Mubes XXI TIM: Dari Paguyuban Menjadi Ekosistem Talenta Kreatif
Mubes XXI Taman Iskandar Muda adalah forum musyawarah organisasi paguyuban masyarakat Aceh yang kini dimaknai sebagai momentum strategis untuk mengubah rumah persaudaraan perantau menjadi ekosistem ekonomi kreatif Aceh yang memberi ruang regenerasi, memperkuat jejaring kolaborasi, dan mengangkat potensi budaya serta talenta muda Indonesia dari Aceh ke panggung nasional. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya membuka Musyawarah Besar XXI Taman Iskandar Muda di Aula Masjid Baiturrahman, kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta. Kehadiran menteri bukan sekadar seremoni; ini sinyal bahwa pemerintah melihat TIM sebagai mitra serius dalam pengembangan industri kreatif berbasis komunitas. Yang menarik, Riefky tidak berbicara soal proyek besar atau program top–down, melainkan menekankan kekompakan, regenerasi, dan ruang berkreasi bagi generasi muda. Pesan ini menempatkan talenta muda Aceh sebagai subjek utama, bukan hanya penerima manfaat kebijakan. Jika Aceh hendak menguatkan ekonomi kreatif regional, ekosistem yang berawal dari komunitas perantau seperti TIM harus dipandang sebagai laboratorium sosial tempat ide, jaringan, dan solidaritas bekerja secara nyata.

TIM Sebagai Rumah Sosial dan Basis Ekonomi Kreatif Aceh
Selama puluhan tahun, Taman Iskandar Muda dikenal sebagai wadah silaturahmi dan identitas Aceh di perantauan, namun kini perannya bergeser menjadi rumah multi-fungsi: sosial, budaya, dan ekonomi kreatif Aceh. Dalam empat tahun kepemimpinannya, pengurus pusat menggelar halalbihalal yang dihadiri lebih dari 15.000 masyarakat Aceh di perantauan dan Festival Kuliner dan Budaya Aceh yang langsung menyentuh publik dan pelaku usaha kreatif. Angka ini bukan sekadar statistik kegiatan; ia menunjukkan skala jaringan yang bisa dimobilisasi untuk pengembangan industri kreatif. Dari festival kuliner hingga kegiatan keagamaan, TIM memproduksi ruang temu antara tradisi dan pasar. Di sinilah makanan, musik, dan seni Aceh bertemu konsumen urban, membuka peluang nilai tambah ekonomi. Sikap organisasi yang sigap membantu korban banjir dan longsor dengan menghimpun dana lebih dari Rp 1,5 miliar dan menyalurkannya ke berbagai kabupaten/kota menunjukkan bahwa solidaritas sosial bisa berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas komunitas. Jika pemerintah serius menjadikan ekonomi kreatif sebagai hulir dari budaya, maka rumah-rumah komunitas seperti TIM adalah titik awal paling masuk akal.
Strategi Pemerintah: Talenta Muda sebagai Motor Ekonomi Kreatif
Pidato Teuku Riefky dalam Mubes XXI TIM menegaskan strategi pemerintah yang bertumpu pada pemberdayaan talenta muda melalui organisasi lokal dan komunitas perantau. Ia menyebut di antara generasi muda Aceh saat ini terdapat calon pengusaha, pemimpin daerah, politisi, cendekiawan, serta talenta kreatif yang berpotensi mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional maupun dunia. Ini pengakuan eksplisit bahwa talenta muda Indonesia dari Aceh bukan sekadar sumber daya, tetapi aktor utama transformasi ekonomi. Kementerian Ekonomi Kreatif membuka peluang kolaborasi dengan TIM dan komunitas lain untuk memajukan ekonomi kreatif, dengan logika sederhana namun tajam: budaya sebagai hulu, inovasi, kreativitas, dan teknologi sebagai hilir. "Budaya adalah hulunya, ketika hilirnya diberi sentuhan inovasi, kreativitas, teknologi, di situlah ekonomi kreatif," tegas Riefky. Artinya, dukungan negara diarahkan bukan hanya pada produk akhir, tetapi pada rantai nilai penuh: dari pelestarian budaya, inkubasi ide, sampai komersialisasi karya. Organisasi lokal menjadi kanal distribusi kebijakan, sekaligus filter agar program pengembangan industri kreatif tidak kehilangan konteks kultural.
Kekompakan dan Regenerasi: Modal Sosial yang Tak Boleh Disia-siakan
Ada satu pesan politik yang terasa konsisten di Mubes XXI TIM: kekompakan bukan basa-basi, melainkan prasyarat ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Riefky berharap persaudaraan masyarakat Aceh di perantauan semakin kokoh karena dari situlah lahir kontribusi nyata bagi kemajuan Aceh dan penguatan posisi daerah di kancah nasional. Tema Mubes, “Memperkuat Transformasi dan Kolaborasi Masyarakat Aceh di Perantauan Menuju Taman Iskandar Muda yang Modern, Bermanfaat, dan Berkelanjutan”, menegaskan arah itu. Menariknya, Ketua Umum PPTIM Muslim Armas mengingatkan agar Mubes tidak berubah menjadi ajang pecah belah karena perbedaan pilihan, tetapi melahirkan gagasan bermanfaat bagi masyarakat. Dengan sekitar 350–357 peserta dan peninjau dari berbagai unsur organisasi hadir, forum ini sesungguhnya adalah mesin produksi ide kolektif, bukan sekadar arena pemilihan ketua. Jika konflik dibiarkan mendominasi, modal sosial yang besar akan terkuras. Sebaliknya, jika perbedaan diolah menjadi kolaborasi, TIM bisa menjadi contoh bagaimana paguyuban tradisional bertransformasi menjadi institusi modern yang menopang ekonomi kreatif Aceh secara berkelanjutan.
Ke Depan: Menjadikan TIM Laboratorium Kebijakan Kreatif Berbasis Komunitas
Agenda lanjutan Mubes XXI TIM tidak ringan: laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2022–2026, pembahasan AD/ART dan Garis-Garis Besar Haluan Organisasi, hingga pemilihan Ketua Umum PPTIM masa bakti 2026–2030. Semua ini akan menentukan apakah TIM hanya berhenti sebagai paguyuban nostalgia, atau naik kelas menjadi laboratorium kebijakan kreatif berbasis komunitas. Dengan tema transformasi dan kolaborasi, pengurus baru seharusnya menjadikan ekonomi kreatif Aceh sebagai salah satu pilar program, bukan pelengkap kegiatan budaya semata. Dari perspektif kebijakan publik, TIM menawarkan sesuatu yang jarang dimiliki pemerintah: kedekatan emosional dengan komunitas, jaringan perantau yang luas, dan rekam jejak kegiatan sosial yang nyata. Pemerintah sudah membuka pintu kolaborasi; bola kini berada di kaki organisasi. Jika TIM mampu merajut kekuatan budaya, solidaritas sosial, dan kapasitas talenta muda Indonesia dari Aceh ke dalam strategi pengembangan industri kreatif yang terukur, maka Musyawarah Besar XXI akan tercatat bukan hanya sebagai hajatan rutin, tetapi sebagai titik balik ekosistem kreatif regional.






