yang sama terus muncul di puncak market share smartphone global: Samsung dengan pangsa 22% dan Apple dengan 20%, sementara kompetitor besar lain—Xiaomi, Oppo, dan Vivo—menurun ke 11%, 10%, dan 8%. Dalam pasar yang menyusut, dominasi mereka bukan kebetulan, melainkan hasil strategi yang secara terang menempatkan nilai dan kontrol rantai pasok di atas perang harga semata.

Krisis Pasokan Memori: Mengapa Vendor Murah Paling Tersakiti
Krisis pasokan memori menjadi pemicu utama pasar smartphone global melemah karena mengerek harga komponen DRAM dan NAND sekaligus mengganggu rantai produksi. Laporan lain menegaskan bahwa kenaikan ini tidak terjadi di ruang hampa: permintaan chip memori untuk kecerdasan buatan melonjak, membuat pasokan untuk smartphone ikut terjepit. Akibatnya, biaya produksi naik tajam, terutama di segmen entry-level dan menengah—persis tempat mayoritas konsumen sensitif terhadap perubahan harga. Pada ponsel murah, memori kini bisa menyumbang lebih dari 60% biaya bahan baku, dibanding sekitar 30% di model flagship premium. Dampak nyatanya ke pengguna: pilihan ponsel murah mengecil, spesifikasi diturunkan, cicilan dan paylater makin didorong, dan pembelian ditunda atau dialihkan ke ponsel bekas. Singkatnya, krisis memori menguap sebagai inflasi teknologi yang paling keras terasa di kelas bawah.

Apple dan Samsung: Menang Karena Kontrol Harga dan Pasokan
Di tengah krisis pasokan memori, Apple dan Samsung bukan sekadar bertahan; mereka tumbuh. Keduanya mampu meningkatkan pengiriman sekaligus memperbesar pangsa pasar ketika pengiriman smartphone turun secara global. Analis mencatat penjualan Samsung naik sekitar 2% dan Apple 4% dibanding kuartal II tahun sebelumnya, sementara vendor Android lain merosot. Kutipan kunci dari laporan menyebut, “Lini iPhone 17 memicu salah satu siklus upgrade iPhone paling masif dalam sejarah Apple,” memperjelas bagaimana segmen premium yang mapan tetap kuat meski biaya memori menanjak. Apple memilih menahan harga iPhone ketika banyak pesaing menaikkan harga, sehingga konsumen melihat produk premium dengan nilai yang relatif stabil. Samsung, di sisi lain, menjaga ketersediaan pasokan di berbagai pasar dan memanfaatkan peluncuran Galaxy S26 untuk menggeser permintaan premium ke kuartal yang sedang lesu. Dalam keadaan kacau, kemampuan mengatur harga dan stok menjadi senjata utama.

Pergeseran Strategi: Dari Volume ke Nilai Produk
Kenaikan biaya memori memaksa banyak vendor mengubah strategi: bukan lagi menggelontorkan sebanyak mungkin ponsel murah, melainkan mengerek average selling price demi menjaga profitabilitas. Analis menegaskan bahwa penurunan paling besar terjadi pada perangkat di bawah USD 400 (sekitar Rp6.400.000), karena margin tipis dan konsumen yang sangat peka terhadap harga. Di segmen ini, ruang untuk menaikkan harga hampir tidak ada, sehingga vendor kelas menengah dan entry-level menghadapi tekanan ekstrem dan mengurangi pasokan. Sebaliknya, produsen dengan portofolio premium mempunyai kelonggaran: mereka bisa menyesuaikan harga tanpa memukul permintaan secara drastis. Itulah kenyataan yang menguntungkan Apple dan Samsung. Ketika kompetitor China memilih konservatif—memangkas perilisan baru dan menaikkan harga model lama—Samsung masuk merebut pangsa pasar entry-level yang ditinggalkan. Strategi berbasis nilai, bukan sekadar kuantitas, membuat dua raksasa ini tetap tumbuh di pasar smartphone lesu.
Masa Depan Pasar Smartphone: Mengecil, Namun Tidak Mati
Gambaran ke depan tidak cerah, tetapi juga bukan akhir permainan. Laporan riset memproyeksikan pasar smartphone global sepanjang tahun ini dapat menyusut sekitar 12%, dengan penurunan paling tajam pada perangkat berharga di bawah USD 400 (sekitar Rp6.400.000). Analis lain menambahkan bahwa pasar smartphone kemungkinan masih melemah dalam dua kuartal ke depan, terutama ketika musim belanja besar bertepatan dengan kelangkaan chip. “Harga komponen memori baru akan mulai turun paling cepat pada paruh kedua tahun 2027,” menjadi peringatan bahwa fase tekanan biaya ini bukan badai singkat. Implikasinya jelas: vendor yang bertumpu pada segmen murah perlu merombak model bisnis; sedangkan Apple dan Samsung berpeluang memperlebar dominasi mereka di market share smartphone global karena struktur produk premium memberi bantalan lebih tebal terhadap gejolak biaya. Pada akhirnya, pasar smartphone mengecil, tetapi bagi dua pemain ini, arena yang mengecil justru memusatkan kekuasaan.





