Pemulihan jangka panjang, bukan sekadar pemadaman
Pemulihan gambut OKI adalah upaya jangka panjang untuk mengembalikan fungsi ekosistem lahan gambut melalui pencegahan kebakaran, rehabilitasi, dan penanaman vegetasi yang sesuai. Strategi ini tidak boleh berhenti ketika api padam: kawasan yang berulang kali terbakar membutuhkan perawatan dan pengawasan berkelanjutan. Pada Minggu, 1 November 2026, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat, dan jajaran pejabat meninjau lokasi penanganan karhutla di Kecamatan Tulung Selapan untuk mengevaluasi respons darurat sekaligus mematangkan pemulihan jangka panjang. Kunjungan itu tepat, tetapi ukurannya kelak bukan jumlah kunjungan atau operasi, melainkan apakah kebakaran berulang dapat dicegah dan lahan kembali berfungsi. Pemerintah daerah menyatakan fokus berikutnya adalah pencegahan dan rehabilitasi. Keduanya harus menjadi satu agenda kerja, bukan program yang berjalan terpisah.
Skala tantangan menuntut komitmen yang sebanding. Sumatera Selatan memiliki sekitar 2 juta hektare kawasan hidrologis gambut, sekitar 10 persen dari total kawasan gambut nasional. Dalam penanganan darurat, lebih dari 12.000 personel Satgas Karhutla dari berbagai unsur telah dikerahkan. Operasi Modifikasi Cuaca juga terus dilanjutkan dengan dua pesawat Hercules setiap hari selama masih ada potensi awan hujan. Pengerahan ini penting saat ancaman masih berlangsung, tetapi hasilnya perlu diteruskan dengan rehabilitasi dan pemantauan setelah keadaan darurat mereda. Tanpa kesinambungan tersebut, kerja besar di lapangan berisiko menjadi respons berulang terhadap masalah yang sama.
Tanaman lokal dapat menyatukan restorasi dan ekonomi
Inovasi bambu betung gambut dan jelutung lahan gambut menawarkan peluang untuk menghubungkan pemulihan vegetasi dengan manfaat bagi masyarakat. Penanaman kedua jenis tanaman itu didorong agar dapat dikembangkan lebih luas dalam pengelolaan gambut berkelanjutan. Bambu betung memiliki potensi sebagai bahan baku mebel, furnitur, dan kerajinan. Namun, peluang itu baru terasa bagi warga jika tersedia dukungan industri pengolahan yang mampu memberi nilai tambah pada hasil budidaya. Artinya, menanam saja belum cukup: pembinaan, akses pengolahan, dan jalur pemasaran perlu dirancang bersama masyarakat. Pendekatan ini lebih meyakinkan daripada menempatkan konservasi dan penghidupan sebagai dua kepentingan yang saling meniadakan.
Jelutung pun perlu dikembangkan sebagai bagian dari pemulihan ekosistem, bukan sekadar komoditas. Di lokasi yang dikunjungi, sekitar 30 spesies tanaman telah dikembangkan, termasuk jelutung, ramin, meranti rawa, punak, pulai, tembesu, gaharu, dan keranji. Kawasan tersebut pernah mengalami kebakaran berulang, tetapi restorasi dan penanaman kembali berbagai vegetasi telah menunjukkan pemulihan bertahap. Keragaman itu penting: keberhasilan tidak semestinya diukur hanya dari pertumbuhan satu jenis tanaman atau hasil jualnya. Bambu betung dapat membuka peluang produk, sedangkan jelutung dan spesies khas gambut lainnya mendukung pemulihan vegetasi yang lebih beragam. Keduanya dapat berjalan seiring bila pilihan tanaman disesuaikan dengan tujuan ekologis dan kebutuhan warga.

Komitmen harus tampak pada kemitraan dan hasil
Langkah berikutnya perlu menjadikan masyarakat mitra aktif, bukan hanya tenaga pelaksana penanaman. Herman Deru berharap tujuh kelompok atau kawasan ke depan dapat menjadi mitra aktif dan memperoleh pembinaan dari Badan Pengelola Gambut dan Mangrove. Target kemitraan ini layak diterjemahkan menjadi pendampingan yang konsisten, pemantauan tanaman, serta dukungan agar hasil budidaya dapat diolah. Pemerintah juga perlu menjaga agar dorongan ekonomi tidak menggeser tujuan restorasi atau mendorong pemilihan tanaman yang tidak sesuai dengan ekosistem. Ketika kawasan bekas kebakaran berulang mulai pulih, pengalaman tersebut dapat menjadi rujukan bagi daerah lain dengan karakter gambut serupa. Replikasi sebaiknya bertumpu pada pembelajaran lapangan, bukan sekadar menyalin daftar jenis tanaman.
Pemulihan gambut OKI akan lebih kuat bila penanganan darurat, rehabilitasi, dan pengembangan usaha lokal dirancang sebagai rangkaian yang saling menguatkan. Bambu betung memberi peluang bagi produk mebel dan kerajinan; jelutung serta tanaman khas gambut lain memperkaya upaya pemulihan vegetasi. Namun, keberlanjutan bergantung pada kesesuaian ekologis, pembinaan kelompok, dan industri pengolahan yang memberi nilai tambah tanpa mengorbankan fungsi lahan. Kesimpulannya, strategi jangka panjang tidak cukup dinilai dari berapa banyak pohon ditanam atau personel dikerahkan. Ukuran yang lebih berarti ialah apakah kebakaran berulang berkurang, ekosistem pulih, dan masyarakat memperoleh manfaat yang mendorong mereka menjaga gambut.






